INFO UPDATE

Akuntansi Tentang Pajak Penghasilan Menurut PSAK 46 Revisi 2010 - Bagian II

Perbedaan temporer adalah perbedaan yang terjadi karena waktu pengakuan sehingga secara total nilai beban atau pendapatan sama namun waktu pengakuannya berbeda. Perbedaan temporer akan menyebabkan jumlah tercatat aset atau liablitas dalam laporan posisi keuangan berbeda dengan dasar pengenaan pajaknya. Misalnya perbedaan masa manfaat aset tetap antara ketentuan perpajakan dan kebijakan entitas dalam melakukan penyusutan. 

Akibat perbedaan masa manfaat, nilai penyusutan berbeda, sehingga akan menyebabkan perbedaan nilai buku aset dalam laporan posisi keuangan dengan dasar pengenaan pajaknya.  Perbedaan temporer juga dapat muncul karena perbedaan waktu pengakuan maupun cara penilaian. Akuntansi mengakui penurunan piutang saat terdapat bukti obyektif sesuai dengan PSAK 55, sedangkan pajak mengakui penghapusan piutang jika telah memenuhi ketentuan spesifik yang lebih ketat untuk entitas di luar jasa keuangan.  Untuk entitas dalam industri keuangan ada peraturan khusus untuk menghitung nilai cadangan penurunan nilai piutang. Akuntansi mengakui penurunan nilai (impairment) aset tetap, investasi dan cadangan penurunan persediaan, sedangkan pajak tidak memperkenankan kerugian penurunan nilai sebagai pengurang penghasilan. 

Perbedaan temporer ini akan menimbulkan jumlah pajak terutang pada periode mendatang atau jumlah pajak terpulihkan di masa mendatang. Jika aset atau liabilitas muncul akibat pengakuan pendapatan menurut akuntansi  lebih besar dibandingkan menurut pajak, maka akan menimbulkan pajak terutang di masa depan sehingga akan diakui liabilitas pajak tangguhan. Sebaliknya jika pengakuan pendapatan menurut akuntansi lebih kecil dibandingkan penghasilan menurut pajak, maka entitas akan melakukan pembayaran pajak terlebih dahulu atas pendapatan tersebut sehingga akan diakui aset pajak tangguhan. 

Aset pajak tangguhan juga dapat terjadi karena akumulasi kerugian pajak yang belum dikompensasikan dan akumulasi kredit pajak yang belum dimanfaatkan. Untuk fasilitas kredit pajak, ketentuan regulasi di Indonesia belum mengatur.

Sebagai ilustrasi, sebuah peralatan dibeli pada awal tahun 1 sebesar 12.000 disusutkan menurut pajak selama 4 tahun tanpa nilai sisa. Menurut akuntansi disusutkan selama 5 tahun dengan nilai sisa 2.000. Tabel berikut memberikan gambaran pajak tangguhan, dengan mengasumsikan pendapatan 5.000.


Menurut akuntansi, beban pajak akan dihitung berdasarkan laba akuntansi sehingga beban pajak sebesar 750. Beban pajak tersebut terdiri pajak kini yang dibayarkan ke kas Negara sebesar 500 dan beban pajak tangguhan sebesar 250. Dampaknya timbul kewajiban pajak tangguhan. Menurut akuntansi, penyusutanya lebih kecil sehingga laba akuntansi lebih besar sehingga terdapat pengakuan beban pajak tangguhan selama 4 tahun pertama. Pada tahun kelima, entitas membayar pajak  lebih besar karena tidak ada lagi penyusutan. Namun secara akuntansi masih terdapat penyusutan sehingga penghasilannya lebih kecil sebesar 3.000. Pada tahun kelima pajak yang dibayarkan sebesar 1.250 namun beban pajak yang diakui sebesar 750. Selisihnya 500 merupakan  manfaat pajak tangguhan dan mengurangi kewajiban pajak tangguhan.

Sampai akhir tahun kelima masih ada nilai sisa 2.000 dan saldo kewajiban pajak tangguhan 500. Perbedaan ini akan hilang saat entitas menjual  peralatan tersebut. Jika tahun ke 7 peralatan dijual seharga 3.000 maka pajak akan mengakui laba penjualan aset sebesar 3.000 sedangkan menurut akuntansi laba penjualan aset 1.000 karena masih ada nilai sisa 2.000. Pajak atas penjualan tersebut akan dibayarkan sebesar 750, namun secara akuntansi beban pajak 250, yang 500 manfaat pajak tangguhan. Kewajiban pajak tangguhan akan habis dikurangkan dan diakui sebagai manfaat pajak tangguhan, karena asetnya sudah terjual.

Perbedaan temporer juga dapat muncul karena kompensasi kerugian. Peraturan pajak menjelaskan bahwa wajib pajak dapat mengkompensasikan kerugian selama lima tahun setelah kerugian tersebut terjadi. Jika entitas mengalami rugi sebesar (20.000) maka selama lima tahun berikutnya entitas tidak akan membayar pajak sampai keuntungan mencapai jumlah kerugian tersebut. Manfaat pajak  tersebut diakui secara akuntansi pada saat kerugian terjadi sebesar 5.000 (25% x 20.000). Entitas mengakui aset pajak tangguhan dalam laporan posisi keuangan dan manfaat pajak tangguhan dalam laporan laba rugi komprehensif. Jika pada tahun berikutnya entitas memiliki penghasilan kena pajak 6.000, maka entitas tidak membayar pajak karena masih memiliki kompensasi kerugian, namun secara akuntansi tetap akan diakui beban pajak tangguhan sebesar 1.500. Beban pajak tangguhan ini diperoleh dari pemulihan aset pajak tangguhan. Akhir tahun pertama saldo aset pajak tangguhan tersisa 5000-1.500 =3.500 mencerminkan sisa kompensasi yang belum dimanfaatkan 14.000.

Aset pajak tangguhan yang telah diakui pada periode sebelumnya, karena perubahan kondisi ekonomi menjadi tidak terpulihkan di masa depan. Untuk aset pajak tangguhan terkait dengan kompensasi kerugian, entitas kemungkinan tidak dapat memanfaatkan kompensasi karena entitas rugi terus. Standar akuntansi mengharuskan untuk membuat cadangan atas penurunan nilai aset pajak tangguhan, jika terdapat indikasi bahwa pada periode masa depan tidak dapat dipulihkan.

Aset pajak tangguhan dan kewajiban pajak tangguhan dapat disajikan saling hapus sesuai dengan ketentuan dalam penyajian instrumen keuangan. Saling hapus dapat dilakukan jika entitas memiliki hak secara hukum untuk melakukan saling hapus dan berniat menyelesaikan dengan dasar neto. Untuk aset dan liabilitas pajak tangguhan dalam satu entitas, penyelesaiannya dilakukan dalam perhitungan pajak entitas tersebut sehingga dapat disajikan saling hapus. Namun jika aset dan liabilitas pajak tangguhan muncul dari entitas yang berbeda dalam laporan konsolidasian, akan tetap disajikan terpisah tidak dinetokan. Aset pajak tangguhan pada anak entitas tidak dapat dipulihkan dari laba induk entitas. Tidak ada hak secara hukum untuk saling hapus kewajiban perpajakan antara  anak dan induk, karena kewajiban perpajakan untuk masing-masing entitas.

Untuk entitas yang menyusun laporan konsolidasian, pajak akan dipertanggungjawabkan untuk masing2 anak entitas. Laba dari anak entitas bukan obyek pajak, sehingga dalam menghitung pajak induk sebagai wajib pajak tidak memasukkan laba anak entitas. Koreksi fiskal akan dilakukan masing-masing entitas tidak ada koreksi fiskal entitas konsolidasi. Namun karena entitas konsolidasian menggabungkan laporan keuangan semua anak dalam kendali induk, maka beban pajak harus dihitung atas entitas konsolidasian. Beban pajak kini dihitung dari  beban pajak kini induk dan total  beban pajak kini dari anak entitas. Beban (manfaat) pajak tangguhan meruapak penjumlahan juga. Untuk aset dan liabilitas pajak tangguhan juga dikonsolidasikan tanpa ada proses eliminasi.

Untuk penghasilan yang dikenakan pajak final, standar  menjelaskan secara khusus walaupun tidak ada dalam IAS 21. Atas aset dan liabilitas yang berhubungan dengan pajak penghasilan final berbeda dengan dasar pengenaan pajaknya, maka perbedaan tersebut tidak diakui sebagai aset dan liabilitas pajak tangguhan. Alasannya karena pajak final tidak dilaporkan dalam menentukan pajak penghasilan. Karena  tidak terdapat  perbedaan temporer maka tidak diakui adanya aset dan liabilitas pajak tangguhan. Atas penghasilan yang dikenakan pajak final beban pajak diakui proporsional dengan pendapatan menurut akuntansi yang diakui pada periode berjalan. 

Ketentuan standar mengharuskan penghasilan yang dikenakan pajak final diakui sebesar nilai bruto, kemudian beban pajak (kini) akan diakui pada periode yang sama. Atas pengakuan penghasilan yang dikenakan pajak final menurut akuntansi dan belum dibayarkan pajak finalnya, maka akan diakui beban pajak final pada periode tersebut dan pajak yang masih harus dibayar. Untuk kondisi sebaliknya, atas pendapatan yang dikenakan pajak final diterima dimuka, akan diakui pajak final dibayar dimuka, karena pembebanan pajak hanya sebesar beban yang diakui menurut akuntansi. Pajak penghasilan final dibayar dimuka harus disajikan terpisah dari pajak penghasilan final yang masih harus dibayar.

Jumlah pajak dan denda yang ditetapkan dalam surat ketetapan pajak harus dibebankan sebagai pendapatan atau beban lain-lain pada periode berjalan. Pembebanan ditangguhkan jika memenuhi kriteria pengakuan. Jika terdapat bukti bahwa SKP tersebut tidak menimbulkan kewajiban di masa mendatang, karena proses banding atau keberatan yang berpotensi dimenangkan entitas maka pembebanan SKP dapat ditangguhkan.

Untuk perbedaan nilai aset investasi pada asosiasi antara pencatatan akuntansi dan dasar pengenaan pajak, menurut standar diakui sebagai perbedaan temporer. Peraturan perpajakan di Indonesia mengecualikan deviden dan laba entitas asosiasi dengan kepemilikan sekurang-kurangnya 25% sebagai penghasilan. Sehingga menurut pajak investasi akan tercatat sebesar nilai perolehan, sedangkan dengan metode ekuitas nilai investasi akan meningkat sebesar laba yang belum terbagi, karena pendapatan diakui saat melaporkan laba dan dividen dicatat mengurangi investasi. Standar menjelaskan bahwa perbedaan temporer terkait investasi pada asosiasi, anak dan cabang dapat tidak diakui jika entitas induk tidak mampu mengendalikan waktu pemulihan perbedaan temporer dan kemugkinan perbedaan temporer tersebut tidak dapat dipulihkan di masa depan yang dapat diperkirakan. 

Dengan PSAK 46 entitas tidak hanya diwajibkan memenuhi ketentuan regulasi untuk membayar dan melaporkan pajak, namun juga menyajikan dan mengungkapkan informasi tersebut dalam laporan keuangan. Jika terjadi perbedaan temporer antara laba menurut akuntansi dengan penghasilan kena pajak, sehingga menyebabkan nilai aset dan liabilitas berbeda dengan dasar pengenaan pajaknya, maka perbedaan tersebut harus diperhitungkan konsekuensi pajaknya di masa mendatang. 

Akuntansi Tentang Pajak Penghasilan Menurut PSAK 46 Revisi 2010 - Bagian I

Entitas memiliki kewajiban pajak sesuai ketentuan perpajakan yang berlaku di mana entitas beroperasi. Atas laba yang diperoleh entitas memiliki kewajiban untuk membayar dan melaporkan pajaknya. PSAK 46 (revisi 2010): Pajak Penghasilan mengatur bagaimana entitas menyajikan dan mengungkapkan kewajiban pajak penghasilan entitas. Peraturan pajak dan standar akuntansi memiliki perbedaan pengakuan dan pengukuran pendapatan dan beban yang dapat memunculkan aset atau liabilitas pajak tangguhan yang harus diungkapkan dan disajikan dalam laporan keuangan.

Entitas memiliki kewajiban untuk membayar pajak kepada negara sesuai dengan  Undang-Undang Pajak Penghasilan. Kewajiban tersebut mengikat untuk semua entitas bisnis (badan atau bentuk usaha tetap) dan individu. Undang-Undang Pajak menyebutkan atas penghasilan yang diterima individu atau entitas (badan) akan dikenakan pajak sesuai dengan tarif yang berlaku.  Penghasilan menurut regulasi pajak adalah setiap tambahan kemampuan ekonomi yang diterima atau diperoleh wajib pajak baik yang berasal dari Indonesia atau dari luar Indonesia yang dapat dipakai untuk konsumsi atau menambah kekayaan. 

Untuk entitas, penghasilan yang diterima atau diperoleh dikenakan pajak setelah dikurangkan beban yang diperbolehkan. Pajak akan dihitung atas laba entitas bukan nilai total penghasilan. Namun untuk pendapatan pada industri tertentu (konstruksi), usaha kecil yang menghitung pajak dengan norma, pajak dihitung dari nilai penghasilan bukan laba.

Kewajiban pajak tidak hanya terkait dengan penghasilan yang diperoleh entitas tersebut. Entitas juga memiliki kewajiban untuk memotong pajak atas penghasilan yang diterima oleh pihak lain (withholding tax).  Pada saat membayar gaji kepada karyawan, membayar sewa kepada rekanan, membayar jasa konsultasi pada kantor akuntan publik, entitas harus memotong pajak atas penghasilan tersebut. Atas pajak yang telah dipotong, harus disetorkan ke kas Negara dan dilaporkan setiap awal bulan berikutnya. 

Pajak pihak ketiga tidak mempengaruhi kinerja entitas dalam laporan laba rugi komprehensif, karena pajak tersebut bukan beban bagi perusahaan. Pajak tersebut dipotong dari penghasilan yang diterima pihak lain, sementara oleh perusahaan dicatat sebagai beban. Pajak akan menyebabkan jumlah yang dibayarkan untuk beban tersebut dialokasikan untuk dua pihak yaitu penerima penghasilan dan kas negara sebagai penerima pajak.

Pada saat entitas melakukan penyerahan barang kena pajak atau jasa kena pajak wajib memotong PPN (pajak pertambahan nilai). Untuk produksi dan import barang mewah akan dikenakan PPnBM (Pajak Penjualan Barang Mewah). Pajak pihak ketiga ini harus diadministrasikan dan juga dicatat dalam pembukuan. Jika pada akhir periode terdapat pajak yang belum dibayar, entitas akan menyajikan utang pajak dalam laporan posisi keuangan. PPN tidak mempengaruhi kinerja entitas karena PPN tidak mempengaruhi jumlah penjualan dan pembelian tetapi menambah piutang atau utangnya.

Entitas memiliki kewajiban untuk membayar pajak atas penghasilan yang diperoleh. Atas penghasilan yang diperoleh dari pihak lain dalam bentuk jasa, sewa akan dipotong pajak. Entitas akan mencatat pajak dibayar dimuka atas pemotongan pajak yang telah dilakukan pihak lain pada saat entitas menerima penghasilan. Setiap bulan entitas wajib membayar angsuran pajak (PPh 25) yang jumlahnya dihitung berdasarkan pajak tahun sebelumnya dibagi dua belas atau dengan cara perhitungan tersendiri jika penghasilan tahun sebelumnya diperkirakan berbeda. 

Pada akhir tahun, entitas akan menghitung jumlah pajak terutang dalam satu tahun fiskal. Pajak dalam satu tahun fiskal ditambahkan dengan pajak final dan pajak anak perusahaan akan disajikan sebagai beban pajak kini dalam laporan laba rugi komprehensif. Pajak terutang satu tahun fiskal dikurangi dengan pajak yang telah dipotong dan diangsur akan menghasilkan pajak kurang/lebih bayar (PPh 29/28). Pajak kurang bayar akan disajikan dalam laporan posisi keuangan sebagai utang pajak penghasilan (kurang bayar) atau piutang restitusi pajak (lebih bayar). Dalam standar disebut sebagai utang pajak kini.

PSAK 46: Pajak Penghasilan mengatur pengakuan, pengukuran, penyajian dan pengungkapan pajak penghasilan entitas. Sebagai salah satu beban entitas, pajak penghasilan dikenakan dan dihitung berdasarkan penghasilan yang telah diakui entitas. Konsep matching principles, tetap dipertahankan dalam pengakuan ini, sehigga jika penghasilan tersebut diterima pada suatu periode maka konsekuensi pajaknya harus diperhitungkan pada periode tersebut. Walaupun menurut peraturan, pajaknya akan dibayarkan pada periode yang lain.

PSAK 46 (revisi 2010): Pajak Penghasilan merupakan revisi atas PSAK 46 : Akuntansi Pajak Penghasilan tahun 1998. Revisi dilakukan dengan menyesuaikan PSAK dengan IAS 21: Income taxes. Beberapa ketentuan dalam IAS 21 yang tidak diadopsi dalam PSAK 46 revisi 1998, ditambahkan. Namun ada beberapa ketentuan pajak dalam regulasi Indonesia seperti pajak finak dan surat ketetapan pajak masih   dipertahankan, sehinga masih terdapat perbedaan antara IAS 12 dan PSAK  revisi (2010). Ketentuan dalam PSAK 46 secara umum mengikuti praktik umum yang berlaku secara internasional. Beban pajak dalam laporan keuangan tidak dihitung berdasarkan jumlah pajak terhutang menurut fiskal namun juga tidak dihitung berdasarkan laba sebelum pajak sebelum tarif yang berlaku.

Beban pajak merupakan penjumlahan dari beban pajak kini dan beban (manfaat) pajak tangguhan. Praktik sebelum PSAK 46 revisi 1998, beban pajak penghasilan dalam laporan laba rugi adalah beban pajak kini saja, tanpa memperhitungkan pajak tangguhan. Untuk SAK ETAP, beban pajak dalam laporan keuangan adalah pajak terutang menurut perhitungan fiskal.  Beban (manfaat) pajak tangguhan merupakan dampak dari perbedaan temporer yang menyebabkan jumlah pajak terpulihkan atau pajak penghasilan terutang pada periode masa depan.

Ketentuan dalam UU PPh dan PSAK terkait pengakuan pendapatan dan beban tidak sama,  karena memiliki tujuan yang berbeda. Perbedaan tersebut tidak hanya terjadi di Indonesia namun hampir di seluruh Negara cenderung terdapat perbedaan antara pajak dan akuntansi. Perbedaan antara pajak dan akuntansi dapat dibedakan menjadi dua, perbedaan permanen dan perbedaan temporer. Setiap akhir pelaporan entitas melakukan rekonsiliasi fiskal atau koreksi fiskal atas laba sebelum pajak untuk menghitung jumlah penghasilan kena pajak. Informasi dalam rekonsiliasi fiskal disajikan dalam catatan atas laporan keuangan, sebagai informasi pendukung untuk menghitung jumlah beban pajak kini, beban pajak tangguhan dan aset / liabilitas pajak tangguhan yang terkait.

Perbedaan permanen adalah perbedaan substansi yang tidak akan terpulihkan di masa mendatang. Contohnya biaya pegawai yang diberikan dalam bentuk natura, sumbangan dengan kriteria tertentu tidak dapat menjadi pengurang penghasilan, biaya yang tidak terkait dengan mendapatkan, menagih dan memelihara pendapatan. Perbedaan permanen dapat juga terjadi karena penghasilan yang dikenakan pajak final seperti pendapatan bunga, sewa tanah, sewa bangunan, pengalihan tanah / bangunan, transaksi di pasar modal. Penghasilan yang dikecualikan misalnya iuran pensiun yang diterima oleh entitas program purna karya. 

Atas perbedaan permanen ini menurut standar tidak diperhitungkan konsekuensi pajak yang terutang di masa depan sehingga tidak memunculkan kewajiban atau aset  pajak tangguhan. Walaupun untuk pajak final ada konsekuensi pajak yang harus ditanggung, yaitu sebesar tarif pajak finalnya, yang  berbeda dengan tarif pajak umum. Dalam perhitungan pajak terutang, perbedaan permanen ini tidak dimasukkan dalam menghitung pajak terutang. Pajak final dilaporkan dalam laporan pajak terpisah dari penghasilan yang dihitung dengan menggunakan tarif pajak umum.

Aset Tak Berwujud

Hak paten, hak cipta, merek dagang dan goodwill merupakan aset jangka panjang yang berguna dalam kegiatan operasi perusahaan dan tidak ditujukan untuk dijual. Aset ini disebut aset tak berwujud.

Hak paten
  • Merupakan hak eklusif perusahaan untuk meghasilkan dan menjual barang dengan satu keunikan atau lebih.
  • Diterbitkan oleh pemerintah kepada penemu dengan masa kegunaan 20 tahun.
  • Hukum hak paten No.14/2001 membedakan antara:

  1. Hak paten untuk penemu sederhana dengan masa kegunaan 10 tahun
  2. Hak paten untuk penemu yang lebih canggih

  • Perusahaan dapat membeli hak paten dari perusahaan lain atau dapat memperoleh hak paten yang dikembangkan oleh bagian riset dan pengmbangannya.
  • Biaya awal dalam hak paten yang dibeli mencakup imbalan jasa hukum yang terkait, dan didebit ke akun aset. Biaya ini dihapuskan, atau diamortisasikan selama estimasi masa kegunaan hak paten. Periode tersebut dapat kurang dari sisamasa hak paten secara hukum. Estimaasi masa kegunaan hak aten juga dapat berubah Karena perubahan teknologi atau perubahan selera konsumen.

Hak cipta dan merek dagang
  • Hak cipta adalah hak eksklusif untuk menerbitkan dan menjual karya tulis, materi artistik, atau komposisi musical.
  • Hak cipta diterbitkan pemerintah dan diperpanjang sampai 50tahun setelah kematian pengarangnya (hukum hak cipta No. 19/2002). Biaya hak cipta meliputi biaya menciptakan karya ditambah biaya adminitrasi atau hukum untuk mendapakan hak tersebut.
  • Aset tak berwujud  yang kebanyakan terdiri dari kontrak artis dan catalog  music, diamortisasikan sesuai dengan dasar garis lurus masing-masing selama 16 dan 221 tahun.
  • Merek dagang adalah nama, istilah atau symbol yang digunakan untuk mengenali suatu perusahaan dan produksinya. Logo coke berwarna merah dan putih milik the coca cola company adalah salah satu contoh merek dagang. Kebanyakan perusahaan mengidentifikasikan merek dagangnya dengan tanda ® dalam iklan dan produknya.
  • Dalam undang-undang merek dagang No. 15/2001, perusahaaan dapat melindungi merek dagangnya agar tidak digunakan oleh perusahaan lain dengan mendaftarkan merek dagang tersebut untuk masa kegunaan 10 tahun dan memperpanjangnya untuk periode 10 tahun berikutnya. 
  • Jadi, merek dagang merupakan aset yang sangat berharga, aset ini tidak ditampilkan di dalam  neraca, karena nilai biaya hukum untuk penetapan merek dagang tidak besar. Akan tetapi, jika merek dagang dibeli dari perusahaan lain, biaya pembeliannya dicatat sebagai aset tetap.

Goodwill
  • Merupakan aset tak berwujud milik perusahaan yang dihasilkan oleh factor-faktor yang menguntungkan, seperti lokasi, mutu produk, reputasi dan keahlian manajerial.
  • Memungkinkan perusahaan untuk menghasilkan tingkat pengambilan investasi yang sering kali melebihi tingkat normal perusahaan lain dalam bisnis yang sama.
  • Prinsip akuntansi berterima umum memperbolehkan goodwill dicatat dalam akun hanya jika  dapat ditentukan secara objektif oleh suatu transaksi. 
  • Contoh transaksi yang dimaksud adalah pembelian perusahaan pada harga di atas aset bersih (aset - kewajiban) perusahaan yang diperoleh. 
  • Standar akuntansi Indonesia mengizinkan goodwill diamortisasi selama tidak lebih dari 5 tahun. 
  • Periode amortisasi lebih dari 5 tahun tetapi tidak boleh lebih dari  20 tahun, dimungkinkan jika peusahaan dapat memberikan penjelasan yang dapat diterima. 
  • Saldo goodwill juga dapat di evaluasi pada setiap tangal neraca untuk indikasi penurunan nilai. Jika terdapat indikasi bahwa goodwill telah mengalami penurunan nilai maka perusahaan harus melakukan penyesuaian untuk menurunkan nilai goodwill. 
  • Jumlah penurunan dibebankan pada periode yang bersangkutan dan tidak dapat dibalik masa mendatang (tidak  ada penyesuaian untuk menaikan nilai goodwill).
  • Hak cipta dan hak paten merupakan contoh aset tak berwujud dengan masa kegunaan terbatas sedangkan merek dagang dan goodwill adalah contoh aset tak berwujud dengan masa kegunaan tidak terbatas . 
  • Aset  tak berwujud dngan masa kegunaan tidak terbatas biasanya menjadi subjek pengujian penurunan nilai ( impairment test) tahunan dan bukan merupakan subjek amortisasi secara sistematis. 
  • Biasanya good will diamortisasikan selama 20 tahun. 

Pelaporan keuangan untuk Aset Tetap dan Aset Tak Berwujud 
Dalam laporan keuangan jumlah beban penyusutan dan amortisasikan dalam suatu periode harus dilaporkan secara terpisah dalam laporan laba-rugi atau diungkapkan dalam catatan laporan keuangan. Penjelasan umum untuk metode yang digunakan dala menghitung penyusutan juga perlu dilaporkan.

Jumlah setiap golongan utama aset tetap harus diungkapkan dalam neraca atau catatan laporan keuangan. Akumulasi penyusutan terkait juga erlu diungkapkan baik menurut golongan utama atau secara total. Aset tetap dapat ditampilkan dalam nilai bukunya ( biaya dikurangi akumulasi penyusutan), yang juga dapat dijelaskan sebagai nilai bersihnya. Jika aset tetap memiliki pengolongan terlalu banyak, satu jumlah saja dapat disajikan dalam neraca dengan didukung oleh daftar rincian terpisah.

Aset tak berwujud biasanya dlaporkan dalam neraca dibagian terpisah setelah aset tetap. 
Saldo setiap golongan utama aset tidak berwujud harus diungkapkan pada  nilai bersih setelah amortisasi.

Pelepasan Aset Tetap

Aset tetap yang tidak lagi berguna dapat dibuang, dijual, atau ditukarkan dengan aset tetap lainnya. Rincian ayat jurnal untuk mencatat pelepasan tersebut akan berbeda-beda. Akan tetapi, nilai buku aset harus dihapus dari akunnya. Ayat jurnal untuk kepentingan ini akan mendebit akun akumulasi penyusutan sejumlah saldo pada tanggal pelepasan aset dan mengkredit  akun aset sebesar biaya perolehan asetnya.

Aset tetap tidak boleh di hapus dari akun hanya karena aset tersebut sudah habis disusutkan. Jika  aset masih digunakan oleh perusahaan biaya dan akumulasi penyusutannya tetap dicatat dalam buku besar untuk menjaga akuntanbilitas aset dalam buku besar. Jika  nilai buku aset dipindahkan dan buku besar tidak akan menyimpan bukti keberadaan aset yang masih berlangsung. Salain itu data biaya dan akumulasi penyusutan untuk aset tersebut sering kali masih dibutuhkan untuk keperluan menghitung pajak bangunan dan pajak penghasilan.

Membuang Aset Tetap
Saat aset tetap tidak lagi berguna bagi perusahaan dan tidak memiliki nilai residu atau nilai pasar, aset tersebut dapat dibuang. Jika aset belum habis disusutkan penyusutan harus dicatat sebelum pemindahaan aset tersebut  dan penyediaan jasa dan catatan akuntasi.

Rugi atas pelepasan aset tetap termasuk dalam pos non-operasi dan biasanya dilaporkan dibagian beban lainnya di laporan laba rugi.

Menjual Aset Tetap
Ayat jurnal untuk mencatat penjualan aset tetap sama, kecuali kas atau aset lainnya yang diterima juga harus dicatat. Jika harga jual lebih besar dari nilai buku aset, transaksi tersebut menghasilkan laba. Jika harga jual lebih kecil dari nilai buku aset, berarti mendapatkan rugi.

Pertukaran Aset Tetap yang Serupa
Peralatan  yang lama seringkali dipertukarkan dengan peralatan yang baru dengan kegunaan yang serupa. Dalam hal ini penjual memperbolehkan pembeli menentukan harga untuk peralatan yang lama yang dipertukarkan. Jumlah ini disebut penyisihan pertukaran.

Laba atas pertukaran
Laba atas pertukaran aset tetap yang serupa tidak diakui untuk keperluan pelaporan keuntungan. Hal ini didasarkan pada teori bahwa pendapatan berasal dari produksi dan penjualan barang yang diproduksi oleh aset tetap. Dan bukan dari pertukaran aset tetap yang serupa. Saat penyisihan pertukaran melebihi nilai buku aset yang dipertukarkan dan tidak ada laba yang diakui. 

Rugi atas pertukaran
Rugi atas pertukaran aset tetap yang serupa diakui jika penyisihan pertukaran lebih kecil dari pada nilai buku peralatan yang lama. Saat terjadi rugi, biaya yang dicatat untuk aset yang baru harus merupakan harga pasar (harga katalog).

Sumber daya alam 
Aset tetap milik perusahaan meliputi kayu, bijih besi, mineral, atau sumber daya alam lainnya. Karena perusahaan menghasilkan atau menambang dan kemudian menjual sumber daya alam tersebut, sebagian biaya perolehannya didebit ke akun beban. Proses pemindahan biaya sumber daya kedalam akun beban disebut deplesi.

Jumlah deplesi dihitung dengan mengalikan jumlah yang dihasilkan selama periode tertentu dengan tingkat deplesi. Tingkat deplesi dihitung dengan membagi biaya kandungan mineral dengan estimasi jumlahnya. Penghitungan deplesi sama dengan penghitungan penyusutan unit produksi.

Akumulasi deplesi merupakan akun aset kontra yang dilaporkan dalam neraca sebagai pengurangan dari biaya kendungan mineral.

Akuntansi untuk Penyusutan Aset Tetap

Aset tetap seperti: peralatan, gedung dan pengembangan tanah kehilangan kemampuannya untuk memberikan jasa seiring dengan berjalannya waktu. Akibatnya, biaya peralatan, gedung, dan pengembangan tanah perlu di pindahkan ke akun beban secara sistematis selama masa kegunaanya. Pemindahan biaya ke beban secara berkala semacam ini disebut penyusutan atau depresiasi (depreciation).

Ayat jurnal penyesuaian untuk mencatat penyusutan biasanya dibuat setiap akhir bulan atau pada akhir tahun. Ayat jurnal ini akan mendebit beban penyusutan dan mengkredit akun kontra aset tetap bernama akumulasi penyusutan aset tetap atau penyisihan untuk penyusutan aset tetap. Pengunaan akun kontra aset memungkinkan biaya awal dalam aset tetap tidak berubah.

Faktor-faktor penyebab penurunan kemampuan aset tetap untuk menyediakan jasa dapat di indentifikasikan sebagai:
  • Penyusutan fisik terjadi karena pengunaan disebabkan oleh cuaca
  • Penyusutan fungsional terjadi saat aset tetap tidak lagi dapat menyediakan jasa pada tingkat yang diharapkan.

Faktor dalam Menghitung Beban Penyusutan

Ada tiga faktor yang menentukan jumlah beban penyusutan yang diakui di setiap akhir periode yaitu:
1. Biaya awal aset tetap.
2. Masa kegunaan yang diharapkan.
3. Estimasi nilai pada akhir masa kegunaan atau nilai residu.

Nilai residu atau nilai sisa (residual value) aset tetap pada akhir masa kegunaan yang diharapkan harus diperkirakan pada saat aset disiapkan untuk menyediakan jasa. Jika aset tetap diharapkan tidak memiliki atau memiliki sedikit nilai residu saat tidak lagi dapat menyediakan jasa, maka biaya awal harus dibagi selama masa kegunaannya sebagai beban penyusutan. 

Namun apabila memiliki nilai residu yang signifikan maka selisih antara biaya awal dan nilai residunya, disebut biaya aset yang dapat disusutkan menjadi jumlah yang dibagi selama masa kegunaan aset sebagai beban penyusutan.

Masa kegunaan yang di harapkan dari aset tetap juga harus diperkirakan pada saat aset disiapkan untuk menyediakan jasa. Estimasi masa kegunaan yang diharapkan dapat berasal dari berbagai asosiasi perdagangan dan publikasi lainya.

Metode yang digunakan dalam akun-akun dan laporan keuangan juga dapat berbeda dari metode yang digunakan untuk menentukan pajak penghasilan. Tiga metode yang sering digunakan  adalah: 

Metode Garis Lurus

Metode  garis lurus (straight line method) menghasilkan jumlah beban  penyusutan yang sama untuk setiap tahun selama kegunaan aset.

Saat  aset hanya digunakan selama beberapa waktu dalam satu tahun, maka penyusutan tahunan dihitung secara proporsional. 

Untuk memudahkan penerapan metode ini, penyusutan ini juga dapat diubah menjadi persentase terhadap biaya yang dapat disusutkan. Persentase ini ditentukan dengan 100% dengan jumlah tahun masa kegunaan.

Metode  ini menghasilkan perpindahan yang memadai untuk biaya ke beban periodik saat penggunaan aset dan pendapatan yang terkait dengan pengunaan nya kurang lebih sama pada setiap periode.

Metode Unit Produksi

Metode  ini menghasilkan jumlah beban penyusutan yang sama untuk setiap unit yang diproduksi atau setiap unit kapasitasnya yang digunakan oleh aset. 

Masa keguanaan aset dinyatakan dalam unit kapasitas produktif, seperti jam atau mil. Kemudian jumlah beban penyusutan untuk setiap periode akuntansi ditentukan dengan mengalikan unit penyusutan dengan jumlah unit yang diproduksi atau digunakan selama periode tersebut.

Metode Saldo Menurun Ganda

Metode  saldo menurun ganda (double declining balance method) menghasilkan beban periodik yang semakin menurun selama estimasi masa kegunaan aset. 

Dalam penerapannya, tingkat saldo menurun ganda di tentukan dengan menggandakan tingkat garis lurus.   

Untuk  tahun pertama kegunaan biaya  aset dikalikan dengan tingkat penyusutan saldo menurun ganda. 

Setelah tahun pertama nilai buku (book value) yaitu biaya dikurangi akumulasi penyusutan yang menurun dikalikan dengan tingkat ini.

Saat  metode saldo menurun ganda digunakan, estimasi nilai residu tidak dipertimbangkan dalam menentukan tingkat penyusutan dan menghitung penyusutan periodik. Akan tetapi, aset tidak perlu disusutkan di bawah estimasi nilai residunya.

Membandingkan Metode Penyusutan

Seluruh metode membebankan sebagian jumlah biaya aset dalam periode akuntansi, dan tidak pernah menyusutkan aset dibawah nilai residunya.

Metode garis lurus menghasilkan jumlah beban penyusutan periodik yang sama selama masa kegunaan aset.

Metode unit produksi menghasilkan jumlah beban penyusutan periodik yang berbeda-beda tergantung jumlah aset yang digunakan.

Metode saldo menurun ganda menghasilkan jumlah penyusutan yang lebih tinggi pada tahun pertama penggunaan aset, diikuti dengan jumlah yang menurun secara bertahap. Karenanya, saldo menurun ganda disebut metode penyusutan yang dipercepat (accelerated depreciation method).

Penysusutan untuk  Pajak Penghasilan Pemerintah

Direktorat jendral perpajakan menetapkan tingkat penyusutan untuk setiap kelompok aset tetap. 

Tingkat penyusutan paling akhir ditetapkan dalam surat keputusan menteri keuangan No.138/KMK.03/2002, yang membedakan aset tetap bukan property ke dalam tiga kelompok. 

Kelompok pertama menggunakan tingkat penyusutan garis lurus 25% yang berarti masa kegunaan ekonomis nya adalah 4 tahun atau tingkat penyusutan 50% jika perusahaan menggunakan metode saldo menurun ganda.

Aset tetap yang termasuk dalam kelompok pertama adalah peralatan kantor yang terbuat dari kayu dan rotan. Mesin ketik, mesin fotocopy, computer, printer, dan lain-lain.

Mengubah Estimasi Penyusutan

Mengubah estimasi nilai residu dan masa kegunaan adalah hal yang biasa dilakukan.

Perubahan estimasi tidak akan mempengaruhi jumlah beban penyusutan yang dicatat pada tahun-tahun sebelumnya.

Memahami Tentang Aset Tetap

Sobat Akuntansi pasti sudah sering mendengar tentang aset tetap dan melihat akun ini dalam Laporan Keuangan, tapi mungkin banyak sobat akuntansi belum memahami pengerian dan karakterisitik tentang aset tetap. Untuk itu dalam artikel ini saya akan membahas tentang aset tetap dan semoga sobat akuntansi bisa memahami dan menambah pengetahuan nya tentang aset tetap setelah membaca nya.

Definisi Aset Tetap

Dalam SAK-ETAP yang diatur oleh IAI , aset tetap adalah aset berwujud yang dimiliki untuk digunakan dalam produksi atau penyediaan barang atau jasa, untuk disewakan kepihak lain atau untuk tujuan administratif dan diharapkan akan digunakan lebih dari 1 periode. 

SAK menggunakan istilah aset tetap, namun dalam perpajakan tidak menggunakan istilah aset tetap melainkan sesuai dengan pasal 11 UU PPh Nomer 36 tahun 2008, aset tetap adalah harta berwujud yang dapat disusutkan dan terletak atau berada di Indonesia, dimiliki dan dipergunakan yntuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan yang merupakan objek pajak serta mempunyai masa manfaat lebih dari 1 tahun.

Perolehan Aset Tetap
Aset tetap diperoleh dengan pembelian dalam bentuk siap pakai dicatat sejumlah harga beli ditambah dengan biaya-biaya yang terjadi pada saat perolehan. Biaya-biaya tersebut seperti, biaya pengiriman, biaya bongkar muat, biaya pemasangan, biaya profesional, bea masuk, pajak masuk yang tidak boleh dikreditkan, dan lain-lain ditambahkan ke dalam harga perolehan.

Dalam penjelasan Pasal 10 UU PPh Nomor 36 Tahun 2008, harga perolehan atau harga jual penjualan dalam hal terjadi jual beli harta tidak dipengaruhi hubungan istimewa. Yang dimaksud dalam Pasal 18 ayat (4) UU PPh Nomor 36 termasuk dalam harga perolehan adalah harga beli, dan biaya yang yang dikeluarkan dalam rangka memperoleh harta tersebut, seperti bea masuk, biaya pengangkutan dan biaya pemasangan. Sedangkan apabila terdapat hubungan istimewa adalah jumlah yang seharusnya  dikeluarkan / diterima. Adanya hubungan istimewa antara pembeli dan penjual  menyebabkan harga perolehan menjadi lebih besar / lebih kecil dibandingkan dengan jual beli tersebut tidak dipengaruhi hubungan istimewa.

Karakteristik asset tetap
Aset tetap adalah aset yang bersifat jangka panjang atau secara  relative memiliki sifat permanen serta dapat digunakan dalam jangka panjang. Aset ini merupakan aset berwujud karena memiliki bentuk fisik.

Aset ini dimiliki dan digunakan oleh perusahaan dan tidak di jual sebagai bagian dari kegiatan operasi normal.

Penggolongan biaya
Jika biaya bersifat jangka panjang, maka barang tersebut harus dikapitalisasi, artinya harus ditampilkan dalam neraca sebagai asset.

Jika bersifat jangka pendek, maka biaya harus dilaporkan sebagai beban di laporan laba/rugi.

Biaya yang dikapitalisasikan biasanya diharapkan akan habis lebih dari satu tahun.

Jika aset juga digunakan untuk tujuan produktif, yang melibatkan kegunaan atau manfaat berulang-ulang maka aset tersebut digolongkan sebagai aset tetap, seperti tanah, gedung, atau peralatan.

Suatu aset tidak perlu digunakan secara teratur untuk menjadi aset tetap. Sebagai contoh, peralatan yang siap digunakan pada saat terjadi kerusakan pada peralatan yang biasa dipakai atau pada saat periode penuh termasuk dalam aset tetap.

Aset tetap yang telah ditinggalkan atau tidak digunakan lagi tidak dimasukan sebagai aset tetap.

Aset tetap dimiliki dan digunakan oleh perusahaan dan tidak ditawarkan untuk dijual kembali.

Aset yang bersifat jangka panjang dan disimpan untuk dijual kembali tidak digolongkan sebagai aset tetap, tetapi harus di sajikan di Laporan Posisi Keuangan dalam bagian investasi. Sebagai contoh, tanah yang belum dikembangkan dan diperoleh sebagai investasi untuk di sewakan dan dijual kembali akan di golongkan sebagai investasi, bukan tanah (aset tetap).


Biaya aset tetap
Biaya perolehan aset tetap mencakup seluruh jumlah yang dikeluarkan untuk mendapatkan aset hingga siap digunakan. 

Biaya umum untuk memperoleh aset tetap, biaya ini harus dicatat dengan mendebit akun aset tetap terkait seperti tanah, gedung, pengembangan tanah,atau mesin dan peralatan.

Biaya-biaya yang tidak perlu dan tidak meningkatan kegunaan aset dicatat sebagai beban.

Pengeluaran Modal dan Pendapatan
Saat aset telah diperoleh dan siap digunakan, pengeluaran dapat terjadi untuk perawatan pan perbaikan biasa, untuk meningkatkan nilai aset atau untuk perbaikan luar biasa yang dapat memperpanjang masa kegunaan aset. 

Pengeluaran yang berguna untuk periode berjalan disebut pengeluaran pendapatan (reveue expenditure). Pengeluaran yang meningkatkan nilai aset atau memperpanjang masa kegunaan aset disebut pengeluaran modal (capital expenditure).

Perawatan dan perbaikan  biasa
Pengeluaran  yang terkait dengan perawatan dan perbaikan aset tetap yang dicatat sebagai beban periode berjalan,disebut pengeluaran pendapatan dan dicatat sebagai kenaikan pada beban perbaikan dan perawatan.

Peningkatan Nilai Aset 
Setelah  aset tetap disiapkan. Pengeluaran dapat terjadi untuk meningkatkan nilai aset. Pengeluaran semacam ini di sebut pengeluaran modal dan dicatat sebagai kenaikan pada akun aset tetap.

Perbaikan Luar Biasa
Setelah  asset tetap disiapkan, pengeluaran dapat terjadi untuk memperpanjang masa kegunaan aset.

Sewa Aset Tetap
Sewa adalah suatu perjanjian atas pengunaan aset dalam periode waktu tertentu.

Ada dua pihak di dalam sewa yaitu:
1.    Pemberi sewa (lessor)
2.    Penyewa (lessee)

Penyewa berkewajiban untuk melakukan pembayaran sewa secara berkala selama masa sewa.

Sewa akan dicatat oleh penyewa sebagai modal (capital lease) atau sebagai sewa operasi (operating lease)

Sewa modal (capital lease) dicatat ketika penyewa seolah-olah membeli aset yang bersangkutan. Penyewa mendebitkan akun aset sebesar nilai pasar aset dan mengkreditkan akun kewajiban sewa jangka panjang.

Sewa yang tidak digolongkan sebagai sewa modal untuk tujuan akuntansi digolongkan sebagai sewa operasi (operating lease). Penyewa mencatat pembayaran dalam sewa operasi dan mendebit beban sewa dan mengkredit kas. Kewajiban sewa di masa mendatang maupun hak di masa mendatang untuk menggunakan aset yang di sewa tidak diakui dalam akun-akun tersebut. Akan tetapi, penyewa harus mengungkapkan komitmen sewa di masa mendatang di catatan atas laporan keuangan.

Baik sobat akuntansi, agar tidak membosankan membacanya artikel tentang aset tetap saya akhiri sampai disini, namun perlu sobat akuntansi ingat bahwa artikel saya tentang aset tetap ini belum berakhir dan masih banyak hal yang akan saya bahas pada artikel berikut nya. Untuk itu sobat akuntansi tetap terus mengikuti perkembangan blog saya ini. Terima Kasih.

Siklus Akuntansi Biaya Perusahaan Dagang

Akuntansi biaya adalah salah satu jenis akuntansi yang sangat penting bagi perusahaan dagang karena berhubungan dengan penentuan harga pokok barang yang diproduksi oleh suatu perusahaan untuk memenuhi pesanan pelanggan atau mengisi stok persediaan yang akan dijual.

Akuntansi biaya tentu saja identik dengan biaya, yakni pengorbanan sumber ekonomi yang diukur dengan satuan uang atau hal-hal yang mungkin terjadi untuk mencapai tujuan tertentu. Ada 4 unsur biaya yang berhubungan dengan akuntansi biaya, yaitu pengorbanan sumber ekonomi, dihitung dengan satuan uang, telah terjadi atau akan terjadi, dan untuk tujuan tertentu.

Istilah-Istilah Akuntansi Biaya

Hal utama yang harus diketahui untuk dapat lebih memahami siklus akuntansi biaya adalah memahami arti-arti dari istilah-istilah penting dalam akuntansi biaya berikut ini:

Bahan baku: bahan yang akan diolah menjadi produk selesai dan penggunaannya bisa diidentifikasi.

Biaya bahan baku: harga perolehan atau pembelian bahan baku yang dipakai untuk proses pengolahan produk.

Bahan penolong: bahan yang akan diolah menjadi produk selesai, tetapi penggunaannya tidak dapat diidentifikasi.

Biaya penolong: biaya perolehan atau pembelian bahan penolong yang digunakan untuk mengolah produk.

Biaya tenaga kerja: semua balas jasa yang diberikan oleh perusahaan atas usaha atau kegiatan pengolahan produk.

Biaya overhead public: biaya produksi tidak hanya terdiri dari biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja, tetapi juga elemennya bisa digolongkan ke dalam biaya bahan penolong, biaya tenaga kerja tidak langsung, penyusutan aset tetap pabrik, pemeliharaan aset tidak tetap pabrik, biaya listrik, biaya air pabrik, biaya asuransi pabrik, dan biaya overhead lainnya.

Hakikat Siklus Akuntansi Biaya

Sebelum mempelajari tentang siklus akuntansi biaya, sebaiknya mengetahui terlebih dahulu tentang pengertian akuntansi biaya. Akuntansi biaya ialah proses pencatatan, penggolongan, peringkasan, dan pelaporan biaya dengan cara-cara yang sesuai kaidah akuntansi.

Tujuan akuntansi biaya adalah menyediakan informasi biaya yang dibutuhkan oleh perusahaan kepada pihak manajemen untuk mengelola perusahaan atau suatu departemen di dalam perusahaan.

Jika semua unsurnya lengkap maka bisa diperoleh gambaran tentang dasar-dasar penjurnalan pada siklus akuntansi biaya. 

Kegiatan pencatatan dalam akuntansi biaya meliputi beberapa biaya sebagai berikut.

Bahan baku
  • Pemakaian biaya baku dalam produksi
  • Biaya gaji dan upah
  • Gaji dan upah untuk produksi
  • Pemakaian overhead pabrik
  • Biaya overhead pabrik yang dibebankan dalam produksi
  • Pemindahan biaya overhead pabrik yang dibebankan ke biaya overhead pabrik yang sebenarnya
  • Produk selesai
  • Produk dalam proses akhir

Penggolongan biaya-biaya meliputi fungsi pokok perusahaan, perilaku biaya, perilaku hubungannya dengan produk, pertanggungjawaban, dan hubungannya dengan masa manfaat. Penggolongan biaya sesuai fungsi pokok perusahaan terdiri dari unsur fungsi produksi dan fungsi nonproduksi.

Fungsi produksi bagi perusahaan adalah mengolah bahan baku menjadi produk siap pakai dan siap dijual. Sedangkan fungsi nonproduksi bagi perusahaan adalah mengolah bahan baku menjadi produk selesai yang terdiri dari fungsi pemasaran, fungsi administrasi, dan fungsi umum.

Di sebuah perusahaan dalam suatu industri, misalnya perusahaan melakukan kegiatan usaha pokok dengan mengolah bahan baku menjadi produk siap pakai yang selanjutnya dijual kepada konsumen. Siklus akuntansi biaya di perusahaan industri tersebut terdiri dari urutan sebagai berikut:
  • Menentukan harga pokok bahan baku yang dibeli dan harga pokok bahan baku yang digunakan dalam proses produksi.
  • Menghitung biaya tenaga kerja langsung.
  • Menghitung biaya overhead public.
  • Biaya-biaya tersebut berguna untuk menentukan biaya produksi sehingga bisa digunakan selanjutnya untuk menentukan harga pokok produk selesai atau produk jadi.

Itulah siklus akuntansi biaya perusahaan dagang yang harus diketahui sebelum mempelajari lebih lanjut tentang akuntansi biaya dan jenis-jenis akuntansi lainnya yang berhubungan dengan perusahaan dagang.

Semoga artikel ini bermanfaat bagi sobat akuntansi semua. Terima Kasih.

Pengertian Akuntansi Biaya, Tujuan, dan Klasifikasinya Secara Umum

Yang namanya biaya proses produksi tentunya selalu berhubungan dengan uang yang dimiliki oleh perusahaan, maka tidak heran jika akuntansi biaya selalu menjadi hal terpenting bagi banyak perusahan dalam mengelola biaya-biaya dalam menjalankan operasionalnya. Oleh sebab itu pada tulisan kali ini saya akan memberikan penjelasan tentang arti akuntansi biaya, simak baik-baik di bawah ini ya sobat akuntansi.

A. Apa yang dimaksud akuntansi biaya?

Pengertian akuntansi biaya adalah suatu bidang akuntansi yang kegiatannya bertujuan melakukan perhitungan maupun pencatatan mengenai biaya-biaya yang harus dikeluarkan oleh organisasi atau perusahaan, biaya tersebut seperti biaya umum, biaya produksi, dan lain-lain. Atau akuntansi biaya dapat diartikan juga sebagai kegiatan proses penghitungan dan pencatatan mengenai biaya-biaya yang berhubungan dengan aktivitas perusahaan atau organisasi untuk memproduksi barang ataupun jasa.

Catatan akuntansi biaya berguna juga untuk kebutuhan eksternal perusahaan jika di butuhkan, seperti pihak pemegang saham dan kreditur, dan berguna juga untuk pihak internal perusahaan itu sendiri. Informasi biaya untuk pihak eksternal, umumnya disajikan dalam bentuk laporan laba-rugi dan penghasilan komprehensif dan laporan posisi keuangan, dimana laporan yang disajikan acuannya pada SAK (Standar Akuntansi Keuangan). Sedangkan bagi pihak internal perusahaan seperti manajemen, laporannya berguna untuk mengambil suatu keputusan yang berhubungan dengan anggaran biaya. 

B. Tujuan Akuntansi Biaya

Berikut ini beberapa tujuan dari akuntansi biaya, diantaranya:

1. Untuk mengendalikan biaya produksi
Dalam memproduksi suatu barang atau jasa, biasanya terlebih dahulu selalu menentukan biaya yang harus dikeluarkan. Lalu dilakukan analisis terhadap kesalahan apa saja yang dapat terjadi dari biaya yang sudah di rencanakan untuk memproduksi barang/jasa tersebut.

2. Memberikan informasi bagi manajemen untuk mengambil keputusan
Akuntansi biaya dapat berguna sebagai alat yang bisa membantu manajemen untuk menjalankan oprerasional perusahaan terutama dalam mengambil berbagai macam keputusan yang berhubungan dengan penggunaann biaya, dll.

3. Memberikan informasi bagi proses penyusunan anggaran biaya
Akuntansi biaya juga berperan untuk memberikan data yang memang di perlukan untuk melakukan penyusunan anggaran biaya untuk produksi selanjutnya.

4. Menentukan harga pokok barang atau jasa
Selain berperan menentukan biaya proses produksi, akuntansi biaya juga berperan dalam untuk menentukan harga pokok suatu barang atau jasa hasil produksi, tentunya setelah melalui mekanisme perhitungan biaya.

5. Berguna untuk mengukur nilai masukan
Dengan akuntansi biaya maka dapat mengukur apakah kegiatan usaha yang dilakukan dapat menghasilkan laba atau tidak. Selain itu dapat juga menghasilkan sebuah informasi bagi manajemen mengenai biaya yang dipakai untuk merencanakan alokasi sumber ekonomi.

Dari uraian di atas maka betapa pentingnya fungsi dari akuntansi biaya, tentu harus dikuasai oleh manajemen suatu organisasi atau perusahaan. Karena tugas manajemen salah satunya mengawasi transaksi biaya, dan transaksi biaya tersebut selalu di sajikan dalam bentuk laporan kepada manajemen.

C. Manfaat Akuntansi Biaya

Dari tujuan akuntansi biaya di atas maka dapat di ambil kesimpulan manfaat akuntansi biaya yaitu berguna untuk perencanaan dalam menggunakan anggaran biaya yang akan dikeluarkan oleh perusahaan untuk melakukan produksi barang atau jasa, serta informasi yang di hasilkan dari akuntansi biaya bermanfaat juga dalam hal-hal yang berhubungan dengan pengendalian laba, mentukan harga pokok produk, dan bagi pihak manajemen berguna untuk mengambil keputusan. 

D. Klasifikasi Akutansi Biaya

a. Berdasarkan Fungsi Pokok aktivitas perusahaan

1. Biaya produksi / Production Cost
Yaitu biaya yang perlukan untuk memperoduksi batang atau jasa. Diantaranya biaya: bahan baku, operasional, dan tenaga kerja.

2. Biaya pemasaran / Marketing Expenses
Yaitu biaya yang diperlukan untuk memasarkan produk atau jasa yang sudah di produksi supaya konsumen tertarik untuk membelinya, Diantaranya biaya promosi dan iklan.

3. Biaya administrasi umum / General Administration Expenses
Yaitu biaya yang di perlukan untuk kelancaran proses produksi dan pemasaran, misalnya biaya gaji karyawan, dan lain-lain.

b. Berdasarkan Kegiatannya

1. Biaya Variabel / Variable Cost
Yaitu biaya yang jumlahnya selalu berubah-ubah sesuai dengan volume produksi barang atau jasa. Misalnya seperti pengeluaran biaya bahan baku.

2. Biaya Tetap / Fixed Cost
Yaitu biaya yang jumlahnya tetap sehingga tidak terpengaruh oleh volume produksi. misalnya biaya tenaga kerja langsung.

c. Berdasarkan objek yang dibiayainya

1. Biaya Langsung / Direct Cost
Yaitu biaya yang dikeluarkan berhubungan langsung dengan produksi barang atau jasa, misalnya seperti biaya untuk bahan baku dan tenaga kerja langsung.

2. Biaya Tidak Lansung / Indirect Cost
Yaitu biaya yang dikeluarkan tidak berhubungan secara langsung dengan produksi barang atau jasa, misalnya biaya administrasi perusahaan, Overhead Pabrik, dll.

d. Berdasarkan pembebanan periode akuntansi

1. Biaya Investasi / Capital Expenditure
Yaitu biaya yang pengeluarannya memberikan manfaat pada beberapa periode akutansi. Misalnya biaya untuk mesin produksi.

2. Biaya Pengeluaran Penghasilan / Revenue Expenditure
Yaitu biaya yang pengeluaranya dapat memberikan manfaat terhadap satu periode akutansi. Misalnya biaya Overhead Pabrik.

E. Kesimpulan

Dari uraian di atas maka dapat di ambil kesimpulan bahwa pengertian akutansi biaya yaitu kegiatan proses penghitungan dan pencatatan mengenai biaya-biaya yang berhubungan dengan aktivitas perusahaan atau organisasi untuk memproduksi barang ataupun jasa.

Tujuan akutansi biaya yaitu untuk 1). Untuk mengendalikan biaya produksi; 2). Memberikan informasi bagi manajemen untuk memengambil keputusan; 3). Memberikan informasi bagi penyusunan anggaran biaya; 4). Menentukan harga pokok produk atau jasa; 5). Berguna untuk mengukur nilai masukan, dll.

Itu lah tulisan yang memberikan penjeasan tentang arti akutansi biaya, semoga tulisan singkat ini dapat memberikan manfaat dalam menambah wawasan sobat akuntansi. Jika ada kesalahan mohon di maafkan, Terima kasih.
 
Copyright © 2020 INFO AKUNTAN

Powered by Aditya Tarigan