INFO UPDATE

Perkembangan Penerapan Standar Akuntansi Internasional di Indonesia Bagian - I

Perkembangan standar akuntansi di Indonesia dapat dibagi ke dalam lima periode penting. Periode pertama adalah periode Pra-PAI sebelum tahun 1973 kemudian disusul dengan penyusunan PAI tahun 1973-1984. Periode ketiga yakni tahun 1984-1994 adalah adalah periode berlakunya PAI 1984. Periode ke empat adalah periode mulai dilakukannya harmonisasi SAK ke IAS yakni tahun 1994-2006 dimana SAK dikembangkan dengan melihat referensi IAS maupun standar-standar negara lain. Periode kelima adalah periode konvergensi IFRS yakni 2006-2012.

Masa Pra- PAI  

Sebelum 1973 Indonesia tidak mempunyai standar akuntansi keuangan yang baku dan terkodifikasi. Sebelum dikeluarkannya Undang Undang Penanaman Modal Asing pada tahun 1967 dan Undang Undang Penanaman Modal Dalam Negeri pada tahun 1968, penggunaan laporan keuangan oleh pihak diluar manajemen jarang sekali terjadi, kecuali untuk pelaporan fiskal. Audit tahunan lazimnya  hanya dilakukan atas laporan keuangan BUMN / BUMD dan perusahaan asing yang sangat sedikit jumlahnya. Dengan berlakunya kedua peraturan perundangan tentang penanaman modal tersebut mulai timbul kebutuhan laporan keuangan yang mampu menyajikan informasi keuangan yang relevan, andal, dapat dimengerti serta dapat diperbandingkan. Kebutuhan tersebut terutama sehubungan   dengan permohonan kredit investasi dari bank pemerintah dan usaha patungan dengan investor asing.

Pada waktu itu bukan saja standar akuntansi keuangan, tapi juga standar audit belum terkodifikasi, sehingga baik laporan keuangan maupun laporan audit menjadi tidak mengenal standar pelaporan dan sering kali sulit diperbandingkan. Meskipun opini auditor menyebutkan “laporan keuangan telah disajikan secara wajar berdasarkan prinsip akuntansi yang lazim berlaku”, sering kali timbul keraguan apa yang disebut sebagai “prinsip akuntansi yang lazim berlaku”. Disamping belum adanya standar yang tertulis, keraguan dan kerancuan juga disebabkan karena jumlah akuntan masih sangat sedikit, dan para praktisi yaitu tenaga akuntansi di perusahaan dan asisten auditor di kantor akuntan publik, pada umumnya adalah lulusan SMA dan terutama yang berijasah Bond A dan sebagian kecil Bond B. Untungnya pada masa itu keadaaan bisnis masih baru berkembang dan tidak sekompleks sekarang.

Lahirnya PAI 1974
Dalam rangka persiapan diaktifkannya pasar modal, maka atas bantuan dan dorongan Badan Persiapan Pasar Uang dan Pasar Modal (BAPEPUM) telah dibentuk Panitia Penghimpun Bahan-Bahan dan Struktur daripada Generally Accepted Accounting Principles dan Generally Accepted Auditing   Standards yang terdiri dari Dewan Penasehat dan Panitia Kerja. Dengan demikian diharapkan dapat secepatnya tersusun standar akuntansi dan standar audit. Sebagai hasil kerja Panitia Penghimpun tersebut maka lahirlah Prinsip Akuntansi Indonesia (PAI) dan Norma Pemeriksaan Akuntan (NPA). Kedua produk tersebut kemudian mendapat pengesahaan pada Kongres III IAI pada tanggal 2 Desember 1973, dan untuk pertama kali dibentuk Komite PAI dan Komite NPA untuk mengembangkan baik PAI maupun NPA.

PAI tersebut disusun dengan menggunakan buku Inventory of Generally Accepted Accounting Principles for Business Enterprises dari Paul Grady diterbitkan oleh A. I. C. P. A. sebagai sumber utama. Disamping itu sebagai bahan himpunan telah digunakan juga :

  • Buku Prinsip Prinsip Accounting yang diterbitkan oleh Direktorat Akuntan Negara, Direktorat Jenderal Pengawasan Keuangan Negara
  • Statement of the Accounting Principles Board, No. 4, diterbitkan oleh A. I. C. P. A
  • Opinions of the Accounting Principles Board, diterbitkan oleh A. I. C. P. A
  • Kumpulan dari Accounting Research Bulletin, diterbitkan oleh A. I. C. P. A
  • A Statement of Australian Accounting Principles, diterbitkan oleh Accounting and Auditing Research Committee dari Accountancy Research Foundation
  • Wet op de Jaarrekening van Ondernemingen, diterbitkan oleh NIVRA
  • dan beberapa literatur lainnya.
Dapat disimpulkan yakni pada tahun 1973 Indonesia memulai perkembangan standar akuntansi dengan dibentuknya suatu komite sementara yang dibentuk untuk mengumpulkan dan menyusun prinsip-prinsip akuntansi yang diterima umum di Indonesia. PAI kemudian menjadi suatu infrastruktur pelaporan untuk mendukung pasar modal yang baru berkembang di Indonesia sebagai upaya penting pemerintah untuk meningkatkan arus dana masuk ke Indonesia. Komite berpedoman pada karya Paul Grady dari AICPA di AS. Standar ini tidak berkembang hingga tahun 1984. Dari satu sisi hal ini dapat dimengerti karena jumlah perusahaan yang terdaftar di pasar modal kurang dari dua puluh lima. 
Masa Penerapan PAI 1984
Tonggak sejarah kedua terjadi pada tahun 1984. Pada masa itu, komite PAI melakukan revisi secara mendasar PAI 1973 dan kemudian menerbitkan Prinsip Akuntansi Indonesia 1984 (PAI 1984). Tujuan dari PAI 1984 ini adalah untuk menyesuaikan ketentuan akuntansi dengan perkembangan dunia usaha. Sejak tahun 1986, Komite PAI secara aktif melakukan revisi atas PAI 1984 dengan menerbitkan 7 (tujuh) Pernyataan PAI dan 9 (sembilan) Interpretasi PAI.

Masa Penerapan SAK
Selama tahun 1984-1994 telah terjadi berbagai fenomena penting dalam perekonomian dan bisnis nasional dan global antara lain :

  1. Perkembangan pasar modal di Indonesia yang sangat pesat. Jumlah perusahaan go public melonjak dari 24 pada awal tahun 1989 menjadi sekitar 160 pada September 1994.
  2. Disahkannya Undang-Undang Perbankan dan Undang-Undang Dana Pensiun
  3. Reformasi peraturan perundangan perpajakan Indonesia
  4. Timbulnya beberapa kasus bank krisis dan isu tentang kredit macet dan kredit bermasalah.
  5. Ditandatanganinya perjanjian baru GATT sebagai kelanjutan Uruguay Round
Dari beberapa fenomena tersebut, dapat disimpulkan bahwa dunia sedang memasuki era globalisasi dan Indonesia mulai masuk dalam perdagangan global tersebut. IAI secara tanggap telah memantau fenomena tersebut dengan melakukan serangkaian seminar, diskusi dan rapat untuk membuat Strategi Pengembangan IAI 1994 - 2000 dan salah satu kesimpulan yang diambil adalah PAI harus segera dikembangkan dengan mengacu pada International Accounting Standard.

Sejalan dengan hal tersebut, nama PAI telah diganti menjadi Standar Akuntansi Keuangan (SAK). Menjelang Kongres VII IAI, dan menyongsong HUT IAI ke 34 pada bulan Desember 1994, profesi akuntan di Indonesia telah memiliki Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan dan 35 Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan yang setaraf standar akuntansi internasional. Sejak tahun 1994, telah menjadi kebijakan dari Komite Standar Akuntansi Keuangan untuk menggunakan International Accounting Standards sebagai dasar untuk membangun standar-standar Indonesia. IAI kemudian melakukan revisi besar untuk menerapkan standar-standar akuntansi baru, yang kebanyakan konsisten dengan IAS. Namun masih terdapat beberapa standar akuntansi yang diadopsi dari US GAAP dan maupun dikembangkan sendiri sendiri.

Sejak tahun 1994 sampai tahun 2004, SAK telah direvisi lima kali yakni dengan terbitnya SAK versi 1 Oktober 1995, versi 1 Juni 1996, versi 1 April 2002, dan versi 1 Oktober 2004. Bersambung....
 
*Dikutip dari Majalah Akuntan

loading...

Posting Komentar

Terima Kasih buat Komentar yang diberikan.

 
Copyright © 2020 INFO AKUNTAN

Powered by Aditya Tarigan