Provisi, Liabilitas Kontinjensi dan Aset Kontinjensi


PSAK 57 Revisi 2009, Pernyataan ini bertujuan untuk mengatur pengakuan dan pengukuran provisi, liabilitas kontinjensi, dan aset kontinjensi serta untuk memastikan informasi memadai telah diungkapkan dalam catatan laporan keuangan. Dengan demikian, pengguna dapat memahami sifat, waktu, dan jumlah yang terkait dengan informasi tersebut.

Pernyataan ini diterapkan oleh semua entitas dalam akuntansi untuk provisi liabilitas kontinjensi, dan aset kontinjensi, kecuali yang timbul dari:

(a) kontrak eksekutori, kecuali jika kontrak tersebut bersifat memberatkan;
(b) hal-hal yang dicakup dalam PSAK lain.

Kontrak eksekutori adalah kontrak yang kedua belah pihak terkaitnya belum melaksanakan kewajiban kontrak atau telah melaksanakan sebagian kewajiban mereka dengan proporsi yang sama. Pernyataan ini tidak diterapkan pada kontrak eksekutori kecuali jika kontrak tersebut bersifat memberatkan.

Jika ada PSAK lain mengatur provisi, liabilitas kontinjensi, atau aset kontinjensi tertentu, maka entitas menerapkan PSAK tersebut. Contohnya beberapa jenis kontinjensi tertentu telah diatur dalam :

  1. Kontrak konstruksi (lihat PSAK 34: Akuntansi Kontrak Konstruksi); 
  2. Akuntansi pajak penghasilan (lihat PSAK 46: Akuntansi Pajak Penghasilan);
  3. Sewa (lihat PSAK 30 (revisi 2007): Sewa). Namun, karena dalam PSAK 30 (revisi 2007) tidak terdapat ketentuan yang secara spesifik berhubungan dengan sewa operasi yang memberatkan, maka Pernyataan ini diterapkan untuk kasus tersebut;
  4. Imbalan kerja (lihat PSAK 24 (revisi 2004): Imbalan Kerja); dan
  5. Kontrak asuransi (lihat PSAK 28: Akuntansi Asuransi Kerugian dan PSAK 36: Akuntansi Asuransi Jiwa). Namun, pernyataan ini diterapkan pada provisi, liabilitas kontinjensi, dan aset kontinjensi entitas asuransi, selain yang timbul akibat kewajiban kontraktual dan hak dari kontrak asuransi sesuai ruang lingkup PSAK 28 dan PSAK 36.

Pernyataan ini mendefinisikan provisi sebagai liabilitas yang waktu dan jumlahnya belum pasti. Istilah provisi juga digunakan dalam pos misalnya penyusutan, penurunan nilai aset, dan utang ragu-ragu: hal ini merupakan penyesuaian terhadap nilai tercatat atas aset dan tidak diatur dalam Pernyataan ini.

PSAK lain mengatur perlakuan untuk pengeluaran sebagai aset atau beban. Hal tersebut tidak diatur dalam Pernyataan ini. Dengan demikian, Pernyataan ini tidak melarang ataupun mewajibkan kapitalisasi biaya ketika provisi dibentuk. 

Pernyataan ini diterapkan untuk provisi dalam rangka restrukturisasi (termasuk operasi yang dihentikan). Jika suatu restrukturisasi memenuhi definisi operasi yang dihentikan, maka diperlukan pengungkapan tambahan seperti yang diatur dalam PSAK 58 (revisi 2009): Aset Tidak Lancar yang Dimiliki untuk Dijual dan Operasi yang Dihentikan.

Liabilitas kontinjensi adalah:

  • Kewajiban potensial yang timbul dari peristiwa masa lalu dan keberadaanya menjadi pasti dengan terjadi atau tidak terjadinya satu atau lebih peristiwa di masa depan yang tidak sepenuhnya berada dalam kendali entitas; atau 
  • Kewajiban kini yang timbul sebagai akibat peristiwa masa lalu, tetapi tidak diakui karena:
  1. Tidak terdapat kemungkinan entitas mengeluarkan sumber daya yang mengandung manfaat ekonomi (selanjutnya disebut sebagai “sumber daya”) untuk menyelesaikan kewajibannya; atau 
  2. Jumlah kewajiban tersebut tidak dapat diukur secara andal.


Provisi dan Liabilitas Lainnya

Provisi dapat dibedakan dari liabilitas lain, seperti utang dagang dan akrual, karena pada provisi terdapat ketidakpastian mengenai waktu atau jumlah yang dikeluarkan di masa depan untuk menyelesaikan provisi tersebut. Sebaliknya:

  1. Utang dagang adalah liabilitas untuk membayar barang atau jasa yang telah diterima atau dipasok dan telah ditagih melalui faktur atau secara formal sudah disepakati dengan pemasok; dan 
  2. Akrual adalah liabilitas membayar barang atau jasa yang telah diterima atau dipasok, tetapi belum dibayar, ditagih atau secara formal disepakati dengan pemasok, termasuk jumlah yang masih harus dibayar kepada pegawai (misalnya jumlah tunjangan cuti). Meskipun sering kali perlu dilakukan estimasi atau penaksiran jumlah dan waktu akrual, tingkat ketidakpastian akrual pada umumnya lebih rendah dari pada tingkat ketidakpastian provisi. Akrual sering dilaporkan sebagai bagian dari utang dagang atau utang lain, sedangkan provisi dilaporkan secara terpisah.

Hubungan antara Provisi dan Liabilitas Kontinjensi

Secara umum, semua provisi bersifat kontinjensi karena tidak pasti dalam jumlah atau waktu. Tetapi, dalam Pernyataan ini istilah “kontinjensi” digunakan untuk liabilitas dan aset yang tidak diakui karena keberadaanya baru dapat dipastikan dengan terjadi atau tidak terjadinya satu peristiwa atau lebih yang tidak pasti di masa depan dan tidak sepenuhnya berada dalam kendali entitas. Di samping itu, istilah “liabilitas kontinjensi” digunakan untuk liabilitas yang tidak memenuhi kriteria pengakuan.

Pernyataan ini membedakan berbagai istilah berikut:

  1. Provisi yang diakui sebagai liabilitas (dengan asumsi dapat dibuat estimasi andal) karena provisi tersebut merupakan kewajiban masa kini dan kemungkinan besar (probable) mengakibatkan arus keluar sumber daya yang mengandung manfaat ekonomi untuk menyelesaikan kewajiban tersebut; dan 
  2. Liabilitas kontinjensi yang tidak diakui sebagai liabillitas karena liabilitas kontinjensi tersebut merupakan salah satu dari berikut ini:
  • Kewajiban potensial karena belum pasti apakah entitas memiliki kewajiban kini yang akan menimbulkan arus keluar sumber daya yang mengandung manfaat ekonomi; atau 
  • Kewajiban kini yang tidak memenuhi kriteria pengakuan dalam Pernyataan ini (karena tidak besar kemungkinannya (not probable) bahwa penyelesaian kewajiban tersebut mengakibatkan arus keluar sumber daya atau yang mengandung manfaat ekonomi karena estimasi memadai yang andal mengenai jumlah kewajiban tidak dapat dibuat).

Pengakuan Provisi

Provisi diakui jika :

  1. Entitas memiliki kewajiban kini (baik bersifat hukum maupun bersifat konstruktif) sebagai akibat peristiwa masa lalu; 
  2. Kemungkinan besar penyelesaian kewajiban tersebut mengakibatkan arus keluar sumber daya yang mengandung manfaat ekonomis; dan
  3. Estimasi yang andal mengenai jumlah kewajiban tersebut dapat dibuat.

Jika kondisi di atas tidak terpenuhi, maka provisi tidak diakui.

Kewajiban Kini


Dalam peristiwa yang jarang terjadi, tidak dapat ditentukan secara jelas apakah terdapat kewajiban kini. Dalam hal ini, peristiwa masa lalu dianggap menimbulkan kewajiban kini jika, setelah mempertimbangkan semua bukti tersedia, terdapat kemungkinan lebih besar dari pada tidak terjadi bahwa kewajiban kini muncul pada akhir periode pelaporan.

Entitas menentukan apakah kewajiban kini telah ada pada akhir periode pelaporan dengan mempertimbangkan semua bukti yang tersedia, termasuk, misalnya, pendapat ahli. Bukti yang dipertimbangkan mencakup, antara lain, bukti tambahan yang diperoleh dari peristiwa setelah akhir periode pelaporan. Atas dasar bukti-bukti tersebut:

  • Jika besar kemungkinan bahwa kewajiban kini telah ada pada akhir periode pelaporan, maka entitas mengakui provisi (jika kriteria pengakuan provisi terpenuhi); dan 
  • Jika besar kemungkinan bahwa kewajiban kini belum ada pada akhir periode pelaporan, maka entitas mengungkapkan liabilitas kontinjensi. Pengungkapan tidak diperlukan jika arus keluar sumber daya yang mengandung manfaat ekonomi kemungkinannya kecil

Peristiwa Masa Lalu
Peristiwa masa lalu yang menimbulkan kewajiban kini disebut peristiwa mengikat. Dalam peristiwa mengikat, entitas tidak mempunyai alternatif realistis selain menyelesaikan kewajiban yang timbul dari peristiwa tersebut. Ini akan terjadi hanya jika:

  • Penyelesaian kewajiban dipaksakan oleh hukum; atau 
  • Dalam kasus kewajiban konstruktif, suatu peristiwa (mungkin berupa tindakan entitas) menciptakan ekspektasi yang valid pada pihak lain bahwa entitas akan bertanggung jawab terhadap kewajiban tersebut.

Provisi diakui hanya untuk kewajiban yang timbul dari peristiwa masa lalu, yang terpisah dari tindakan entitas di masa depan (yaitu tindakan bisnis entitas masa depan). Contoh kewajiban ini adalah denda atau biaya pemulihan pencemaran lingkungan, yang mengakibatkan arus keluar sumber daya yang mengandung manfaat ekonomi untuk menyelesaikan kewajiban itu tanpa mempertimbangkan tindakan entitas di masa depan.

Estimasi Kewajiban Yang Andal
Penggunaan estimasi merupakan bagian mendasar dalam penyusunan laporan keuangan dan tidak mengurangi keandalan laporan keuangan tersebut. Hal itu tampak jelas pada provisi karena sifatnya mengandung ketidakpastian yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan sebagian besar pos lainnya dalam laporan posisi keuangan (neraca). Kecuali dalam kasus yang sangat jarang terjadi, entitas akan mampu menetapkan suatu kisaran hasil yang mungkin (a range of possible outcomes), sehingga entitas dapat membuat estimasi kewajiban yang cukup andal untuk menjadi dasar pengakuan provisi.

Dalam kasus yang sangat jarang terjadi, ketika estimasi yang andal tidak dapat dibuat, liabilitas yang ada tidak dapat diakui. Liabilitas tersebut diungkapkan sebagai liabilitas kontinjensi.

Liabilitas Kontijensi
Entitas tidak diperkenankan mengakui liabilitas kontinjensi. Liabilitas kontijensi diungkapkan jika kemungkinan arus keluar dalam penyelesaian adalah kecil, entitas mengungkapkan untuk setiap jenis liabilitas kontinjensi pada akhir periode pelaporan, uraian ringkas mengenai karakteristik liabilitas kontinjensi dan, jika praktis :

  1. Estimasi dari dampak keuangannya yang diukur; 
  2. Indikasi tentang ketidakpastian yang terkait dengan jumlah atau waktu arus keluar sumber daya; dan
  3. Kemungkinan penggantian oleh pihak ketiga.

Jika entitas bertanggung jawab secara masing-masing dan bersama dengan pihak lainnya (tanggung renteng) atas suatu kewajiban, maka bagian kewajiban yang diharapkan akan dipenuhi oleh pihak-pihak lain diperlakukan sebagai liabilitas kontinjensi. Entitas mengakui provisi untuk bagian dari kewajiban yang arus keluar sumber daya yang mengandung manfaat ekonomi berkemungkinan besar, kecuali dalam keadaan sangat jarang, ketika estimasi andal tidak dapat dibuat.

Aset Kontijensi
Entitas tidak diperkenankan mengakui aset kontijensi. Aset kontinjensi biasanya timbul dari peristiwa tidak terencana atau tidak diharapkan yang menimbulkan kemungkinan arus masuk manfaat ekonomi untuk entitas. Misalnya, klaim yang sedang diusahakan entitas melalui proses hukum yang hasilnya belum pasti.

Aset kontinjensi tidak diakui dalam laporan keuangan karena dapat menimbulkan pengakuan penghasilan yang mungkin tidak pernah terealisasikan. Akan tetapi, jika realisasi penghasilan sudah dapat dipastikan, maka aset tersebut bukan merupakan aset kontinjensi, melainkan diakui sebagai aset.

PENGUKURAN
 


Estimasi Terbaik
Jumlah yang diakui sebagai provisi adalah hasil estimasi terbaik pengeluaran yang diperlukan untuk menyelesaikan kewajiban kini pada akhir periode pelaporan.

Estimasi terbaik pengeluaran yang diperlukan untuk menyelesaikan kewajiban kini adalah jumlah yang secara rasional akan dibayar entitas untuk menyelesaikan kewajibannya pada akhir periode pelaporan atau untuk mengalihkan kewajibannya kepada pihak ketiga pada saat itu.

Sering kali tidak mungkin dan tidak ekonomis bagi entitas untuk menyelesaikan kewajiban atau mengalihkan kewajibannya pada akhir periode pelaporan. Namun, estimasi jumlah yang secara rasional akan dibayar entitas untuk menyelesaikan kewajiban atau untuk mengalihkan kewajibannya, merupakan estimasi terbaik atas pengeluaran yang dibutuhkan untuk menyelesaikan kewajiban kini pada akhir periode pelaporan.

Ketidakpastian dari jumlah yang akan diakui sebagai provisi dapat dinilai dengan berbagai cara sesuai dengan kondisi yang ada. Jika provisi yang sedang diukur menyangkut populasi yang terdiri dari sejumlah besar unsur, maka kewajiban ditentukan dengan menimbang berbagai kemungkinan hasil berdasarkan probabilitas terkait. Metode estimasi statistik ini dikenal sebagai metode “nilai yang diharapkan” (expected value).



Provisi akan berbeda karena bergantung pada kemungkinan terjadinya kerugian pada tingkat tertentu, misalnya 60% atau 90%. Jika hasil yang timbul adalah suatu rentang hasil yang berkesinambungan, dan setiap titik dalam rentang tersebut mempunyai kemungkinan terjadi yang sama, maka yang digunakan adalah nilai tengah rentang tersebut.

Risiko dan Ketidakpastian
Dalam menentukan estimasi terbaik suatu provisi, entitas mempertimbangkan berbagai risiko dan ketidakpastian yang selalu mempengaruhi berbagai peristiwa dan keadaan. Risiko menimbulkan hasil yang bervariasi. Penetapan risiko dapat menyebabkan kenaikan nilai liabilitas yang diukur. Jika terdapat unsur ketidakpastian, maka entitas berhati-hati sehingga pendapatan atau aset tidak menjadi terlalu besar dan beban atau liabilitas tidak menjadi terlalu kecil. Meski demikian, adanya ketidakpastian tidak berarti entitas membuat provisi berlebihan atau dengan sengaja menyajikan liabilitas terlalu besar.

Perubahan Provisi
Provisi ditelaah pada setiap akhir periode pelaporan dan disesuaikan untuk mencerminkan estimasi terbaik yang paling kini. Jika arus keluar sumber daya untuk menyelesaikan kewajiban kemungkinan besar tidak terjadi, maka provisi dibatalkan.

Jika provisi di diskonto, maka nilai tercatatnya akan meningkat pada setiap periode untuk mencerminkan berlalunya waktu. Peningkatan ini diakui sebagai biaya pinjaman.

Provisi hanya dapat digunakan untuk pengeluaran yang berhubungan langsung dengan tujuan pembentukan provisi. Hanya pengeluaran yang berhubungan langsung dengan tujuan pembentukan provisi awal yang dapat mengurangi provisi. Membebankan pengeluaran untuk mengurangi provisi yang semula diakui untuk tujuan lain akan menghilangkan pengaruh dari dua peristiwa yang berbeda.

Provisi tidak boleh diakui untuk kerugian operasi masa depan. Kerugian operasi masa depan tidak memenuhi liabilitas dan kriteria umum pengakuan umum bagi provisi.

Kontrak Memberatkan
Jika entitas terikat dalam suatu kontrak memberatkan, maka kewajiban kini menurut kontrak tersebut diukur dan diakui sebagai provisi.

Pernyataan ini mendefinisikan kontrak memberatkan sebagai kontrak yang menimbulkan biaya yang tidak dapat dihindarkan dalam memenuhi kewajiban menurut kontrak dan biaya tersebut melebihi manfaat ekonomi yang diperkirakan akan diterima. 

Biaya yang tidak dapat dihindarkan dalam kontrak mencerminkan biaya neto terendah untuk terbebas dari ikatan kontrak, yaitu mana yang lebih rendah antara biaya memenuhi kontrak dengan denda atau kompensasi yang dibayar jika entitas tidak memenuhi kontrak.

Restrukturisasi
Berikut adalah contoh peristiwa yang dapat digolongkan sebagai restrukturisasi:

  • Penjualan atau penghentian suatu lini usaha; 
  • Penutupan lokasi usaha dalam suatu negara atau regional, atau relokasi kegiatan usah ke negara atau kawasan regional lain;
  • Perubahan dalam struktur manajemen, misalnya menghilangkan satu lapis manajemen; dan
  • Reorganisasi mendasar yang memiliki dampak signifikan terhadap karakteristik dan fokus operasi entitas.

Provisi untuk biaya restrukturisasi diakui hanya jika kriteria pengakuan umum yang berlaku bagi provisi terpenuhi.

Kewajiban konstruktif untuk melakukan restrukturisasi muncul hanya jika persyaratan berikut dipenuhi;

  1. Entitas memiliki rencana formal yang rinci untuk restrukturisasi dengan mengidentifikasiakan, sekurang-kurangnya:
  • Usaha atau bagian usaha yang terlibat; 
  • Lokasi utama yang terpengaruh;
  • Lokasi, fungsi, an perkiraan jumlah pegawai yang akan menerima kompensasi karena pemutusan hubungan kerja;
  • Pengeluaran yang akan terjadi; dan
  • Waktu implementasi rencana tersebut; dan
  • Entitas menciptakan ekspektasi yang valid kepada pihak-pihakmyang terkena dampak restrukturisasi bahwa entitas akan melaksanakan restrukturisasi dengan memulai implementasi rencana tersebut atu mengumumkan pokok-pokok rencana.

Bukti bahwa entitas telah mulai mengimplemantasikan rencana restrukturisasi akan tampak, antara lain, dengan menghentikan operasi pabrik atau menjual asset atau mengumumkan kepada masyarakat tentang pokok-pokok rencana restrukturisasi. Pengumuman mengenai rencana yang terperinci tentang restrukturisasi tersebut merupakan kewajiban konstruktif untuk melakukan restrukturisasi hanya jika rencana itu dibuat sedemikian rupa dan dengan perincian yang memadai (yaitu menjelaskan pokok-pokok rencana) sehingga menciptakan ekspektasi yang valid di pihak lain-lain seperti pelanggan, pemasok, dan pegawai (atau wakilnya) bahwa entitas akan melaksanakan restrukturisasi.

Keputusan entitas untuk melakukan restrukturisasi yang diambil sebelum akhir periode pelaporan tidak menimbulkan kewajiban konstruktif pada akhir periode pelaporan, kecuali sebelum akhir periode pelaporan entitas telah:

  • Mulai mengimplementasikan rencana restrukturisasi; atau 
  • Mengumumkan pokok-pokok rencana restrukturisasi kepada pihak yang terkena dampak rencana tersebut secara spesifik sedemikian rupa sehingga menimbulkan ekspektasi yang valid pada pihak tersebut bahwa entitas akan melaksanakan restrukturisasi.

Provisi restrukturisasi hanya mencakup pengeluaran langsung yang timbul dari restrukturisasi, yaitu memenuhi kedua persyaratan berikut ini;
a) Benar-benar harus dikeluarkan dalam rangka restrukturisasi; dan
b) Tidak terkait dengan aktivitas entitas yang masih berlangsung.

Provisi restrukturisasi tidak mencakup biaya-biaya seperti:
a) Pelatihan atau penempatan kembali (relokasi) staf yang masih tetap dikaryakan;
b) Pemasaran; atau
c) Investasi dalam system dan jaringan distribusi baru

Pengungkapan
Untuk setiap jenis provisi, entitas mengungkapkan:

  1. Nilai tercatat pada awal dan akhir periode; 
  2. Provisi tambahan yang dibuat dalam periode bersangkutan, termasuk peningkatan jumlah provisi yang ada;
  3. Jumlah yangdigunakan, yaitu jumlah yang terjadi dan dibebankan pada provisi selama periode bersangkutan;
  4. Jumlah yang belum digunakan yang dibatalkan selama periode bersangkutan; dan
  5. Peningkatan, selama periode yang bersangkutan, dalam nilai kini yang timbul karena berlalunya waktu dan dampak dari setiap perubahan tingkat diskonto.

Informasi komparatif tidak disyarat
Untuk setiap jenis provisi, entitas mengungkapkan:

  1. Uraian singkat mengenai karakteristik kewajiban dan perkiraan saat arus keluar sumber daya ekonomi terjadi; 
  2. Indikasi mengenai ketidakpastian saat atau jumlah arus keluar tersebut. Jika diperlukan dalam rangka menyediakan informasi yang memadai, maka entitas mengungkapkan asumsi utama yang mendasari prakiraan peristiwa masa depan; dan
  3. Jumlah esrimasi penggantian yang akan diterima dengan menyebutkan jumlah aset yang telah diakui untuk estimasi penggantian tersebut.
Kecuali kemungkinan arus keluar dalam penyelesaian adalah kecil, entitas mengungkapkan untuk setiap jenis liabilitas kontinjensi pada akhir periode pelaporan, uraian ingkas mengenai karakteristik liabilitas kontinjensi dan, jika praktis:
  • Estimasi dari dampak keuangannya 
  • Indikasi tentang ketidakpastian yang terkait dengan jumlah atau waktu arus keluar sumber daya; dan
  • Kemungkinan penggantian oleh pihak ketiga.

Berlangganan sekarang, untuk mendapatkan artikel terbaru tentang Ilmu Akuntansi, Audit, dan Perpajakan Gratis! :

2 Komentar Untuk "Provisi, Liabilitas Kontinjensi dan Aset Kontinjensi"

  1. Wah mata saya sampai sakit bacanya, gila keren dah akhirnya dapat juga. Terimakasih

    BalasHapus

Terima Kasih buat Komentar yang diberikan.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

loading...

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel