INFO UPDATE

Tentang Akuntansi Syariah

Sobat akuntansi pasti sudah sering mendengar tentang Akuntansi Syariah, apalagi pada saat ini perkembangan Ekonomi Syariah sudah sangat pesat dan maju. Untuk itu, kali ini saya akan membahas tentang Akuntansi Syariah, semoga dapat menambah pengetahuan sobat akuntansi.

Pengertian 

Akuntansi dalam bahasa arab nya adalah Al-Muhasabah berasal dari kata masdar hassaba-yuhasbu  yang  artinya  menghitung  atau mengukur. Secara istilah, al-Muhasabah memiliki berbagai asal kata yaitu ahsaba yang berarti “menjaga” atau “mencoba mendapatkan” juga berasal  dari  kata  Ihtiasaba  yang  berarti “mengharapkan  pahala  di akhirat dengan diterima nya kitab seseorang dari Tuhan”, juga berarti “menjadikan perhatian” atau “mempertanggungjawabkan nya”. 

Jika kata muhasabah dikaitkan dengan ihtisab  dan  citra nya dikaitkan pencatatan, maka artinya adalah perbuatan seseorang secara terus-menerus sampai pada pengadilan akhirat dan melalui timbangan (mizan) sebagai alat pengukur nya, serta Tuhan sebagai akuntan nya. 

Selain itu, jika kita cermati surat al-Baqarah ayat 282, Allah SWT memerintahkan untuk melakukan penulisan secara benar atas segala transaksi yang pernah terjadi selama melakukan muamalah. Dari hasil penulisan tersebut, dapat digunakan sebagai informasi untuk menentukan apa yang akan di perbuatkan oleh seseorang. Sehubungan dengan ini, beberapa definisi akuntansi secara umum dapat disajikan, di antaranya: 

Tujuan utama dari akuntansi (Littleton) adalah untuk melaksanan perhitungan periodik antara biaya (usaha) dan hasil (prestasi). 

APB (Accounting Principle Board) “Akuntansi adalah suatu kegiatan jasa. Fungsinya adalah memberikan informasi Kuantitatif, umumnya dalam ukuran uang, mengenai suatu badan ekonomi yang dimaksudkan untuk digunakan dalam pengambilan keputusan ekonomi, yang digunakan dalam memilih diantara beberapa alternatif”. 

AICPA (American Institute of Certified public Accountant) “Akuntansi adalah seni pencatatan, penggolongan dan pengikhtisaran dengan cara tertentu dan dalam ukuran moneter, transaksi dan kejadian kejadian yang umumnya bersifat keuangan dan termasuk menafsirkan hasil-hasilnya”.

Dalam buku SBAT (A Statement of Bank Accounting Theory) “Akuntansi adalah proses mengidentifikasikan mengukur, dan menyampaikan informasi ekonomi sebagai olahan informasi dalam hal pertimbangan dalam mengambil kesimpulan oleh para pemakainya”. 

Kesimpulanya, bahwa Akuntansi adalah suatu seni untuk: 
Mencatat 
Mengklasifikasikan 
Meringkas 
Melaporkan, dan 
Menganalisa 

Sedangkan fungsi Akuntansi adalah: 
Memberi informasi kuantitatif 
Yang bersifat finansial 
Mengenai suatu usaha / business 
Sebagai dasar pengambil keputusan

Prinsip Dasar Akuntansi Syariah

Berikut adalah ciri-ciri pelaporan keuangan dalam bingkai syariah: 
1. Dilaporkan secara benar (Q.S 10:5) 
2. Cepat laporannya (Q.S 2:202; 3:19; 5:4; 13:41) 
3. Dibuat oleh ahlinya (akuntan) (Q.S 13:21; 13:40; 23:117; 88:26) 
4. Terang, jelas, tegas dan informatif (Q.S 17:12; 14:41; 84:3) 
5. Memuat informasi yang menyeluruh (Q.S 6:52; 39:10) 
6. Informasi ditujukan kepada semua pihak yang terlibat secara horizontal maupun vertikal (Q.S 2:212; 3:27; 3:37; 13:18; 13:40; 24:38; 38:39; 69:62) 
7. Terperinci dan teliti (Q.S 65:8) 
8. Tidak terjadi manipulasi (Q.S 69:20; 78:27) 
9. Dilakukan secara kontinu (tidak lalai) (Q.S 21:1)

Namun,   secara   umum   prinsip   Akuntansi   Syariah   adalah sebagaimana uraian yang terdapat dalam surat al-Baqarah, ayat 282. 

1. Prinsip Pertanggungjawaban 
Implikasi dalam bisnis dan akuntansi adalah bahwa individu yang terlibat dalam praktik bisnis harus selalu melakukan pertanggungjawaban apa yang telah diamanatkan dan diperbuat kepada  pihak-pihak yang terkait dan biasanya dalam bentuk laporan akuntansi. 

2. Prinsip Keadilan 
Kata keadilan dalam konteks aplikasi akuntansi mengandung dua pengertian, yaitu:  Pertama,  adalah  berkaitan  dengan  praktik moral, yang merupakan faktor yang sangat dominan. Kedua, kata bersifat lebih fundamental (dan tetap berpijak pada nilai-nilai etika/syariah dan moral). 

3. Prinsip Kebenaran 
Prinsip kebenaran ini sebenarnya tidak dapat dilepaskan dengan prinsip keadilan. Kebenaran di dalam Al-Quran tidak diperbolehkan untuk di campur aduk kan dengan kebathilan. Al-Quran telah menggariskan, bahwa ukuran, alat atau instrument untuk menetapkan kebenaran tidaklah didasarkan pada nafsu. 

Landasan Syariah 

Al-Quran menitik beratkan akuntansi pada surat al-Baqarah ayat 282 yang menjelaskan fungsi-fungsi pencatatan (kitabah), dasar dan manfaatnya. 

“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu bermuamalah tidak secara tunai sampai waktu tertentu, buatlah secara tertulis .......” 

Sedangkan dari ayat-ayat lain yang juga secara eksplisit menerangkan konsep akuntansi dalam al-Quran adalah: 

1. Asy-Syu’ara ayat 181 - 184. mengenai penyempurnaan takaran dan timbangan dengan baik; perintah jangan merugikan manusia pada hak-haknya dan bertakwa kepada Allah. 

2. Al-Hujarat ayat 6, yang menerangkan proses auditing (tabayyun) dengan teliti dan benar tanpa menimpakan suatu musibah atau bahaya kepada orang lain. 

3.  Al-Israa’ ayat 35, yang menerangkan pengukuran dalam bentuk pos-pos yang dilakukan dalam neraca. 

Persamaan dan Perbedaan Akuntansi Syariah 

Kaidah-kaidah akuntansi syariah memiliki karakteristik khusus yang membedakan dengan akuntansi konvensional. Kaidah akuntansi syariah harus sesuai dengan norma-norma masyarakat Islam, termasuk disiplin ilmu sosial yang memfungsikan diri sebagai pelayan masyarakat pada penerapan akuntansi tersebut. 

Persamaan   kaidah   akuntansi   syariah   dengan   akuntansi konvensional terletak pada hal-hal berikut: 

1.  Prinsip pemisahan jaminan keuangan dengan prinsip unit ekonomi. 
2.  Prinsip hauliyah dengan proses periode waktu atau tahun pembukuan keuangan. 
3.  Prinsip pembukuan langsung dengan pencatatan bertanggal. 
4.  Prinsip kesaksian dalam pembukuan dengan prinsip penentuan barang. 
5.  Prinsip muqabalah (perbandingan) dengan prinsip perbandingan income dengan cost
6.  Prinsip istimrariyah (kontinunitas) dengan kesinambungan perubahan. 
7.  Prinsip taudhih (keterangan) dengan penjelasan atau pemberitahuan. 

Pada dasarnya perbedaan sistem akuntansi syariah dengan akuntansi konvensional terletak pada soal-soal inti pada pokok, sedangkan segi persamaannya hanya bersifat aksiomatis. Jadi, dikatakan bahwa konsep akuntansi Islam lebih jauh dahulu dari konsep akuntansi konvensional. 

Menurut Husein Syahatah, perbedaan kedua akuntansi itu dalam bukunya “Pokok-Pokok Pikiran Akuntansi Islam”, menerangkan sebagai berikut: 

a. Para ahli modern akuntansi berbeda pendapat dalam menentukan nilai dan barang untuk melindungi barang modal pokok, sementara tidak jelasnya dan belum ditentukan apa yang dimaksud dengan modal pokok (capital), sementara Islam memakai konsep penilaian berdasarkan nilai tukar yang berlaku dengan tujuan melindungi modal pokok dari segi kemampuan produksi di masa nanti. 

b. Dalam akuntansi konvensional modal terbagi menjadi dua kategori yaitu modal tetap (aktiva tetap) dan modal yang beredar  (aktiva lancar), sedangkan dalam Islam berupa barang atau stock, selanjutnya disebut barang milik dan barang dagang.

c. Islam menilai uang seperti emas, perak dan barang lain yang sama hanya sebagai perantara untuk pengukuran dan penentuan nilai atau harga. 

d. Akuntansi konvensional mempraktik kan adanya teori pencadangan dan ketelitian diri menanggung semua kerugian dalam perhitungan, serta mengesampingkan laba yang bersifat mungkin, sedangkan Islam memperhatikan itu dengan penentuan nilai atau harga berdasar nilai tukar yang berlaku serta membentuk cadangan untuk memungkinkan bahaya dan resiko. 

e. Akuntansi konvensional menerapkan prinsip laba universal, mencakup uang dari sumber yang membedakan antara laba dari aktivitas pokok dan laba yang berasal dari kapital (modal pokok) dengan yang berasal dari transaksi. Sementara akuntansi syariah juga wajib menjelaskan pendapatan yang haram jika ada dan berusaha menghindari dana haram itu serta tidak boleh dibagi kepada mitra usaha atau dicampurkan kepada pokok modal. 

f. Akuntansi  konvensional memakai bahwa itu akan ada ketika adanya jual beli, sementara Islam memakai kaidah laba itu akan ada ketika ada perkembangan dan pertambahan pada nilai barang, baik yang terjual maupun belum.

Sobat akuntansi, sampai disini dulu penjelasan tentang Akuntansi Syariah nya, nantikan  artikel lanjutan Akuntansi Syariah yang akan saya bahas tidak lama lagi. Terima Kasih. 
loading...

Posting Komentar

Terima Kasih buat Komentar yang diberikan.

 
Copyright © 2020 INFO AKUNTAN

Powered by Aditya Tarigan