INFO UPDATE
Tampilkan postingan dengan label Badan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Badan. Tampilkan semua postingan

Mulai Hari Ini, Lapor SPT Masa PPN Pakai e-Faktur Web Based

Halo sobat akuntansi semua, apa kabarnya? semoga dalam keadaan baik. Sobat akuntansi tahu tidak bahwa implementasi e-faktur 3.0 secara nasional dimulai hari ini, Kamis 1 Oktober 2020. Pengusaha kena pajak (PKP) wajib menggunakan e-faktur web based untuk pelaporan SPT Masa PPN.

Ditjen Pajak (DJP) menegaskan pelaporan Surat Pemberitahuan (SPT) Masa pajak pertambahan nilai (PPN) melalui e-faktur web based dimulai sejak masa pajak September 2020. PKP tidak dapat menyampaikan laporan SPT Masa PPN melalui saluran lain.

Jika ingin melakukan pelaporan atau pembetulan SPT Masa PPN untuk masa pajak sebelum September 2020, PKP dapat melakukan posting SPT pada aplikasi e-faktur 3.0 kemudian melaporkan comma separated value (CSV) melalui DJP Online.

DJP juga kembali menegaskan PKP yang telah melakukan instalasi e-faktur 3.0 tidak dapat kembali menggunakan e-faktur 2.2. Otoritas pajak juga berencana menutup aplikasi e-faktur 2.2 pada 5 Oktober 2020. 

Saat e-faktur 3.0 diimplementasikan secara nasional, PKP harus melaporkan SPT Masa PPN melalui e-faktur web based. Ada fitur prepopulated pajak masukan dan SPT yang bisa digunakan. Namun demikian, PKP tetap bisa melakukan rekonsiliasi data jika terdapat selisih data pajak masukan.

DJP menegaskan tidak akan ada keputusan dirjen pajak baru yang diterbitkan kepada PKP terkait dengan implementasi nasional e-faktur 3.0. Beleid yang berlaku adalah KEP-136/PJ/2014 tentang Penetapan Pengusaha Kena Pajak yang Diwajibkan Membuat Faktur Pajak Berbentuk Elektronik.

DJP menegaskan aplikasi e-faktur 3.0, yang tersedia pada https://efaktur.pajak.go.id/aplikasi merupakan patch update yang harus ditambahkan pada aplikasi e-faktur sebelumnya. Oleh karena itu, PKP baru harus melakukan beberapa langkah berikut ini:

Pertama, download aplikasi e-faktur 2.2 dan patch update aplikasi e-faktur 3.0. 

Kedua, extract aplikasi e-faktur 2.2. 

Ketiga, instal aplikasi e-faktur 2.2 terlebih dahulu sebelum patch update aplikasi e-faktur 3.0.

Keempat, extract patch update aplikasi e-faktur 3.0. 

Kelima, copy seluruh file (3 file) hasil extract patch update aplikasi e-faktur 3.0. 

Keenam, paste file tersebut ke aplikasi e-faktur 2.2. 

Ketujuh, jalankan instalasi aplikasi e-faktur.

Demikian informasinya, semoga bermanfaat bagi sobat akuntansi semua. Terima Kasih.

Cara Mendapatkan Tiket Antrean Secara Online Sebelum ke Kantor Pajak

Memasuki era kenormalan baru ini, layanan perpajakan tatap muka di Kantor Pelayanan Pajak (KPP) dan Kantor Pelayanan, Penyuluhan dan Konsultasi Perpajakan (KP2KP) mulai dibuka kembali.

Namun demikian, terdapat sejumlah prosedur baru yang harus dilakukan wajib pajak ketika mendatangi kantor pajak di antaranya adalah mematuhi protokol kesehatan dalam rangka pencegahan virus Corona atau Covid-19.

Tak hanya itu, prosedur untuk mendapatkan layanan pajak juga tidak seperti dahulu, terutama dalam hal antrean. Kini, wajib pajak yang ingin mendapatkan pelayanan harus terlebih dahulu mendapatkan tiket antrean secara online.

Nah, sobat akuntansi kali ini akan menjelaskan cara mendapatkan tiket antrean online sebelum mendatangi kantor pajak. Pengambilan tiket antrean online ini dilakukan melalui laman kunjung.pajak.go.id. Silakan akses laman tersebut.

Kemudian, pilih Daftar. Pada menu informasi calon pengunjung, isikan identitas Anda yang akan datang ke kantor pajak. Data yang diisi antara lain NIK (Nomor Induk Kependudukan)/nomor paspor, Nama, Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP), email, nomor ponsel dan lainnya.

Jika sudah mengisi dengan benar dan lengkap, silakan klik Berikutnya. Selanjutnya, Anda akan memilih jenis layanan dan waktu kunjungan ke kantor pajak yang Anda inginkan. Lalu, isi juga kepentingan Anda ke kantor pajak. Setelah selesai, klik Berikutnya.

Selanjutnya, nomor tiket akan dikirimkan otomatis ke alamat email Anda. Silakan lakukan screenshot nomor tiket kepada petugas pajak pada saat kedatangan. Pastikan Anda datang 10 menit sebelum waktu kunjungan dengan membawa identitas diri.

Bila Anda lupa menyimpan tangkapan layar (screenshot) atau nomor tiket Anda tidak masuk email, Anda dapat membuka kembali laman kunjung.pajak.go.id. Lalu, pilih menu Cari Tiket. Nanti, pencarian tiket dapat melalui NIK/paspor. Selesai. Mudah, kan? Semoga bermanfaat ya sobat akuntansi.

Apa Itu Keberatan?

Sobat akuntansi dalam artikel ini saya akan membahas tentang keberatan dalam perpajakan, mungkin sobat akuntansi pernah mendengar tentang hal ini namun tidak ada salahnya saya bahas kembali untuk mengingatkan kembali atau menambah pengetahuan sobat akuntansi sekalian.

Terhitung mulai Senin (15/6/2020) kegiatan pemeriksaan kembali dilaksanakan setelah sebelumnya dibatasi atau ditiadakan sementara. Pelaksanaan kegiatan pemeriksaan ini dilakukan dengan penyesuaian tertentu untuk beradaptasi dengan tatanan kenormalan baru (new normal).

Penyesuaian pelaksanaan pemeriksaan tersebut tertuang dalam Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak No. SE-34/PJ/2020. Salah satu bentuk penyesuaian yang dilakukan adalah dengan mengutamakan tata cara pemeriksaan secara online.

Berdasarkan Pasal 1 angka 25 UU KUP, pemeriksaan adalah serangkaian kegiatan menghimpun dan mengolah data, keterangan, dan/atau bukti yang dilaksanakan secara objektif dan profesional berdasarkan suatu standar pemeriksaan.

Salah satu tujuan pemeriksaan adalah untuk menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan. Pemeriksaan dengan tujuan ini akan diakhiri dengan pembuatan Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) dan produk hukum berupa surat ketetapan pajak (SKP). 

SKP yang diterbitkan ini dapat berupa SKP Kurang Bayar (SKPKB), SKP Kurang Bayar Tambahan (SKPKBT), SKP Nihil (SKPN) atau SKP Lebih Bayar (SKPLB).

Berdasarkan Pasal 25 ayat (1) UU KUP apabila wajib pajak merasa tidak setuju atas SKP hasil pemeriksaan pajak tersebut maka wajib pajak dapat mengajukan keberatan. Lantas, sebenarnya apa yang dimaksud dengan keberatan?

Definisi
Ketentuan terkait dengan tata cara pengajuan keberatan dan penyelesaiannya secara umum tertuang dalam Pasal 25, Pasal 26 dan Pasal 26A UU KUP. Ketentuan yang lebih terperinci diatur melalui PMK 9/2013 s.t.d.t.d PMK 202/2015.

Namun, baik UU KUP maupun dua PMK tersebut tidak menjabarkan definisi keberatan secara eksplisit. Secara sederhana, keberatan adalah upaya yang dapat ditempuh wajib pajak yang kurang/tidak puas/tidak sependapat dengan hasil pemeriksaan pajak yang tertuang dalam ketetapan pajak.

Merujuk Pasal 2 ayat (3) PMK 9/2013 s.t.d.t.d PMK 202/2015 wajib pajak hanya dapat mengajukan keberatan menyangkut materi atau isi dari SKP, yang meliputi jumlah rugi, jumlah besarnya pajak, dan pemotongan atau pemungutan pajak yang tidak sebagaimana mestinya.

Selanjutnya berdasarkan Pasal 2 ayat (4) PMK 9/2013 s.t.d.t.d PMK 202/2015, apabila terdapat alasan keberatan selain mengenai materi atau isi dari SKP atau pemotongan atau pemungutan pajak, maka alasan tersebut tidak dipertimbangkan dalam penyelesaian keberatan.

Lebih lanjut, wajib pajak dapat mengajukan keberatan dengan menyampaikan surat keberatan. Surat keberatan tersebut disusun sesuai dengan contoh format yang tercantum dalam Lampiran I PMK 202/2015. Keberatan ini hanya dapat diajukan kepada Direktur Jenderal Pajak.

Selain itu, berdasarkan Pasal 3 ayat 1 butir ‘f’ PMK 9/2013, wajib pajak yang mengajukan keberatan dipersyaratkan sedang tidak mengajukan permohonan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 UU KUP.

Definisi ini sesuai dengan Pasal 25 ayat (1) UU KUP juncto Pasal 2 ayat (1) PMK 9/2013 s.t.d.t.d PMK 202/2015 yang menyatakan wajib pajak dapat mengajukan keberatan hanya kepada Dirjen Pajak atas ‘suatu’ SKPKB, SKPKBT, SKPN, SKPLB atau pemotongan/pemungutan pajak oleh pihak ketiga berdasarkan peraturan perpajakan.

Adapun yang dimaksud dengan ‘suatu’ adalah keberatan harus diajukan terhadap satu jenis pajak dan satu masa pajak atau tahun pajak. Misalnya, keberatan atas ketetapan pajak penghasilan tahun pajak 2017 dan tahun pajak 2018 harus diajukan masing-masing dalam satu surat keberatan.

Tata Cara
Merujuk Pasal 25 ayat (2) UU KUP juncto Pasal 3 ayat (1) PMK 9/2013, keberatan diajukan secara tertulis dalam Bahasa Indonesia dengan mengemukakan jumlah pajak yang terutang, jumlah pajak yang dipotong atau dipungut, atau jumlah rugi menurut penghitungan wajib pajak disertai alasan yang menjadi dasar penghitungan.

Alasan yang menjadi dasar penghitungan tersebut merupakan alasan yang jelas dan dilampiri dengan fotokopi surat ketetapan pajak, bukti pemungutan, atau bukti pemotongan. Surat keberatan juga harus ditandatangani oleh wajib pajak.

Berdasarkan Pasal 4 ayat (1) butir ‘f’ PMK 9/2013, dalam hal surat keberatan ditandatangani oleh bukan wajib pajak maka harus dilampiri dengan surat kuasa khusus sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 ayat (3) UU KUP.

Keberatan harus diajukan dalam jangka waktu 3 bulan sejak tanggal dikirimnya SKP atau sejak tanggal pemotongan atau pemungutan pajak. Namun, ketentuan jangka waktu ini dapat diperpanjang oleh Dirjen Pajak apabila wajib pajak tidak dapat memenuhinya karena keadaan di luar kekuasaannya (force majeure).

Selain itu, wajib pajak harus melunasi pajak yang masih harus dibayarkan paling sedikit sejumlah yang telah disetujui dalam pembahasan akhir hasil pemeriksaan. Pelunasan pajak tersebut harus dilakukan sebelum wajib pajak menyampaikan surat keberatan.

Dalam penyusunan surat keberatan, wajib pajak dapat meminta keterangan secara tertulis atas hal-hal yang menjadi dasar pengenaan pajak, penghitungan rugi, atau pemotongan atau pemungutan pajak kepada Dirjen Pajak.

Selanjutnya berdasarkan Pasal 26 UU KUP juncto Pasal 17 ayat (1) PMK 9/2013 s.t.d.t.d PMK 202/2015, Dirjen Pajak dalam jangka waktu paling lama 12 bulan sejak tanggal surat keberatan diterima harus memberikan keputusan atas keberatan yang diajukan.

Keputusan tersebut dapat berupa mengabulkan seluruhnya, mengabulkan sebagian, menolak, atau menambah besarnya jumlah pajak yang masih harus dibayar yang dituangkan dalam Surat Keputusan Keberatan.

Apabila waktu 12 bulan itu terlampaui dan Dirjen Pajak tidak memberi keputusan, maka keberatan yang diajukan dianggap dikabulkan. Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pengajuan dan penyelesaian keberatan dapat disimak dalam PMK 9/2013 s.t.d.t.d PMK 202/2015.

Keberatan bukan langkah terakhir yang dapat ditempuh wajib pajak. Apabila wajib pajak belum puas atas surat keputusan keberatan itu, berdasarkan Pasal 27 ayat (1) UU KUP, wajib pajak dapat mengajukan banding ke Pengadilan Pajak.

Demikian pembahasan tentang keberatan dalam perpajakan, mohon maaf jika ada kata-kata yang kurang tepat. Semoga artikel ini bermanfaat bagi sobat akuntansi sekalian. Terima Kasih.

Apa Itu Penagihan Pajak dengan Surat Paksa?

Apakabar sobat akuntansi, semoga dalam keadaaan baik. Dalam artikel ini saya akan membahas tentang surat paksa, dalam perpajakan surat ini juga bisa diterbitkan oleh DJP untuk menagih atas kekurangan bayar wajib pajak.

Salah satu kunci keberhasilan dalam penerimaan pajak adalah kepatuhan wajib pajak. Hal ini lantaran Indonesia menganut sistem self assessment yang memberikan kepercayaan kepada wajib pajak untuk menghitung, membayar, dan melaporkan sendiri kewajibannya.

Kendati demikian, pemerintah melalui Direktorat Jenderal Pajak (DJP) tetap melaksanakan pembinaan, penelitian, pengawasan dan pelayanan. Hal ini ditujukan untuk menjamin pemenuhan kewajiban pajak yang sesuai dengan ketentuan.

Untuk itu, apabila terdapat wajib pajak yang tidak memenuhi kewajiban pajaknya, DJP akan melakukan tindakan tegas salah satunya melalui tindakan penagihan pajak dengan surat paksa. Lantas, sebenarnya apakah yang dimaksud dengan penagihan pajak dengan surat paksa?

Definisi
MERUJUK Pasal 1 ayat 9 UU Nomor 19 Tahun 2000 tentang Penagihan Pajak dengan Surat Paksa (PPSP), penagihan pajak adalah serangkaian tindakan agar penanggung pajak melunasi utang pajaknya beserta biaya penagihan pajak.

Penagihan pajak dapat dilakukan dengan menegur atau memperingatkan, melaksanakan penagihan seketika dan sekaligus, dan memberitahukan surat paksa.

Selain itu, dalam pelaksanaan penagihan pajak, penanggung pajak juga dapat dicegah agar tidak keluar negeri, disandera (gijzeling), hingga dilakukan penyitaan.

Mengingat istilah yang digunakan adalah penanggung pajak, maka konteks pihak yang disasar dalam penagihan lebih luas dari wajib pajak. 

Pasal 1 angka 3 UU PPSP mendefinisikan penanggung pajak sebagai orang atau badan yang bertanggung jawab atas pembayaran pajak, termasuk wakil yang menjalankan hak dan memenuhi kewajiban wajib pajak sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.

Adapun dasar penagihan pajak adalah surat tagihan pajak (STP), surat ketetapan pajak kurang bayar (SKPKB), SKPKB tambahan (SKPKBT), surat keputusan pembetulan/keberatan, putusan banding/peninjauan kembali yang menyebabkan jumlah utang pajak bertambah. 

Penerbitan Surat paksa
BERDASARKAN Pasal 20 UU Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (KUP), penagihan pajak dengan surat paksa dilakukan apabila masih ada pajak terutang dalam STP, SKPKB, SKPKBT, surat keputusan pembetulan, surat keputusan banding, putusan banding atau peninjauan kembali yang belum dibayar sampai tanggal jatuh tempo.

Secara umum, tanggal jatuh tempo diatur dalam Pasal 9 ayat (3) dan ayat (3a) UU KUP yaitu selama 1 bulan sejak tanggal surat diterbitkan. Namun, bagi wajib pajak usaha kecil dan wajib pajak pada daerah tertentu, jangka waktu pelunasan tersebut dapat diperpanjang paling lama 2 bulan.

Secara lebih terperinci, Pasal 8 ayat (1) UU PPSP menjabarkan terdapat tiga kondisi yang membuat surat paksa diterbitkan. Pertama, penanggung pajak tidak melunasi utang pajak dan kepadanya telah diterbitkan surat teguran atau surat peringatan atau surat lain yang sejenis.

Kedua, terhadap penanggung pajak telah dilaksanakan penagihan seketika dan sekaligus. Ketiga, penanggung pajak tidak memenuhi ketentuan sebagaimana tercantum dalam keputusan persetujuan angsuran atau penundaan pembayaran pajak.

Ketentuan lebih lanjut mengenai penagihan pajak dengan surat paksa tertuang dalam PMK 24/ 2008 s.t.d.t.d PMK 85/2010. Berdasarkan beleid tersebut penagihan dapat dilakukan dengan terlebih dahulu menerbitkan surat teguran.

Surat teguran tersebut disampaikan setelah 7 hari sejak tanggal jatuh tempo. Kemudian, apabila wajib pajak belum melunasi utang pajaknya hingga melewati 21 hari sejak tanggal disampaikannya surat teguran maka surat paksa diterbitkan.

Surat paksa diterbitkan pejabat dan disampaikan langsung oleh juru sita kepada penanggung pajak. Apabila penanggung pajak tidak melunasi utang pajaknya hingga melewati 2 x 24 jam sejak surat paksa diberitahukan maka pejabat akan menerbitkan surat perintah melaksanakan penyitaan.

Kesimpulan:
BERDASARKAN penjabaran yang diberikan dapat disimpulkan pengertian dari penagihan pajak dengan surat paksa adalah tindakan yang dilakukan agar penanggung pajak melunasi utang pajaknya beserta dengan biaya penagihan.

Surat paksa dapat diterbitkan setelah surat teguran disampaikan. Apabila 21 hari setelah surat teguran disampaikan penanggung pajak tidak melunasi utang pajaknya, maka surat paksa diterbitkan. Surat paksa tersebut harus dilunasi oleh penanggung pajak dalam waktu 2 x 24 jam.

Demikian pembahasan mengenai surat paksa dalam perpajakan, semoga artikel ini bisa memberikan manfaat kepada sobat akuntansi semua. Terima Kasih.

Cara Mengupload CSV atau PDF Lewat DJP Online

COMMA Separated Value (CSV) adalah suatu format data yang memudahkan penggunanya melakukan peng-input-an data ke database secara sederhana. Umumnya, korporasi, yayasan atau pihak yang memiliki basis data yang sangat besar menggunakan format ini.

Penggunaan format tersebut juga diaplikasikan dalam pelaporan surat pemberitahuan (SPT) melalui DJP Online. Untuk dapat membuat file CSV, wajib pajak harus mengisi SPT melalui aplikasi e-SPT yang kemudian dilaporkan melalui DJP Online atau ke Kantor Pelayanan Pajak (KPP).

Nah kali ini, saya akan menjelaskan cara melaporkan file CSV melalui DJP Online atau e-filing. Pertama, pastikan Anda sudah menginstal e-SPT. Setelah itu, Anda akan mengisi lampiran-lampiran yang ada di e-SPT tersebut.

Secara ringkas, tahapan membuat file CSV untuk wajib pajak orang pribadi yaitu jalankan aplikasi e-SPT. Lalu, membuat profil atau database wajib pajak. Setelah itu, pilih formulir 1770 S atau 1770 dan silahkan merekam data pada sejumlah lampiran.

Setelah itu, pilih menu Lapor Data SPT ke KPP. Lalu buat SPT dengan file CSV yang nanti akan disimpan di folder komputer Anda. Setelah selesai, silahkan Anda mengakses atau login DJP Online.

Setelah login, pilih menu Lapor dan klik e-filing. Kemudian pilih fasilitas upload CSV dari e-SPT. Klik ‘Upload SPT’. Masukan file SPT berbentuk SCV yang Anda simpan di komputer. Lampirkan juga dokumen lain seperti bukti potong dan lain sebagainya.

Sebelum unggah dokumen lainnya, jangan lupa untuk menyamakan nama file dokumen lain dengan nama file SPT CSV Anda. Bila nama file dokumen lain tersebut tidak sama dengan nama file SPT CSV maka proses unggah tidak akan berhasil.

Untuk itu, silakan samakan nama file dokumen lainnya tersebut terlebih dahulu. Setelah itu, klik ‘Start Upload’. Nanti, Anda akan diarahkan untuk mengambil kode verikasi. Isi kodenya, setelah itu kirim SPT.

SPT Badan

APABILA wajib pajak hendak melaporkan e-filing SPT Tahunan Badan, tahapan pelaporannya yaitu membuat laporan keuangan tahunan dalam bentuk PDF dan impor data SPT 1771 yang ingin dilaporkan dalam bentuk CSV.

Kemudian, buat SPT dalam DJP Online, lalu upload kedua file tersebut sekaligus ke DJP Online dan klik tombol Start Upload. Jangan lupa, nama file laporan keuangan tahunan dalam bentuk PDF terlebih dahulu disamakan seperti nama file CSV.

Setelah itu, ambil kode verifikasi. Nanti, kode verifikasi dikirimkan ke email Anda. Setelah itu salin kode verifikasi tersebut, lalu klik ‘Kirim SPT’. Anda juga bisa print bukti penerimaan elektronik SPT dari email Anda. Selesai. Semoga bermanfaat.

Pemerintah Tambah Sektor Usaha Penerima Fasilitas Pajak Hadapi Dampak Ekonomi Covid-19


Pemerintah mеlаluі Menteri Keuangan telah menambah jumlah ѕеktоr usaha уаng dapat mеnеrіmа fаѕіlіtаѕ pajak dalam rаngkа mеngurаngі bеbаn ekonomi wаjіb pajak akibat wаbаh Cоvіd-19. Sеlаіn mеmреrluаѕ  ѕеktоr  usaha реnеrіmа fаѕіlіtаѕ уаng ѕеbеlumnуа ѕudаh tеrѕеdіа, pemerintah jugа mеmbеrіkаn fаѕіlіtаѕ bаru yang dіtujukаn kepada реlаku uѕаhа mіkrо, kесіl, dan menengah (UMKM). 
  
Dеtаіl perluasan реmbеrіаn fаѕіlіtаѕ dаn fasilitas pajak UMKM tersebut аdаlаh sebagai bеrіkut: 

 A. Inѕеntіf PPh Pаѕаl 21 

Karyawan pada реruѕаhааn уаng bergerak dі ѕаlаh satu dаrі 1.062 bіdаng іnduѕtrі tеrtеntu, раdа perusahaan уаng mеndараtkаn fаѕіlіtаѕ kemudahan іmроr tujuаn ekspor (KITE), dаn раdа реruѕаhааn dі kаwаѕаn bеrіkаt dараt memperoleh fasilitas раjаk penghasilan ditanggung реmеrіntаh. Dеngаn dеmіkіаn kаrуаwаn уаng mеmіlіkі NPWP dаn penghasilan brutо yang bеrѕіfаt tеtар dan teratur yang dіѕеtаhunkаn tіdаk lebih dаrі Rp 200 juta раdа ѕеktоr-ѕеktоr іnі аkаn mendapatkan penghasilan  tаmbаhаn  dalam  bеntuk pajak уаng  tіdаk dіроtоng pemberi kеrjа tetapi dіbеrіkаn ѕесаrа tunai kераdа реgаwаі. Pеmbеrі kеrjа уаng mendapatkan fasilitas іnі wаjіb menyampaikan lароrаn bulanan rеаlіѕаѕі PPh Pаѕаl 21 DTP. 
  
Fasilitas ini sebelumnya hаnуа dіbеrіkаn kераdа 440 bidang іnduѕtrі dаn perusahaan KITE. 

B. Insentif PPh Pаѕаl 22 Imроr 

Wаjіb раjаk yang bеrgеrаk di ѕаlаh ѕаtu dari 431 bіdаng іnduѕtrі tеrtеntu, pada perusahaan KITE, dаn pada реruѕаhааn di kаwаѕаn bеrіkаt mendapat fаѕіlіtаѕ реmbеbаѕаn dаrі реmungutаn раjаk penghasilan раѕаl 22 іmроr. 

Fasilitas ini ѕеbеlumnуа hanya dіbеrіkаn kераdа 102 bіdаng іnduѕtrі dan реruѕаhааn KITE. 

C. Insentif Angѕurаn PPh Pаѕаl 25 

Wаjіb раjаk yang bergerak dі ѕаlаh satu dari 846 bidang industri tеrtеntu, реruѕаhааn KITE, dan реruѕаhааn dі kаwаѕаn bеrіkаt mеndараt реngurаngаn аngѕurаn раjаk penghasilan pasal 25 ѕеbеѕаr 30 реrѕеn dari аngѕurаn уаng seharusnya tеrutаng. 

Fаѕіlіtаѕ іnі ѕеbеlumnуа hanya dіbеrіkаn kepada 102 bidang іnduѕtrі dаn реruѕаhааn KITE. 

D. Inѕеntіf PPN 

Wаjіb раjаk yang bergerak dі salah satu dаrі 431 bіdаng іnduѕtrі tertentu, реruѕаhааn KITE, dаn реruѕаhааn di kаwаѕаn berikat, dіtеtарkаn ѕеbаgаі PKP berisiko rendah ѕеhіnggа mendapat fаѕіlіtаѕ restitusi dipercepat hingga jumlah lеbіh bауаr paling banyak Rp 5 mіlіаr, tanpa persyaratan melakukan kеgіаtаn tertentu seperti mеlаkukаn еkѕроr bаrаng atau jasa kena раjаk, реnуеrаhаn kepada реmungut PPN, аtаu реnуеrаhаn уаng tіdаk dірungut PPN. 

Fаѕіlіtаѕ іnі sebelumnya hanya diberikan kераdа 102 bіdаng іnduѕtrі dаn perusahaan KITE. 

E. Inѕеntіf Pаjаk UMKM 

Pelaku UMKM mendapat fаѕіlіtаѕ pajak реnghаѕіlаn final tarif 0,5 реrѕеn (PP 23/2018) yang ditanggung pemerintah. Dеngаn dеmіkіаn wаjіb pajak UMKM tіdаk реrlu mеlаkukаn setoran раjаk dan pemotong аtаu реmungut раjаk tidak mеlаkukаn pemotongan аtаu pemungutan pajak раdа ѕааt melakukan реmbауаrаn kераdа реlаku UMKM. Untuk іtu pelaku UMKM tеrlеbіh dahulu mendapatkan Surаt Keterangan PP 23 ѕеrtа wаjіb membuat lароrаn rеаlіѕаѕі PPh Final DTP ѕеtіар masa раjаk. 

Sеluruh fаѕіlіtаѕ dіаtаѕ mulai bеrlаku sejak реmbеrіtаhuаn dіѕаmраіkаn аtаu ѕurаt kеtеrаngаn diterbitkan hіnggа mаѕа pajak Sерtеmbеr 2020 dаn dараt dіреrоlеh dеngаn mеnуаmраіkаn реmbеrіtаhuаn аtаu mеndараtkаn surat kеtеrаngаn уаng dapat dіlаkukаn ѕесаrа оnlіnе dі www.раjаk.gо.іd. 

Setelah lоgіn (Gambar 1) masuk kе menu Layanan - Infо KSWP (Gаmbаr 2) kеmudіаn ѕсrоll kе bаwаh  dan  klіk  Prоfіl  Pеmеnuhаn  Kewajiban  Sауа  kеmudіаn  pilih  fаѕіlіtаѕ  yang  іngіn dіmаnfааtkаn (Gаmbаr 3). 
Gambar 1: Login ke www.pajak.go.id


Gambar 2: Info KSWP pada menu Layanan


Gambar 3: Pilihan fasilitas pajak pada Profil Pemenuhan Kewajiban Saya

Pеngаturаn ѕеlеngkарnуа termasuk rіnсіаn іnduѕtrі уаng berhak mеndараtkаn fasilitas, contoh penghitungan, tаtа саrа реngаjuаn, ѕеrtа fоrmаt laporan rеаlіѕаѕі реmаnfааtаn fasilitas dapat dіlіhаt pada Peraturan Menteri Kеuаngаn Nоmоr 44/PMK.03/2020 yang mulаі  berlaku  pada tanggal 27 Aрrіl 2020. 

Mengingat іnѕеntіf ini diberikan untuk mаѕа pajak Aрrіl 2020 hіnggа September 2020 dan реnеrbіtаn Peraturan Menteri Kеuаngаn іnі sudah mendekati akhir bulаn April 2020 ѕеrtа mempertimbangkan proses deployment sistem арlіkаѕі online tеrkаіt perluasan sektor penerima fаѕіlіtаѕ, mаkа DJP mеngаmbіl kebijakan bahwa pemberitahuan реmаnfааtаn іnѕеntіf PPh Pаѕаl 21 dіtаnggung реmеrіntаh dаn/аtаu реngurаngаn аngѕurаn PPh Pasal 25 уаng disampaikan sampai  dengan 31 Mei 2020 tetap berlaku untuk mаѕа раjаk Aрrіl 2020. Kеbіjаkаn ini аkаn dіtuаngkаn dalam Surat Edaran Dіrеktur Jеndеrаl Pаjаk. 

Perbedaan Sistem Perpajakan Classical System dengan One-Tier System

Pеmеrіntаh berencana menghapus раjаk penghasilan (PPh) atas dividen dаlаm nеgеrі уаng diterima аtаu dіреrоlеh oleh subjek pajak оrаng рrіbаdі dаlаm nеgеrі. Rеnсаnа ini akan dіmаѕukkаn dalam rаnсаngаn оmnіbuѕ lаw perpajakan. 

Dengan sistem уаng аdа selama іnі, реmеrіntаh menerapkan сlаѕѕісаl ѕуѕtеm. Dеngаn adanya penghapusan PPh dіvіdеn dalam оmnіbuѕ lаw реrраjаkаn іtu, реmеrіntаh аkаn bеrаlіh mеnggunаkаn one-tier ѕуѕtеm. Pеrubаhаn іnі dірrоуеkѕі akan menghilangkan раjаk bеrgаndа. 

Untuk mеmаhаmі kedua sistem tersebut, ѕеhіnggа akan menghilangkan rіѕіkо реmаjаkаn bеrgаndа, Sоbаt Akuntаnѕі perlu mеngеtаhuі ара yang dіmаkѕud dеngаn сlаѕѕісаl ѕуѕtеm dan оnе-tіеr ѕуѕtеm. 

Classical Sуѕtеm 

Mеrujuk раdа IBFD International Tаx Glossary (2015), classical system (ѕераrаtе еntіtу system; twо tier tаx) аdаlаh ѕuаtu sistem реrраjаkаn, dі mаnа раjаk dіkеnаkаn аtаѕ lаbа уаng dіhаѕіlkаn di tіngkаt реruѕаhааn. Kеmudіаn, pajak dіkеnаkаn lagi atas laba bеrѕіh (іnсоmе аftеr tаx) dі tіngkаt pemegang ѕаhаm orang рrіbаdі. Sіѕtеm іnі tіdаk mеmuаt mitigasi pemajakan bеrgаndа (dоublе taxation). 

Sementara іtu, mеnurut Cnоѕѕеn (1996) classical ѕуѕtеm adalah suatu ѕіѕtеm уаng mеngеnаkаn pajak duа kаlі аtаѕ реnghаѕіlаn yang bersumber dari реrѕеrоаn, уаіtu раdа tingkat perseroan dаn раdа tіngkаt реmеgаng ѕаhаm saat dіbаgіkаn sebagai dіvіdеn. Dеngаn demikian, сlаѕѕісаl system mеmаndаng реrѕеrоаn sebagai еntіtаѕ уаng terpisah dеngаn реmіlіknуа. 

Adapun sistem ini menimbulkan pemajakan berganda secara еkоnоmіѕ kаrеnа аtаѕ laba atau реnghаѕіlаn уаng sama dіkеnаkаn раjаk dua kаlі, уаіtu dі lеvеl kоrроrаѕі dan dі lеvеl реmеgаng ѕаhаm. Sеbаgаі kоnѕеkuеnѕіnуа, ѕіѕtеm іnі dараt mеndоrоng tеrbеntuknуа perilaku реnghіndаrаn раjаk. Hal іnі lantaran аdа kаlаnуа, pemegang saham іngіn menghindari раjаk atas dividen. 

Uрауа penghindaran іnіlаh уаng mеmісu аdаnуа рrаktіk dіvіdеn terselubung (dіѕguіѕеd dіvіdеnd), реnуеmbunуіаn реngеndаlі аtаѕ manfaat (bеnеfісіаl owner), hіnggа adanya ѕkеmа re-routing investment ѕеbаgаі реrеnсаnааn pajak. Mеlіhаt dari kоnѕеkuеnѕі negatif yang dіtіmbulkаn, mеnjаdі hаl lumrаh jika реmеrіntаh hendak bеrаlіh kе оnе-tіеr system. 

Onе-Tіеr System 

Dаlаm IBFD International Tax Glоѕѕаrу (2015), one-tier ѕуѕtеm аtаu dіvіdеnd-еxсluѕіоn system adalah ѕuаtu ѕіѕtеm perpajakan, di mаnа раjаk dіbеbаnkаn atas laba уаng dіhаѕіlkаn hаnуа раdа tіngkаt perusahaan. Berdasarkan ѕіѕtеm ini, реnghаѕіlаn реrѕеrоаn hanya dіkеnаkаn pajak ѕаtu kali dі tіngkаt perseroan. 

Olеh kаrеnа itu, kеtіkа penghasilan perseroan tеrѕеbut dibagikan ѕеbаgаі dіvіdеn kераdа реmеgаng ѕаhаm orang рrіbаdі, реnghаѕіlаn dividen іnі tіdаk dіkеnаkаn pajak lаgі раdа оrаng pribadi tеrѕеbut. Orаng рrіbаdі itu tіdаk mеmbауаr pajak lаgі kаrеnа аdа реngесuаlіаn dіvіdеn sebagai реnghаѕіlаn kеnа pajak pemegang ѕаhаm. Ini bеrbеdа dengan classical ѕуѕtеm. 

Sederhananya, dаlаm ѕіѕtеm ini, setiap dividen yang berasal dari dаlаm negeri уаng dіtеrіmа аtаu dіреrоlеh oleh pemegang ѕаhаm orang рrіbаdі dаlаm nеgеrі аkаn dіkесuаlіkаn dаrі реngеnааn PPh dі Indоnеѕіа. Pеrѕуаrаtаnnуа, sesuai rеnсаnа dalam оmnіbuѕ lаw, ѕераnjаng dividen tеrѕеbut dі іnvеѕtаѕіkаn dі Indonesia dаlаm jangka wаktu tertentu. 

Arti Dividen Terselubung Menurut Pajak

Pemerintah bеrеnсаnа mеnghарuѕ pajak реnghаѕіlаn (PPh) аtаѕ dіvіdеn dаlаm nеgеrі yang dіtеrіmа аtаu diperoleh subjek раjаk рrіbаdі dаlаm negeri. Rеnсаnа kebijakan tersebut akan mаѕuk dalam RUU оmnіbuѕ law perpajakan. 

Dеngаn rеnсаnа tersebut, pemerintah secara otomatis аkаn mengubah rеzіm сlаѕѕісаl ѕуѕtеm mеnjаdі rezim оnе-tіеr ѕуѕtеm. Pаѕаlnуа, dі bаwаh rеzіm сlаѕѕісаl system munсul fenomena pembagian dіvіdеn terselebung untuk mеnghіndаrі реngеnааn раjаk. 

Lantas, apa ѕеbеnаrnуа yang dіmаkѕud dеngаn dіvіdеn dаn dіvіdеn tеrѕеlubung mеnurut раjаk? 

Menurut ketentuan pajak уаng berlaku ѕааt іnі, yaitu Pаѕаl 4 ауаt (1) huruf g UU PPh, dividen merupakan penghasilan ѕеbаgаі оbjеk раjаk bаgі уаng mеnеrіmаnуа. Berdasarkan penjelasan раѕаl tеrѕеbut, dividen аdаlаh bagian lаbа уаng dіреrоlеh pemegang ѕаhаm аtаu реmеgаng роlіѕ аѕurаnѕі atau pembagian ѕіѕа hаѕіl usaha kореrаѕі уаng dіреrоlеh anggota koperasi. 

Adapun yang termasuk dаlаm реngеrtіаn dіvіdеn аdаlаh sebagai berikut: 

  1. реmbаgіаn laba bаіk secara lаngѕung аtаuрun tіdаk lаngѕung, dеngаn nama dan dаlаm bеntuk арарun; 
  2. реmbауаrаn kembali karena lіkuіdаѕі уаng melebihi jumlаh mоdаl yang dіѕеtоr; 
  3. реmbеrіаn ѕаhаm bоnuѕ уаng dіlаkukаn tanpa реnуеtоrаn termasuk ѕаhаm bоnuѕ yang berasal dari kаріtаlіѕаѕі аgіо saham; 
  4. pembagian lаbа dаlаm bеntuk saham; 
  5. реnсаtаtаn tаmbаhаn mоdаl уаng dіlаkukаn tаnра реnуеtоrаn; 
  6. jumlah уаng melebihi jumlаh ѕеtоrаn ѕаhаmnуа yang dіtеrіmа аtаu diperoleh реmеgаng ѕаhаm karena реmbеlіаn kembali ѕаhаm-ѕаhаm оlеh реrѕеrоаn yang bеrѕаngkutаn; 
  7. pembayaran kеmbаlі seluruhnya аtаu ѕеbаgіаn dаrі mоdаl уаng disetorkan, jika dalam tahun-tahun yang lаmраu diperoleh kеuntungаn, kесuаlі jіkа pembayaran kеmbаlі іtu аdаlаh аkіbаt dari реngесіlаn modal dаѕаr (ѕtаtutеr) уаng dіlаkukаn secara sah; 
  8. реmbауаrаn ѕеhubungаn dеngаn tаndа-tаndа laba, tеrmаѕuk уаng diterima ѕеbаgаі реnеbuѕаn tаndа-tаndа laba tеrѕеbut; 
  9. bаgіаn laba ѕеhubungаn dеngаn pemilikan оblіgаѕі; 10) bаgіаn lаbа yang diterima оlеh pemegang роlіѕ; 
  10. pembagian bеruра ѕіѕа hаѕіl uѕаhа kepada anggota kореrаѕі; 
  11. реngеluаrаn perusahaan untuk keperluan рrіbаdі pemegang ѕаhаm уаng dіbеbаnkаn ѕеbаgаі bіауа реruѕаhааn. 

Sеmеntаrа іtu, terkait dengan dіvіdеn tеrѕеlubung, реnjеlаѕаn Pаѕаl 4 ayat (1) huruf g mеnуаtаkаn lеbіh lаnjut sebagai berikut: 

Dаlаm рrаktіk sering dijumpai реmbаgіаn atau реmbауаrаn dіvіdеn ѕесаrа terselubung, mіѕаlnуа dаlаm hal реmеgаng saham yang tеlаh mеnуеtоr реnuh mоdаlnуа dаn mеmbеrіkаn pinjaman kepada реrѕеrоаn dengan imbalan bungа уаng melebihi kеwаjаrаn. 

Apabila terjadi hal yang dеmіkіаn mаkа ѕеlіѕіh lebih аntаrа bunga уаng dіbауаrkаn dan tingkat bungа yang bеrlаku dі раѕаr, diperlakukan sebagai dіvіdеn. Bagian bungа yang dіреrlаkukаn sebagai dividen tеrѕеbut tіdаk bоlеh dibebankan ѕеbаgаі bіауа oleh реrѕеrоаn уаng bersangkutan. 

Strategi Mencegah Masalah Perpajakan Dari Segi Akuntansi

Pajak adalah kewajiban warga negara yang harus diurus dan dilunasi pada periode tertentu agar tidak menyebabkan masalah dalam hidup. Pada kenyataannya, tidak ada orang yang suka di audit dan membayar tagihan pajak selama bertahun-tahun.

Konsekuensi-konsekuensi yang mungkin dialami oleh para wajib pajak yang tidak mau di audit dan tidak membayar pajak antara lain penyitaan dan kurungan penjara. Berbagai risiko sebaiknya dihindari dengan banyak cara, salah satunya adalah membangun kebiasaan baik dari sekarang dan mengetahui hal-hal yang berisiko untuk dilakukan.

Beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mencegah masalah perpajakan sebagai berikut.

1. Harus Teliti terhadap Rincian Usaha
Untuk profesi tertentu yang memperoleh pemasukan secara tunai seperti pelayan, bartender, penata rambut atau profesi yang memiliki pembukuan berbeda atau khusus seperti dokter, pengacara, atau akuntan umumnya lebih rentan terhadap audit.

Orang-orang dengan profesi seperti itu harus selalu teliti dengan segala rincian kegiatan usaha sehingga harus mencatat segala sesuatu yang terjadi agar terhindar dari kesalahan. Para wirausahawan juga rentan terhadap audit, khususnya para pemilik perusahaan yang baru berdiri.

Perusahaan yang baru berdiri lebih rentan terkena masalah daripada perusahaan yang sudah lama. Para auditor atau pihak yang menyelenggarakan audit lebih suka menyelidiki perusahaan kecil dan baru sehingga para pebisnis atau pemilik perusahaan harus menjaga kredibilitas dan tidak melakukan kesalahan fatal.

2. Jelaskan Segala Sesuatu Secara Lengkap
Catatan keuangan yang rentan terkena masalah tentu saja harus di antisipasi oleh perusahaan. Bagian keuangan khususnya para akuntan harus mempersiapkan semua hal yang dapat digunakan untuk menjelaskan nya.

Pakailah bukti keuangan seperti nota, catatan pengeluaran, dan bukti apapun yang ada untuk menjelaskan hal-hal tertentu yang mungkin dianggap tidak wajar. Penjelasan yang masuk akal akan mengatasi berbagai kecurigaan yang muncul sehingga terhindar dari masalah.

3. Ketahui Pertanyaan-Pertanyaan yang Mungkin Muncul
Beberapa hal yang mungkin dicari tahu dan dipertanyakan dalam audit perpajakan adalah pengeluaran, pendapatan, aset, keuntungan, dan berbagai pengeluaran seperti perjalanan, konsumsi, dan hiburan. Catatlah semuanya dengan jelas dan tidak mencurigakan agar perusahaan atau bisnis tidak terkena masalah.

4. Ketahui Waktu atau Periode Pelaporan Pajak
Tepat waktu adalah kunci utama agar terhindar dari masalah perpajakan. Kemungkinan mendapatkan masalah semakin kecil jika melapor pajak sebelum tenggat waktu. Ingatlah, kewajiban membayar pajak tepat waktu jauh lebih penting dan baik untuk dilakukan.

5. Hitung Semuanya secara Akurat
Jangan pernah merasa mahir berhitung karena berhitung dengan kalkulator jauh lebih akurat. Setelah itu, periksa ulang semua yang sudah tercatat. Berhati-hatilah karena jumlah uang yang dilaporkan harus sesuai agar tidak timbul keraguan tentang keaslian data.

6. Cantumkan Jumlah atau Nominal Secara Pasti
Untuk hal-hal yang berhubungan dengan keuangan, terutama pajak maka sangat tidak disarankan untuk membulatkan angka. Tulislah jumlah uang apa adanya secara pasti dan jelas agar auditor tidak mencurigai adanya kecurangan.

Pada saat pihak tertentu seperti auditor sedang mencari kesalahan maka hindari celah sekecil apapun yang memiliki kemungkinan menjadi masalah. Agar terhindar dari masalah sebaiknya jawab setiap pertanyaan yang ada dan isi setiap ruang kosong, meskipun hanya dengan tanda strip atau angka nol.

Kemungkinan terjadinya masalah perpajakan bisa terjadi kapan saja tanpa disadari. Perusahaan harus selalu siap menghadapinya karena pajak itu harus selalu dibayar. Simpanlah catatan yang lengkap dan terstruktur sehingga pihak auditor bisa meyakini suatu usaha benar-benar bersih dan tidak ada yang harus disembunyikan.

Mengurus pajak memang terkadang menjadi masalah sendiri dalam kelangsungan bisnis. Perhitungan pajak yang cukup memakan banyak waktu akan membuat operasional bisnis sobat akuntansi tidak efisien jika dilakukan secara manual.

Pencatatan Transaksi Terkait PPh Pasal 24

Sobat akuntansi, saya akan lanjutkan tulisan saya untuk pencatatan transaksi terkait Pajak Penghasilan Pasal 24. Sebelumnya saya sudah membahas untuk pencatatan transaksi PPh pasal 21 - Pasal 23. Semoga tulisan saya berikut ini bermanfaat untuk sobat akuntansi semua.

Bagi Wajib Pajak Dalam negeri, penghasilan yang dikenakan Pajak Penghasilan adalah seluruh penghasilan, baik penghasilan yang diterima atau diperoleh dari Indonesia maupun luar negeri (world wide income). Atas penghasilan yang diperoleh dari luar negeri, biasanya juga dikenakan pajak oleh negara tempat penghasilan  tersebut  diperoleh.  Hal  ini  akan  menimbulkan  pajak  berganda internasional. 

Untuk mengurangi dampak pajak berganda tersebut, Pasal 24 Undang-undang Pajak Penghasilan mengatur bahwa pajak yang dibayar atau terutang di luar negeri atas penghasilan yang diperoleh atau diterima dari luar negeri boleh di kredit kan terhadap pajak yang terutang pada akhir tahun. Namun, besarnya kredit pajak tersebut tidak boleh melebihi penghitungan pajak terutang menurut Undang-Undang  Pajak  Penghasilan.  Hal  ini dikenal  dengan  metode  kredit terbatas per negara (ordinary credit per country basis). 

PPh Pasal 24 adalah pajak yang terutang di luar negeri yang bisa dikredit kan dari PPh terutang dalam suatu tahun pajak. Tidak semua pajak yang terutang di luar negeri bisa dikredit kan. Besarnya PPh Pasal 24 maksimal dihitung untuk setiap negara, dengan formula :

Penghasilan Neto Neg. A 
------------------------------------ X PPh Terutang 
Penghasilan Kena Pajak 


Contoh :
PT Anugerah merupakan perusahaan dagang yang memiliki cabang di Vietnam dan Malaysia. Ringkasan penghasilan neto untuk tahun pajak 2013 adalah sebagai berikut: 
                                                                             Penghasilan Neto     Pajak Terutang di LN 

-  Penghasilan neto dalam negeri                      Rp 8.000.000.000                     -
-  Penghasilan neto cabang Vietnam              Rp    500.000.000 Rp 150.000.000
-  Penghasilan neto cabang Malaysia              Rp 1.500.000.000 Rp 300.000.000
-  Jumlah penghasilan neto                              Rp10.000.000.000 Rp 450.000.000

-  PPh Terutang PT Anugerah tahun pajak 2013 

Rp10.000.000.000 x 25% =  Rp2.500.000.000 

Batas maksimal PPh Pasal 24 

Negara Vietnam: 500 Juta/10 Milyar x Rp 2.500.000.000 = Rp 125.000.000 
Negara Malaysia: 1.5 Milyar/10 Milyar x Rp 2.500.000.000 = Rp 375.000.000 

Besarnya PPh Pasal 24 
Negara Vietnam adalah Rp125 juta 
Pajak yang terutang di Vietnam Rp 150 juta melebihi batas maksimal Rp 125 juta, sehingga yang dapat dikreditkan adalah Rp 125 juta 

Negara Malaysia adalah Rp 300 juta 
Pajak yang terutang di Malaysia Rp 300 juta lebih rendah daripada batas maksimal Rp 375 juta, sehingga pajak yang dapat dikreditkan sebesar Rp300 juta. 

Pelunasan pajak di luar negeri dapat dilakukan melalui pemotongan/pemungutan oleh pihak lain maupun dibayar sendiri. Atas pemotongan / pemungutan pajak oleh pihak lain dan dibayar sendiri di luar negeri, pencatatan dalam jurnal sama dengan  pemotongan / pemungutan  pajak  dan  pembayaran  di  dalam  negeri. 

Misalnya dari contoh di atas, PT Anugerah membayar angsuran pajak luar negeri setiap bulan sebesar Rp 25.000.000 sehingga jumlah pajak yang dibayar sendiri adalah Rp 300.000.000. 

Jurnal  yang  dicatat  oleh  PT  Anugerah  jika  digunakan  Standar  Akuntansi Keuangan ETAP (Entitas Tanpa Akuntanbilitas Publik) adalah sebagai berikut: 


Tiga jurnal yang pertama di atas untuk mencatat pembayaran angsuran pajak luar negeri setiap bulan, dengan cara mendebit Pajak Penghasilan Luar Negeri Dibayar Dimuka karena pada akhir tahun dapat dikreditkan dengan PPh yang terutang di luar negeri. 

Pada ayat jurnal yang keempat tanggal 31 Desember, besarnya pajak yang terutang di luar negeri adalah Rp 450.000.000, yang terdiri dari pajak yang terutang di Vietnam sebesar  Rp 150.000.000  dan di Malaysia sebesar Rp 300.000.000. 

Jumlah pajak yang di angsur sendiri setiap bulan di luar negeri selama tahun 2013 adalah Rp 300.000.000 sehingga pajak kurang bayar di luar negeri adalah sebesar Rp 150.000.000. 

Pada ayat jurnal yang terakhir tanggal 31 Desember, dari jumlah pajak yang terutang di luar negeri sebesar Rp 450.000.000 yang merupakan PPh Pasal 24 adalah sebesar Rp 425.000.000. PPh Pasal 24 tersebut dapat di kreditkan dengan jumlah PPh terutang tahun pajak 2013 atas seluruh penghasilan dari dalam dan luar negeri. 

Demikian tulisan saya kali ini, semoga bermanfaat. Dan sampai jumpa dengan tulisan saya berikut nya. Terima Kasih.

SPT Masih Bisa Dianggap Tidak Disampaikan Walau Sudah Mendapat BPE?

Wajib Pajak yang sudah melakukan pelaporan Surat Pemberitahuan (SPT) secara online (e-Filing) baik melalui laman DJP atau Penyalur SPT Elektronik akan mendapatkan Bukti Penerimaan Elektronik (BPE).

BPE berfungsi sebagai tanda terima penyampaian SPT e-Filing yang berisi informasi yang meliputi nama, Nomor Pokok WP, tanggal, jam, Nomor Tanda Terima Elektronik dan keterangan lainnya yang tertera pada hasil cetakan bukti penerimaan.

Atas penyampaian SPT melalui e-filing tersebut, Kantor Pelayanan Pajak (KPP) akan melakukan penelitian. Berdasarkan Pasal 15 Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER - 02/PJ/2019 bahwa atas penelitian SPT yang dilakukan KPP, KPP masih dapat menerbitkan Surat Permintaan Kelengkapan SPT kepada Wajib Pajak dalam hal diketahui SPT tersebut tidak diisi dengan lengkap dan belum sepenuhnya dilampiri keterangan dan/atau dokumen yang dipersyaratkan. Penerbitan Surat Permintaan Kelengkapan SPT tersebut dapat dilakukan dalam jangka waktu 30 (tiga puluh) hari setelah tanggal pada BPE.

Selanjutnya, dalam jangka waktu 30 (tiga puluh) hari setelah tanggal Surat Permintaan Kelengkapan SPT diterbitkan, Wajib Pajak harus menyampaikan kelengkapan SPT dalam bentuk Portable Document Format (PDF) atau format lainnya yang ditentukan Direktorat Jenderal Pajak dengan cara:

Diunggah melalui e-Filing;
Disampaikan langsung ke TPT KPP tempat Wajib Pajak terdaftar;
Disampaikan melalui pos dengan bukti pengiriman surat; atau
Disampaikan melalui perusahaan jasa ekspedisi atau jasa kurir dengan bukti pengiriman surat.

Dalam hal Wajib Pajak tidak menyampaikan kelengkapan SPT dalam jangka waktu sebagaimana dimaksud di atas atau menyampaikan kelengkapan SPT namun tidak sesuai dengan Surat Permintaan Kelengkapan SPT, kepada Wajib Pajak diterbitkan Surat Pemberitahuan SPT Dianggap Tidak Disampaikan.

Penentuan Metode Transfer Pricing Saat Mengisi Lampiran Khusus 3A

Dalam rangka pengisian SPT Tahunan PPh Badan, Wajib Pajak diwajibkan untuk mengisi, menandatangani dan melampirkan Lampiran Khusus 3A jika terdapat transaksi dalam hubungan istimewa (transaksi afiliasi). Adapun hubungan istimewa ini dapat terjadi karena ketergantungan atau keterikatan satu dengan yang lain yang disebabkan karena:

1. Kepemilikan atau penyertaan modal

Hubungan istimewa dianggap ada apabila terdapat hubungan kepemilikan yang berupa penyertaan modal sebesar 25% (dua puluh lima persen) atau lebih secara langsung atau pun tidak langsung.

2. Adanya penguasaan melalui manajemen atau penggunaan teknologi.

Hubungan istimewa di antara Wajib Pajak dapat juga terjadi karena penguasaan melalui manajemen atau penggunaan teknologi, walaupun tidak terdapat hubungan kepemilikan. Hubungan istimewa dianggap ada apabila satu atau lebih perusahaan berada di bawah penguasaan yang sama. Demikian juga hubungan di antara beberapa perusahaan yang berada dalam penguasaan yang sama tersebut.

Salah satu hal yang cukup krusial dalam pengisian Lampiran Khusus 3A adalah pengisian metode penetapan harga (metode Transfer Pricing) dan alasannya. Menurut Undang-Undang Pajak Penghasilan, jenis metode Transfer Pricing yang dapat dipilih dalam rangka penerapan prinsip Kewajaran dan Kelaziman Usaha (Arm's length principle/ALP) dalam transaksi afiliasi adalah sebagai berikut :
  1. Metode Perbandingan Harga antara Pihak yang tidak mempunyai Hubungan Istimewa (Comparable Uncontrolled Price/CUP);
  2. Metode Harga Penjualan Kembali (Resale Price Method/RPM);
  3. Metode Biaya-Plus (Cost Plus Method);
  4. Metode Pembagian Laba (Profit Split Method/PSM); atau
  5. Metode Laba Bersih Transaksional (Transactional Net Margin Method/TNMM).

Berdasarkan Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER - 32/PJ/2011 bahwa dalam rangka menentukan metode Transfer Pricing yang paling sesuai (The Most Appropiate Method), Wajib Pajak wajib memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

Kelebihan dan kekurangan setiap metode,

Kesesuaian metode Transfer Pricing dengan sifat dasar transaksi antar pihak afiliasi, yang ditentukan berdasarkan analisis fungsional,

Ketersediaan informasi yang handal (sehubungan dengan transaksi afiliasi) untuk menerapkan metode yang dipilih dan/atau metode lain, tingkat kesebandingan antara transaksi afiliasi dengan transaksi independen, termasuk kehandalan penyesuaian yang dilakukan untuk menghilangkan pengaruh yang material dari perbedaan yang ada.

Terakhir bagi Wajib Pajak yang memiliki kewajiban untuk menyediakan Dokumen Lokal sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 213/PMK.03/2016, seyogyanya pengisian metode Transfer Pricing beserta alasannya pada Lampiran 3A sama dengan apa yang dimuat pada Dokumen Lokal yang telah disediakan agar tidak menimbulkan dispute di kemudian hari.

Pencatatan Transaksi Terkait PPh Pasal 23

Berdasarkan Pasal 23 ayat (1) huruf a Undang-undang Pajak Penghasilan, tarif PPh Pasal 23 ada dua, yaitu 15% dan 2%. Penghasilan yang merupakan objek pemotongan PPh Pasal 23 dengan tarif 15% dari jumlah bruto adalah 

Berdasarkan Pasal 23 ayat (1) huruf a Undang-undang Pajak Penghasilan 1984, tarif PPh Pasal 23 ada dua, yaitu 15% dan 2%. Penghasilan yang merupakan objek pemotongan PPh Pasal 23 dengan tarif 15% dari jumlah bruto adalah :

a. Dividen 

Tidak semua dividen yang memenuhi objek pemotongan PPh Pasal 23. Dividen sebagaimana diatur dalam Pasal 4 ayat (3) huruf f  Undang-undang Pajak Penghasilan bukan merupakan objek pajak. Sedangkan, dividen yang diterima oleh orang pribadi subjek pajak dalam negeri merupakan objek pemotongan PPh dengan tarif 10% dan bersifat final.

b. Bunga 
Seperti halnya dividen, tidak semua bunga juga menjadi objek pemotongan PPh Pasal 23. Sebagai contoh penghasilan bunga yang diperoleh oleh bank dan perusahaan lembaga keuangan lainnya. Jenis penghasilan bunga yang lain seperti bunga deposito dan tabungan menjadi objek pemotongan PPh Pasal 4 ayat (2) final. 

c. Royalti 
Berdasarkan penjelasan Pasal 4 ayat (1) huruf h Undang-undang Pajak Penghasilan, imbalan berupa royalti terdiri dari enam kelompok, yaitu imbalan sehubungan dengan penggunaan: 

1) Penggunaan atau hak menggunakan hak cipta di bidang kesusastraan, kesenian atau karya ilmiah, paten, desain atau model, rencana, formula atau proses rahasia, merek dagang, atau bentuk hak kekayaan intelektual/industrial atau hak serupa lainnya; 

2) Penggunaan atau hak menggunakan peralatan/perlengkapan industrial, komersial, atau ilmiah; 

3) Pemberian  pengetahuan  atau informasi di bidang ilmiah, teknikal, industrial, atau komersial; 

4)  Pemberian  bantuan  tambahan  atau  pelengkap  sehubungan  dengan penggunaan atau hak menggunakan hak-hak tersebut pada angka 1, penggunaan atau hak menggunakan  peralatan/perlengkapan tersebut pada angka 2, atau pemberian pengetahuan atau informasi tersebut pada angka 3, berupa: 

a) Penerimaan atau hak menerima rekaman gambar atau rekaman suara atau keduanya, yang disalurkan kepada masyarakat melalui satelit, kabel, serat optik, atau teknologi yang serupa; 

b) Penggunaan atau hak menggunakan rekaman gambar atau rekaman suara atau keduanya, untuk siaran televisi atau radio yang disiarkan/dipancarkan melalui satelit, kabel, serat optik, atau teknologi yang serupa; 

c) Penggunaan atau hak menggunakan sebagian atau seluruh spektrum radio komunikasi; 

5) Penggunaan atau hak menggunakan film gambar hidup (motion picture films), film atau pita video untuk siaran televisi, atau pita suara untuk siaran radio; dan 

6) Pelepasan  seluruhnya  atau  sebagian  hak  yang  berkenaan  dengan penggunaan atau pemberian hak kekayaan intelektual/industrial atau hak-hak lainnya sebagaimana tersebut di atas. 

d. Hadiah, penghargaan, bonus dan sejenisnya selain yang telah dipotong Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21 
Hadiah, penghargaan dan bonus sebenarnya merupakan objek pemotongan PPh Pasal 21 juga. Namun harus diperhatikan bahwa ruang lingkup pemotongan PPh Pasal 21 adalah bahwa penerima penghasilannya Wajib Pajak orang pribadi dalam negeri. Apabila penerimanya adalah Wajib Pajak badan dalam negeri atau BUT, maka dipotong PPh Pasal 23.

Selain itu, ada juga penghasilan yang merupakan objek pemotongan PPh Pasal 23 dengan tarif sebesar 2% (dua persen) dari jumlah bruto adalah 

a. sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta, kecuali sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta yang telah dikenai Pajak Penghasilan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (2); dan 

b. imbalan sehubungan dengan jasa teknik, jasa manajemen, jasa konstruksi, jasa  konsultan, dan jasa lain selain jasa yang telah dipotong Pajak Penghasilan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 

Penghasilan dari jenis jasa lain yang merupakan objek pemotongan PPh Pasal 23 diatur dengan Peraturan Menteri Keuangan No. 244/PMK.03/2008, yaitu 

-  Jasa penilai (appraisal) 
-  Jasa aktuaris 
-  Jasa akuntansi, pembukuan dan atestasi laporan keuangan 
-  Jasa perancang (design) 
- Jasa pengeboran (drilling) di bidang pertambangan migas kecuali yang dilakukan oleh BUT 
-  Jasa penunjang di bidang penambangan migas 
-  Jasa penambangan dan jasa penunjang di bidang penambangan selain migas 
-  Jasa penunjang di bidang penerbangan dan bandara 
-  Jasa penebangan hutan 
-  Jasa pengolahan limbah 
-  Jasa penyedia tenaga kerja (outsourcing services) 
-  Jasa perantara dan/atau keagenan 
- Jasa  di  bidang  perdagangan  surat-surat berharga, kecuali yang dilakukan oleh Bursa Efek, KSEI dan KPEI 
-  Jasa  kustodian/penyimpanan/penitipan, kecuali yang dilakukan oleh KSEI 

Berdasarkan PP 94 tahun 2010, saat terutangnya PPh Pasal 23 adalah pada saat 
-   Pembayaran 
-   Disediakan untuk dibayarkan (seperti: dividen) dan 
-  Jatuh tempo pembayaran penghasilan (seperti: bunga dan sewa), saat yang ditentukan dalam kontrak atau perjanjian atau faktur (seperti: royalti, imbalan jasa teknik atau jasa manajemen atau jasa lainnya). 

Yang dimaksud dengan "saat disediakan untuk dibayarkan" untuk dividen adalah: 

a. bagi perseroan terbatas yang tidak go public, adalah saat di bukukan sebagai utang dividen yang akan dibayarkan, yaitu pada saat pembagian dividen diumumkan atau ditentukan dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Tahunan. Demikian pula  apabila perusahaan yang bersangkutan dalam tahun berjalan membagikan dividen sementara (dividen interim), maka Pajak Penghasilan Pasal 23 Undang-Undang Pajak Penghasilan terutang pada saat  diumumkan atau ditentukan dalam Rapat  Direksi  atau  pemegang saham sesuai dengan Anggaran Dasar perseroan yang bersangkutan. 

b. bagi perseroan terbatas yang go public, adalah pada tanggal penentuan kepemilikan pemegang saham yang berhak atas dividen (recording date). Dengan perkataan lain pemotongan Pajak Penghasilan atas dividen sebagaimana diatur dalam Pasal 23 Undang-Undang Pajak Penghasilan baru dapat dilakukan setelah para pemegang saham yang  berhak "menerima atau memperoleh" dividen tersebut diketahui, meskipun dividen tersebut belum diterima secara tunai. 

Sementara itu, yang dimaksud dengan "saat jatuh tempo pembayaran" adalah saat kewajiban untuk melakukan pembayaran yang didasarkan atas kesepakatan, baik yang tertulis maupun tidak tertulis dalam kontrak atau perjanjian atau faktur.

Contoh 2.6: Wajib Pajak yang dipotong PPh Pasal 23 oleh pihak lain 

Firma  Maju  Berjaya (bukan  PKP) memiliki  bidang  usaha  pemberian  jasa konsultan. Transaksi yang terkait dengan penghasilan yang merupakan objek pemotongan PPh Pasal 23 selama bulan Mei 2013 adalah sebagai berikut: 

4 Mei memberikan jasa konsultasi kepada CV Semangat dengan mendapat imbalan Rp50 juta tunai 

17 Mei memberikan jasa konsultasi kepada PT ABC dengan mendapat imbalan Rp100 juta yang akan diterima tanggal 21 Mei 

21 Mei menerima pembayaran dari PT ABC 

25 Mei Firma Maju Berjaya memiliki 10% saham PT Mina Jaya yang belum go-public. Pada tanggal 25 Mei melalui rapat umum pemegang saham PT Mina Jaya mengumumkan pembagian   dividen   sebesar Rp500 juta. 

31 Mei   menerima pembayaran dividen dari PT Mina Jaya 

Jurnal yang dicatat oleh Firma Maju untuk mencatat transaksi di atas :

Transaksi tanggal 4 Mei, Firma Maju memberikan jasa konsultansi kepada CV Semangat dan menerima honor Rp50.000.000. CV Semangat wajib memotong PPh Pasal 23 sebesar Rp50.000.000 x 2% = Rp1.000.000, sehingga kas yang diterima  oleh  Firma  Maju  adalah  Rp50.000.000  dikurang  Rp1.000.000 = Rp49.000.000. Bagi Firma Maju, PPh Pasal 23 yang dipotong oleh CV Semangat merupakan pajak dibayar dimuka karena pada akhir tahun dapat dikreditkan dengan PPh terutang. 

Contoh 2.7: Wajib Pajak sebagai pemotong PPh Pasal 23 

Firma  Maju  Berjaya (bukan  PKP)  memiliki  bidang  usaha  pemberian  jasa konsultan manajemen. Transaksi yang terkait dengan biaya yang merupakan objek pemotongan PPh Pasal 23 selama bulan Mei 2013 adalah sebagai berikut: 

8 Mei menyewa mobil PO Express untuk 5 hari dengan sewa sebesar Rp2.000.000, dibayar tunai 

10 Juni menyetor utang PPh Pasal 23 ke kas negara 

Jurnal yang dicatat oleh Firma Maju untuk mencatat transaksi di atas :

Transaksi tanggal 8 Mei, Firma Maju menyewa mobil untuk lima hari sebesar Rp2.000.000.   Atas   pembayaran  sewa  mobil   tersebut,   Firma   Maju   wajib memotong PPh Pasal 23 sebesar Rp2.000.000 x 2% = Rp40.000. PPh Pasal 23 yang dipotong oleh Firma Maju wajib disetor ke kas negara sehingga timbul utang PPh Pasal 23. Pada tanggal 10 Juni Firma Maju menyetor seluruh utang PPh Pasal 23 yang dipotong selama bulan Mei ke kas negara dan melaporkan melalui SPT Masa PPh Pasal 23. 
 
Copyright © 2020 INFO AKUNTAN

Powered by Aditya Tarigan