Revaluasi Aset Tetap Bagian 2

PENENTUAN DASAR PERHITUNGAN PENYUSUTAN SETELAH REVALUASI 

• PSAK 16 para.35 menjelaskan bahwa jika aset tetap direvaluasi, maka AKUMULASI PENYUSUTAN pada tanggal revaluasi diperlakukan dengan salah satu cara berikut ini : 
a)  disajikan kembali secara proporsional dengan perubahan dalam jumlah tercatat bruto aset  sehingga  jumlah  tercatat  aset setelah  revaluasi  sama  dengan jumlah revaluasiannya (metode PROPORSIONAL) 


b)  dieliminasi  terhadap  jumlah  tercatat  bruto  aset  dan  jumlah  tercatat  neto  setelah eliminasi  disajikan  kembali  sebesar  jumlah  revaluasian  dari  aset  tersebut (metode ELIMINASI) 

• PERPAJAKAN mengatur mengenai ketentuan penyusutan fiskal sebagai berikut : 

a)  dasar penyusutan fiskal aktiva tetap adalah nilai pada saat penilaian kembali aktiva tetap
b)  masa manfaat fiskal aktiva tetap disesuaikan  kembali  menjadi  masa  manfaat  penuh untuk kelompok aktiva tetap tersebut; dan 
c)   penghitungan penyusutan dimulai sejak tanggal 1 Januari 2016 (sesuai PMK 191/2015) 

(PERMASALAHAN : PSAK 16 mengatur bahwa masa manfaat dari aset tetap yang direvaluasi  akan  melanjutkan  masa  manfaat  awal  yang  tersisa,  misalnya masa manfaat aset tetap mesin sebelum direvaluasi diestimasi 5 tahun, pada awal tahun ke-3 dilakukan revaluasi, maka masa  manfaat dari aset tetap hasil revaluasi adalah 3 tahun. Sedangkan perpajakan mengatur bahwa dengan adanya revaluasi maka aktiva tetap hasil revaluasi tersebut diperlakukan menjadi seakan-akan baru sehingga masa manfaatnya dipulihkan). 

Lihat lebih lanjut Contoh Kasus di artikel Revaluasi Aset Tetap Bagian 3

Q : Apakah boleh pilih-pilih Aset Tetap mana saja yang akan di-REVALUASI ? 

• PSAK 16 para.36 menjelaskan bahwa jika  suatu aset tetap direvaluasi, maka seluruh aset tetap dalam KELOMPOK yang sama direvaluasi. 

• Suatu kelompok aset tetap adalah pengelompokkan aset-aset yang memiliki sifat dan kegunaan yang serupa dalam operasi entitas (para.37) 

• Aset-aset dalam suatu kelompok aset tetap  direvaluasi secara bersama untuk menghindari revaluasi  aset  secara  selektif  dan  bercampurnya  biaya  perolehan  dan nilai  lain  pada tanggal berbeda. 

• Berkaitan  dengan  laporan  konsolidasian,  penentuan  kelompok  aset  tetap  yang  akan direvaluasi  harus  dilakukan  pada  level  konsolidasi,  tidak  bisa  hanya  dilakukan  dalam laporan keuangan entitas induk saja. 

• PERPAJAKAN mengatur bahwa penilaian  kembali aktiva tetap dapat dilakukan terhadap sebagian atau seluruh aktiva tetap berwujud yang terletak atau berada di Indonesia 

(ILUSTRASI : Sesuai PSAK 16, jika Perusahaan  memiliki 10 unit bangunan dan Perusahaan memilih untuk melakukan revaluasi bangunan maka 10 unit bangunan tersebut harus direvaluasi semuanya, sedangkan perpajakan memperbolehkan misalnya hanya dilakukan revaluasi untuk 3 unit bangunan saja). 

MEKANISME PENCATATAN SELISIH REVALUASI 

• Jika jumlah tercatat aset MENINGKAT akibat revaluasi, maka kenaikan tersebut diakui dalam PENGHASILAN KOMPREHENSIF LAIN dan terakumulasi dalam EKUITAS pada bagian SURPLUS REVALUASI. Namun, kenaikan tersebut diakui dalam laba rugi hingga sebesar jumlah penurunan nilai aset yang sama akibat revaluasi yang pernah diakui sebelumnya dalam laba rugi (PSAK 16 para.39) 

• Jika jumlah tercatat aset TURUN akibat revaluasi, maka penurunan tersebut diakui dalam LABA RUGI. Namun, penurunan nilai tersebut diakui dalam penghasilan komprehensif lain sepanjang tidak melebihi saldo surplus revaluasi untuk aset tersebut. Penurunan nilai yang diakui dalam penghasilan komprehensif lain tersebut mengurangi jumlah akumulasi dalam ekuitas pada bagian surplus revaluasi (PSAK 16 para.40) 

BINGUNG?! 

Lihat Contoh Kasus di Artikel Revluasi Aset Tetap Bagian 3

• Surplus revaluasi aset tetap yang termasuk  dalam ekuitas dapat dipindahkan langsung ke saldo laba ketika aset tersebut dihentikan pengakuannya. Hal ini meliputi pemindahan sekaligus surplus revaluasi ketika penghentian atau pelepasan aset tersebut. Namun, sebagian surplus revaluasi tersebut dapat dipindahkan sejalan dengan penggunaan aset oleh entitas. Dalam hal ini, surplus revaluasi yang dipindahkan ke saldo laba adalah sebesar perbedaan antara jumlah penyusutan berdasarkan nilai revaluasian aset dan jumlah penyusutan berdasarkan biaya pero ehan awalnya. Pemindahan surplus revaluasi ke saldo laba tidak dilakukan melalui laba rugi (PSAK 16 para.41). 

PENGUNGKAPAN 

• Paragraf 77 PSAK 16 (Penyesuaian 2014)  menjelaskan bahwa jika aset tetap disajikan pada  jumlah  revaluasian,  hal  berikut  diungkapkan  sebagai  tambahan  pengungkapan yang disyaratkan oleh PSAK 68 : Pengukuran Nilai Wajar : 

a)  tanggal efektif revaluasi; 
b)  apakah melibatkan penilai independen; 
c)  untuk setiap kelas aset tetap yang direvaluasi, jumlah tercatat aset seandainya aset tersebut dicatat dengan model biaya; dan 
d)  surplus  revaluasi,  yang  mengindikasikan  perubahan  selama  periode  dan setiap pembatasan distribusi kepada pemegang saham (Catatan : penilai independen yang dilibatkan  dalam proses revaluasi aset tetap biasanya adalah  Kantor  Jasa  Penilai  Publik (KJPP). PMK  No.191/2015  mensyaratkan  revaluasi aktiva tetap harus dilakukan oleh kantor jasa penilai publik atau ahli penilai yang telah memperoleh izin dari pemerintah) 

• PSAK 68 tentang Pengukuran Nilai Wajar pada para.61 menjelaskan bahwa  entitas menggunakan  teknik  penilaian  yang  sesuai dalam keadaan dan dimana data yang memadai tersedia untuk mengukur nilai wajar, memaksimalkan penggunaan input yang dapat diobservasi yang relevan dan meminimalkan penggunaan input yang tidak dapat diobservasi. Contoh pasar dimana input dapat diobservasi adalah pasar bursa misalnya Bursa Efek Indonesia, pasar pialang, pasar dealer dan pasar antar principal. 

• Tujuan penggunaan teknik penilaian adalah  untuk mengestimasi harga dimana transaksi teratur untuk menjual aset atau mengalihkan liabilitas akan terjadi antara pelaku pasar pada  tanggal  pengukuran  dalam  kondisi pasar  saat  ini.  Tiga  teknik  penilaian  yang digunakan secara luas adalah pendekatan pasar, pendekatan biaya (cost approach) dan pendekatan penghasilan. 

• PENDEKATAN PASAR (market approach)  adalah teknik penilaian yang menggunakan harga dan informasi relevan lain yang dihasilkan oleh transaksi pasar yang melibatkan aset, liabilitas atau sekelompok aset atau liabilitas (seperti suatu bisnis) yang identik atau sebanding (yaitu serupa) (teknik penilaian dengan cara membandingkan aset yang dinilai dengan  aset  yang  identik  atau  sebanding  dengan  informasi  harga  transaksi  atau penawaran di pasar) 

• PENDEKATAN  PENGHASILAN  (income  approach)  adalah  teknik  penilaian  yang mengkonversikan jumlah masa depan (contohnya arus kas atau penghasilan dan beban) ke suatu jumlah tunggal kini (yaitu didiskontokan). Pengukuran nilai wajar ditentukan berdasarkan nilai yang diindikasikan oleh harapan pasar saat ini mengenai jumlah masa depan  tersebut  (teknik  penilaian  dengan mempertimbangkan  pendapatan  yang  akan dihasilkan  aset  selama  masa  manfaatnya  dan  menghitung  nilai  kini  dengan menggunakan tingkat diskonto yang sesuai) 

• PENDEKATAN  BIAYA  (cost  approach)  adalah  teknik  penilaian  yang  mencerminkan jumlah yang akan dibutuhkan saat ini untuk menggantikan kapasitas manfaat aset (biaya pengganti/replacement  cost) (teknik  penilaian  dengan  dasar  prinsip ekonomi  yaitu pembeli tidak akan membayar suatu aset lebih dari biaya untuk memperoleh aset identik) 

• PSAK 68 menetapkan hirarki nilai wajar yang mengkategorikan dalam tiga level input untuk teknik penilaian yang digunakan dalam pengukuran nilai wajar yaitu : 

1)  Input Level 1 adalah harga kuotasian (tanpa penyesuaian) di pasar aktif untuk aset atau 
liabilitas yang identik yang dapat diakses entitas pada tanggal pengukuran

2)  Input Level 2 adalah input selain harga kuotasian yang termasuk dalam Level 1 yang dapat  diobservasi  untuk  aset  atau  liabilitas,  baik  secara  langsung  ataupun tidak langsung (misalnya suku bunga pasar, harga di pasar retail/grosir,  harga per meter persegi bangunan yang diperoleh dari data pasar)

3)  Input  Level  3 adalah  input  yang  tidak  dapat  diobservasi  untuk  aset  atau liabilitas (misalnya estimasi nilai kini dengan menggunakan data milik entitas sendiri berupa perkiraan keuangan seperti arus kas atau laba rugi) 

Hirarki  nilai  wajar  memberikan  prioritas  tertinggi  kepada  harga  kuotasian  (tanpa penyesuaian) di pasar aktif untuk aset atau liabilitas yang identik (input Level 1) karena menyediakan bukti yang paling andal dari nilai wajar serta prioritas terendah untuk input yang tidak dapat diobservasi (input Level 3). 

TAMBAHAN 

• Dampak atas pajak penghasilan, jika ada, yang dihasilkan dari revaluasi aset tetap diakui dan diungkapkan sesuai dengan PSAK 46 : Pajak Penghasilan (PSAK 16 para.42) 

• Jika entitas mengubah KEBIJAKAN AKUNTANSI dari model biaya ke model revaluasi dalam pengukuran aset tetap, maka perubahan tersebut berlaku secara PROSPEKTIF (PSAK 16 para.42a) 

Jika  Perusahaan  telah  memilih  untuk  menggunakan  model REVALUASI, maka TIDAK BISA LAGI kembali ke model BIAYA (historical  cost).  Alasannya  karena  informasi  fair value  dalam model  revaluasi  lebih  relevan  dibandingkan  dengan  informasi historical cost dalam model biaya.

Untuk pembahasan selanjutnya di Revaluasi Aset Tetap Bagian 3


Berlangganan sekarang, untuk mendapatkan artikel terbaru tentang Ilmu Akuntansi, Audit, dan Perpajakan Gratis! :

0 Komentar Untuk "Revaluasi Aset Tetap Bagian 2"

Posting Komentar

Terima Kasih buat Komentar yang diberikan.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

loading...

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel