INFO UPDATE

Cara Hitung PPh untuk Karyawan, Profesional, Pengusaha Dan Investor

Bagaimana menghitung pajak penghasilan untuk Karyawan, Profesional, Pengusaha dan Investor? Kali ini Saya akan membahas mengenai pajak penghasilan untuk karyawan, profesional, pengusaha dan investor.


Pajak Penghasilan

Sebagaimana kita ketahui begitu banyaknya jenis pekerjaan di dalam kehidupan sehari-hari ini. Banyak yang bekerja sebagai karyawan negeri maupun swasta, ada juga yang bekerja sebagai profesional seperti dokter, notaris, petugas dinas asuransi dan lainnya. Selain itu ada juga yang memilih untuk menjadi pengusaha baik yang memulai usahanya dari kecil maupun meneruskan usaha dari orangtuanya. Apapun jenis pekerjaan yang dimiliki seseorang namun mereka tetap berkewajiban untuk membayar pajak atas penghasilannya.

Lalu diantara karyawan, pengusaha, profesional maupun investor siapa yang memiliki pajak penghasilan paling besar? Jika ingin membandingkan pekerjaan mana yang membayar pajak penghasilan paling besar tentu saja sulit, dikarenakan pembanding dirasa tidak sepadan. Besarnya pajak penghasilan atas suatu pekerjaan itu berbeda-beda tergantung dari apa pekerjaannya, berapa besarnya penghasilan yang didapat maupun bonus dan lain sebagainya atau pun tanggungan yang dimiliki oleh masing-masing dari orang tersebut.

Mari bahas sedikit mengenai besarnya pajak penghasilan antara karyawan, pengusaha (belum pkp) dan profesional namun dengan kriteria dan pembanding yang sama.

Contoh:

Pria sudah menikah, memiliki istri yang hanya menjadi Ibu Rumah Tangga dan memiliki 2 orang anak yang masih duduk di Sekolah Dasar.

Penghasilan bruto yang dimiliki adalah Rp240 juta per tahun atau Rp20 juta per bulan baik bagi karyawan (diasumsikan pegawai swasta), pengusaha (diasumsikan memiliki usaha kecil yaitu dagang mainan anak-anak dan non pkp) maupun profesional (diasumsikan bekerja sebagai arsitek).

Untuk karyawan diasumsikan tidak memiliki THR maupun Bonus apapun, hanya memiliki penghasilan dari gaji saja.

PTKP untuk K/2 = Rp67.500.000

Dari asumsi diatas, mari kita hitung pajak penghasilan atas pekerjaan yang mana yang paling besar jika masing-masing dari mereka memiliki penghasilan dan tanggungan yang sama.

#1 Karyawan Swasta

Penghasilan setahun = Rp20.000.00 x 12 bulan = Rp240.000.000
Biaya Jabatan = (5% x Rp240.000.000) = Rp6.000.000 (batas paling besar biaya jabatan)
Penghasilan Netto = Rp240.000.000 – Rp6.000.000 = Rp234.000.000

PTKP (istri tidak bekerja dan 2 anak) = Rp67.500.000
Penghasilan untuk perhitungan pajak = Rp234.000.000 – Rp67.500.000 = Rp166.500.000

PPh pasal 21:

= Rp50.000.000 x 5% + (Rp166.500.000 – Rp50.000.000) x 15%
= Rp2.500.000 + Rp17.475.000
= Rp19.975.000 per tahun atau Rp1.664.000 per bulan

Pajak penghasilan atas pekerjaan sebagai karyawan dengan penghasilan Rp240 juta setahun serta memiliki istri tidak bekerja dan memiliki tanggungan 2 anak adalah sebesar Rp19.975.000 per tahun atau Rp1.664.000 per bulan. Biasanya pajak tersebut sudah dipotong oleh perusahaan dengan bukti diberikannya A-1/A-2. 

Pada kasus seperti ini, di akhir tahun pelaporan, jika karyawan tersebut hanya mendapatkan penghasilan dari tempat kerjanya saja dan tidak memiliki penghasilan lainnya, maka pada SPT Tahunan karyawan ini adalah nihil (tidak usah membayar PPh lagi, karena sudah dibayarkan setiap bulannya oleh perusahaan, biasanya dipotong dari gaji).

#2 Pengusaha (Usaha Jual Mainan Anak-anak)

Bulan         Peredaran Bruto (Rp)     PPh Terutang (Rp)

Januari       20.000.000                    200.000
Februari     20.000.000                    200.000
Maret         20.000.000                    200.000
April           20.000.000                    200.000
Mei            20.000.000                    200.000
Juni           20.000.000                    200.000
Juli            20.000.000                    200.000
Agustus     20.000.000                   200.000
September 20.000.000                  200.000
Oktober     20.000.000                   200.000
November 20.000.000                   200.000
Desember 20.000.000                   200.000
TOTAL       240.000.000             2.400.000

Pajak atas penghasilan sebagai pengusaha (non pkp) maka Rp2.400.000 per tahun atau bisa dibilang pengusaha yang usahanya belum PKP itu membayar pajak dengan tarif PPh final 1% setiap bulannya dari peredaran bruto usahanya tersebut.

#3 Profesional (Arsitek)

Perhitungan pajak penghasilan untuk pekerjaan sebagai profesional (pekerjaan bebas) dilakukan berdasarkan norma yang sudah ditetapkan. Sebagai contoh adalah arsitek yang memakai norma dengan tarif 47%.

Penghasilan Bruto = Rp240.000.000
Tarif norma = 47%
Penghasilan Netto = Rp240.000.000 X 47% = Rp112.800.000
PTKP (K/2) = Rp67.500.000
Penghasilan Kena Pajak (PKP) = Rp112.800.000 – Rp67.500.000 = Rp45.300.000
PPh Terutang = Rp45.300.000 X 5% = Rp2.265.000

Jika ada angsuran PPh 25 tiap bulannya (dari masa pajak sebelumnya) menjadi pengurang untuk PPh terutang. Pajak yang harus dibayar oleh arsitek ini adalah sebesar Rp2.265.000 di bulan Maret, pada saat mau pelaporan SPT Tahunan. Untuk angsuran PPh 25 per bulannya adalah sebesar Rp188.750 (didapat dari Rp2.265.000 dibagi 12 bulan), dibayarkan sejak masa SPT Tahunan.

#4 Investor

Mari sedikit kita membahas mengenai besarnya pajak penghasilan bagi investor. Kita ambil contoh Investor Saham. Keuntungan dari investasi saham itu tidak dikenakan pajak, dikarenakan penghasilan dari investasi saham itu bukan merupakan penghasilan melainkan hasil investasi.

Jika awal mula seorang investor menyetorkan jumlah uang Rp200 juta untuk investasi dan diakhir tahun nilai akhir investasinya sebesar Rp225 juta maka keuntungannya sebesar Rp25 juta itu bukan merupakan penghasilan, namun kita masukan saja saham akhir tahun yang kita miliki sebagai aset kita di SPT Tahunan yang kita laporkan.

Sebagai seorang investor saham (pada perusahaan) kita dianggap sebagai pemilik dari perusahaan (yang kita beli sahamnya), sehingga ketika mendapatkan penghasilan atas kenaikan sahamnya itu kita sudah mendapatkannya secara bersih (nett) dan sudah dipotong pajak oleh perusahaan sehingga kita sudah tidak perlu membayar pajak lagi.

Namun dari itu, sebagai investor saham kita dikenakan 2 pajak tambahan sekaligus diluar PPh (yang sudah dibayarkan perusahaan) yaitu pajak penjualan dan pajak atas dividen.

Kenali Data PTKP (Penghasilan Tidak Kena Pajak) dan Tarif Pajak Penghasilan Perorangan

Setelah Anda mengetahui formulir yang tepat, kenali juga besaran PTKP dan iuran pajak PPH21. Berikut ini penjelasannya :

PTKP ( Penghasilan Tidak Kena Pajak)
Besarnya tanggungan = Rp 4.500.000 per bulan.

PTKP Pria / Wanita Lajang

TK/O 54.000.000
TK/1 58.500.000
TK/2 63.000.000
TK/3 67.500.000

Keterangan :

TK = tidak kawin
TK/0 = tidak kawin dan tidak ada tanggungan.
TK/1 = tidak kawin dan punya satu tanggungan.

PTKP Pria Menikah

K/O 58.500.000
K/1 63.000.000
K/2 67.500.000
K/3 72.000.000

Keterangan :

K = kawin
K/0 = kawin dan belum punya anak.
K/1 = kawin dan punya satu anak.

PTKP Suami Istri Digabung

K/I/O   112.500.000
K/I/1    117.000.000
K/I/2    121.500.000
K/I/3    126.000.000

Keterangan :

K/I/0 = kawin, suami dan istri berpenghasilan dan belum punya anak.
K/I/1 = kawin, suami dan istri berpenghasilan dan belum punya satu anak.

Jika seseorang memiliki penghasilan per tahun lebih kecil atau sama dengan PTKP maka orang tersebut tidak dikenakan pajak (PPh 21) namun harus memperhatikan gaji ke 13 (THR) yang memungkinkan karyawan tersebut membayar pajak (PPh 21).

Setiap orang yang memiliki NPWP Wajib membuat laporan SPT Tahunan. Dan Wajib membayar pajak sesuai dengan perhitungan.
 
Copyright © 2020 INFO AKUNTAN

Powered by Aditya Tarigan