INFO UPDATE

Prosedur Audit Subtantif Saldo Piutang Usaha

Sahabat Akuntansi setelah sebelumnya Saya membahas tentang PROSEDUR AUDIT SUBTANTIF SALDO KAS DAN BANK, hari ini Saya akan lanjutkan dengan prosedur audit subtantif untuk saldo piutang usaha atau piutang dagang yang digunakan oleh Auditor Eksternal. Dengan artikel ini, harapan Saya sahabat akuntansi bisa lebih mengerti lagi tentang audit. Tidak panjang lebar berikut akan Saya bahas prosedur audit untuk saldo piutang usaha.

Tujuan Audit saldo Piutang Usaha atau Piutang Dagang yaitu :

  • Piutang yang tercatat merupakan jumlah piutang yang benar-benar ada dan menjadi hak perusahaan dan tidak terdapat piutang yang fiktif, maupun yang tidak tercatat pada tanggal neraca.
  • Pisah batas (cut-off) pengiriman/penjualan telah dilakukan dengan memuaskan.
  • Penyisihan piutang yang diragukan telah ditetapkan secara memadai.
  • Piutang yang dijadikan sebagai jaminan atau yang didiskontokan telah diidentifikasikan untuk diungkapkan dalam Catatan atas Laporan Keuangan serta ketepatan penyajian dan klasifikasi piutang dalam neraca.


Prosedur Audit yang dilakukan adalah :

Bandingkan piutang dagang, penyisihan piutang ragu-ragu dan ratio-ratio berikut pada akhir tahun dengan informasi yang sebanding periode sebelumnya atau dengan anggaran (jika dapat diandalkan), dan dapatkan penjelasan-penjelasan untuk fluktuasi yang penting
Jumlah dari penjualan dalam piutang;
Ratio terhadap penjualan yaitu  Retur penjualan dan Potongan tunai;
Ratio biaya piutang ragu-ragu terhadap piutang;
Ratio-ratio lain untuk biaya operasi yang diharapkan bervariasi dengan penjualan dan piutang.

Minta daftar umur piutang pada tanggal neraca.  Lakukan footing (penjumlahan kebawah) atas daftar tersebut.  Bandingkan jumlah yang terdapat dalam daftar dengan saldo buku besar dan buku besar tambahan.

Tentukan apakah saldo individu yang terdapat dalam daftar telah dianalisa dengan benar (misalnya alokasi pembagian umur piutang) dengan jalan mengkaitkannya kepada bukti-bukti pendukung (misalnya faktur penjualan dan sebagainya).

Untuk pos-pos piutang yang material, dapatkan daftar seperti dibawah ini :
Sifat dari perkiraan, syarat pembayaran termasuk bunga, tingkat bunga dan sebagainya;
Saldo pada awal tahun termasuk piutang bunga;
Penambahan selama tahun berjalan;
Pendapat yang diterima dimuka selama tahun berjalan;
Saldo pada akhir tahun termasuk piutang bunga.

Lakukan investigasi atas piutang yang bersaldo kredit dan pertimbangkan apakah terdapat kemungkinan adanya penjualan yang tidak tercatat atau memerlukan pengklasifikasian kembali.


Kirimkan konfirmasi atas piutang masing-masing langganan yang telah dipilih

Apabila jawaban konfirmasi yang diterima kurang dari 50% dari permintaan konfirmasi, minta bantuan perusahaan untuk memperoleh jawaban tersebut.

Telaah kewajaran penyisihan piutang yang diragukan pada tanggal neraca dengan manajer bagian kredit dan penagihan atau pejabat lain yang berwenang. 

Sehubungan dengan piutang yang telah jatuh tempo, periksa korespondensi dengan langganan dan data lainnya dalam arsip kredit mengenai prospek dapat tidaknya piutang itu ditagih.

Lakukan investigasi mengenai sifat dan asal saldo individu masing-masing piutang yang besar tidak sering terjadi.  Jika memungkinkan, dapatkan informasi sehubungan dengan keadaan keuangan masing-masing langganan yang bersangkutan.


Pilih seluruh saldo piutang yang material yang dihapuskan, dan  :
Lihat apakah saldo yang dihapuskan tersebut telah disetujui oleh yang berwenang dan terdapat kontrol terhadap kemungkinan penagihan piutang tersebut dikemudian hari;
Perhatikan dokumen-dokumen yang mendukung piutang-piutang yang dihapuskan tersebut untuk tujuan fiskal;
Pastikan bahwa pembebanan penghapusan piutang yang diragukan telah dilakukan dengan benar.

Jika syarat-syarat penjualan atau pembayaran menyebutkan terdapatnya pendapatan bunga atas saldo individu masing-masing piutang, pastikan bahwa pendapatan bunga tersebut telah dihitung dan dicatat dengan benar.

Periksa dokumen-dokumen/data-data akuntansi berikut untuk beberapa hari sebelum dan sesudah tanggal neraca  :
Bukti-bukti pengiriman barang dan faktur penjualan yang bersangkutan;
Catatan-catatan mengenai pengembalian dan klaim langganan-langganan atau kredit memo perusahaan;
Catatan dan arsip dokumen-dokumen yang tersebut di atas yang tidak dapat dicocokkan satu dengan lainnya.

Jika terdapat piutang dagang perusahaan dalam bentuk valuta asing, periksa apakah penjabaran kurs tersebut telah dilakukan dengan benar.


Tentukan dengan jalan menelaah perjanjian hutang, rapat umum pemegang saham, jawaban-jawaban konfirmasi yang bersangkutan, dan data-data/dokumen-dokumen pendukung lainnya jika terdapat kemungkinan bahwa piutang tersebut telah dijaminkan atau didiskontokan.

Susun jurnal koreksi dan kertas kerja serta kesimpulan hasil audit.

Demikian prosedur-prosedur audit untuk saldo piutang usaha atau piutang dagang yang biasanya digunakan oleh Auditor Eksternal untuk memastikan kebenaran dan kewajaran saldo tersebut, semoga artikel ini bermanfaat bagi sahabat akuntansi dan apabila ada kesalahan kata atau kekurangan informasi mohon dimaafkan, Terima Kasih.

Prosedur Audit Subtantif Saldo Kas dan Bank

Sahabat akuntansi, hari ini Saya akan membahas beberapa prosedur audit yang dilakukan oleh seorang Auditor untuk audit akun Kas dan Bank.


Tujuan Audit Kas dan Bank :

Untuk menentukan bahwa : 

Saldo kas dan bank yang tercantum di neraca benar-benar ada, dimiliki oleh perusahaan dan disajikan secara wajar. 

Semua transaksi kas dan bank telah dicatat sesuai dengan standar akuntansi yang berlaku (sebagai aktiva lancar dan bila saldo kredit disajikan sebagai kewajiban). 

Semua pembatasan-pembatasan atas penggunaan kas dan rekening bank berikut aktiva yang dijadikan jaminan (misalnya saham-saham yang dipakai sebagai jaminan atas cerukan) telah diungkapkan di dalam catatan atas Laporan Keuangan. 

PROSEDUR PENGUJIAN SUBSTANTIF PENDAHULUAN

K a s : 

Tentukan unsur-unsur kas dengan melihat pada catatan perusahaan. Buat daftar yang menunjukkan penanggung jawab kas (kasir), lokasi dan jumlah saldo kas tersebut. Tentukan dana kas mana yang akan dihitung atau dikonfirmasi. 

Lakukan perhitungan atas dana kas yang sudah ditentukan (lihat Petunjuk Program Audit Pengujian Substantif untuk Penghitungan Kas). 

B a n k :

Tanyakan apakah di dalam perkiraan bank termasuk juga dana-dana lain diluar yang dimiliki perusahaan, misalnya dana perserikatan karyawan atau dana tabungan karyawan. 

Dapatkan copy rekonsiliasi bank untuk semua bank yang ada. Pilih bank rekonsiliasi mana yang akan diperiksa dan lakukan pengujian terhadap rekonsiliasi bank tersebut. 

Periksa cek-cek yang telah lama dikeluarkan tetapi belum diuangkan dan jika perlu dicatat kembali sebagai hutang. 

Pemindahan dana antar bank, dapatkan dari perusahaan daftar pemindahan dana antar bank untuk masa beberapa hari sebelum dan sesudah tanggal neraca : 
Pemindahan didalam perusahaan yaitu: Pemindahan antar bank, Pemindahan antar rekening. Serta pemindahan antara perusahaan dengan cabangnya. 

Periksa pemindahan dana dalam jumlah yang besar ke dokumen-dokumen pendukungnya. 

Periksa apakah transaksi-transaksi tersebut telah dicatat pada periode yang sama. Jika ada transaksi yang belum dicatat oleh bank maka transaksi ini dimasukkan sebagai unsur rekonsiliasi. 

PEMERIKSAAN AKHIR TAHUN

Jika dana kas jumlahnya material, yakinkan bahwa pembayaran-pembayaran dalam jumlah besar yang dilakukan sebelum tanggal neraca telah dibukukan pada perkiraan yang tepat dan tidak termasuk lagi dalam perkiraan kas.

Untuk dana kas di cabang-cabang yang jumlahnya material, kirimkan konfirmasi untuk saldo pada tanggal neraca.

Kirim konfirmasi bank ke semua bank yang mempunyai hubungan dengan perusahaan.

Minta copy rekonsiliasi bank untuk semua bank per tanggal neraca dan lakukan prosedur berikut :
Periksa ketelitian penjumlahan dari rekonsiliasi tersebut.
Bandingkan saldo bank pada rekonsiliasi dengan jawaban konfirmasi yang diterima Auditor langsung dari bank.
Bandingkan saldo per buku pada rekonsiliasi dengan saldo yang tercantum di buku besar.
Periksa transaksi yang tidak lazim yang ada dalam rekonsiliasi ke dokumen pendukungnya

Dapatkan langsung dari bank atau dari perusahaan copy rekening koran untuk masa paling sedikit satu minggu setelah tanggal neraca. Periksa transaksi-transaksi yang tidak lazim.

Jika perusahaan mempunyai saldo kas dalam mata uang asing :
Tentukan apakah saldo ini telah dijabarkan ke mata uang Rupiah dengan menggunakan kurs pada akhir tahun.
Jelaskan jika ada pembatasan-pembatasan atas penggunaan dana tersebut.

Jika terdapat indikasi adanya cek-cek yang dibuat sebelum tanggal neraca tetapi dikeluarkan setelah tanggal neraca :
Tanyakan apakah ada penundaan dalam pengeluaran cek tersebut.
Pada rekonsiliasi bank periksa cek-cek yang telah lama beredar atau belum diuangkan untuk jangka waktu yang lama.
Pertimbangkan apakah diperlukan ayat jurnal balik (reversing entries).

Lakukan penelaahan menyeluruh untuk transaksi-transaksi kas yang terjadi beberapa hari sebelum dan setelah tanggal neraca, dan periksa transaksi-transaksi yang tidak lazim misalnya, penurunan sementara atas wesel bayar, pembayaran kepada pegawai tertentu dan lain-lain.

Tentukan apakah ada pembatasan penggunaan dana kas tertentu atas harta-harta yang dijadikan jaminan atas pinjaman bank dengan melihat pada jawaban rekonsiliasi bank, perjanjian kredit, risalah rapat atau dokumen-dokumen lain.

Buat Jurnal Koreksi (bila ada) dan kesimpulan Hasil Audit

PENGUJIAN SUBSTANTIF UNTUK REKONSILIASI BANK

Periksa ketelitian penjumlahan pada rekonsiliasi bank.

Bandingkan saldo per buku yang ada di rekonsiliasi dengan saldo per buku besar. Bandingkan saldo per bank yang ada di rekonsiliasi dengan saldo menurut rekening koran.

Dapatkan dari perusahaan atau langsung dari bank rekening koran untuk masa satu minggu setelah tanggal Neraca.

Periksa cek-cek yang dibayarkan dan debit memo yang tercantum dalam rekening koran setelah tanggal neraca tetapi dicatat dalam buku sebagai transaksi sebelum tanggal neraca. Yakinkan bahwa cek-cek ini tampak sebagai unsur rekonsiliasi.

Bandingkan nomor dan nilai cek yang masih beredar yang tampak pada rekonsiliasi dengan buku pengeluaran kas untuk menyakinkan bahwa transaksi tersebut telah dicatat pada atau sebelum tanggal Neraca.

Periksa seluruh penyetoran dalam perjalanan (deposit in transit) per rekonsiliasi ke :
Rekening Koran yang diperoleh
Buku Bank dan dicatat pada atau sebelum tanggal neraca.

Periksa unsur-unsur rekonsiliasi yang jumlahnya material ke dokumen pendukungnya. Periksa pula hal-hal yang material dan tidak lazim, misalnya cek yang dikembalikan oleh bank.

Demikian prosedur-prosedur Audit untuk akun Kas dan Bank, semoga bermanfaat bagi sahabat Akuntansi. Terima Kasih.

Cara Hitung PPh untuk Karyawan, Profesional, Pengusaha Dan Investor

Bagaimana menghitung pajak penghasilan untuk Karyawan, Profesional, Pengusaha dan Investor? Kali ini Saya akan membahas mengenai pajak penghasilan untuk karyawan, profesional, pengusaha dan investor.


Pajak Penghasilan

Sebagaimana kita ketahui begitu banyaknya jenis pekerjaan di dalam kehidupan sehari-hari ini. Banyak yang bekerja sebagai karyawan negeri maupun swasta, ada juga yang bekerja sebagai profesional seperti dokter, notaris, petugas dinas asuransi dan lainnya. Selain itu ada juga yang memilih untuk menjadi pengusaha baik yang memulai usahanya dari kecil maupun meneruskan usaha dari orangtuanya. Apapun jenis pekerjaan yang dimiliki seseorang namun mereka tetap berkewajiban untuk membayar pajak atas penghasilannya.

Lalu diantara karyawan, pengusaha, profesional maupun investor siapa yang memiliki pajak penghasilan paling besar? Jika ingin membandingkan pekerjaan mana yang membayar pajak penghasilan paling besar tentu saja sulit, dikarenakan pembanding dirasa tidak sepadan. Besarnya pajak penghasilan atas suatu pekerjaan itu berbeda-beda tergantung dari apa pekerjaannya, berapa besarnya penghasilan yang didapat maupun bonus dan lain sebagainya atau pun tanggungan yang dimiliki oleh masing-masing dari orang tersebut.

Mari bahas sedikit mengenai besarnya pajak penghasilan antara karyawan, pengusaha (belum pkp) dan profesional namun dengan kriteria dan pembanding yang sama.

Contoh:

Pria sudah menikah, memiliki istri yang hanya menjadi Ibu Rumah Tangga dan memiliki 2 orang anak yang masih duduk di Sekolah Dasar.

Penghasilan bruto yang dimiliki adalah Rp240 juta per tahun atau Rp20 juta per bulan baik bagi karyawan (diasumsikan pegawai swasta), pengusaha (diasumsikan memiliki usaha kecil yaitu dagang mainan anak-anak dan non pkp) maupun profesional (diasumsikan bekerja sebagai arsitek).

Untuk karyawan diasumsikan tidak memiliki THR maupun Bonus apapun, hanya memiliki penghasilan dari gaji saja.

PTKP untuk K/2 = Rp67.500.000

Dari asumsi diatas, mari kita hitung pajak penghasilan atas pekerjaan yang mana yang paling besar jika masing-masing dari mereka memiliki penghasilan dan tanggungan yang sama.

#1 Karyawan Swasta

Penghasilan setahun = Rp20.000.00 x 12 bulan = Rp240.000.000
Biaya Jabatan = (5% x Rp240.000.000) = Rp6.000.000 (batas paling besar biaya jabatan)
Penghasilan Netto = Rp240.000.000 – Rp6.000.000 = Rp234.000.000

PTKP (istri tidak bekerja dan 2 anak) = Rp67.500.000
Penghasilan untuk perhitungan pajak = Rp234.000.000 – Rp67.500.000 = Rp166.500.000

PPh pasal 21:

= Rp50.000.000 x 5% + (Rp166.500.000 – Rp50.000.000) x 15%
= Rp2.500.000 + Rp17.475.000
= Rp19.975.000 per tahun atau Rp1.664.000 per bulan

Pajak penghasilan atas pekerjaan sebagai karyawan dengan penghasilan Rp240 juta setahun serta memiliki istri tidak bekerja dan memiliki tanggungan 2 anak adalah sebesar Rp19.975.000 per tahun atau Rp1.664.000 per bulan. Biasanya pajak tersebut sudah dipotong oleh perusahaan dengan bukti diberikannya A-1/A-2. 

Pada kasus seperti ini, di akhir tahun pelaporan, jika karyawan tersebut hanya mendapatkan penghasilan dari tempat kerjanya saja dan tidak memiliki penghasilan lainnya, maka pada SPT Tahunan karyawan ini adalah nihil (tidak usah membayar PPh lagi, karena sudah dibayarkan setiap bulannya oleh perusahaan, biasanya dipotong dari gaji).

#2 Pengusaha (Usaha Jual Mainan Anak-anak)

Bulan         Peredaran Bruto (Rp)     PPh Terutang (Rp)

Januari       20.000.000                    200.000
Februari     20.000.000                    200.000
Maret         20.000.000                    200.000
April           20.000.000                    200.000
Mei            20.000.000                    200.000
Juni           20.000.000                    200.000
Juli            20.000.000                    200.000
Agustus     20.000.000                   200.000
September 20.000.000                  200.000
Oktober     20.000.000                   200.000
November 20.000.000                   200.000
Desember 20.000.000                   200.000
TOTAL       240.000.000             2.400.000

Pajak atas penghasilan sebagai pengusaha (non pkp) maka Rp2.400.000 per tahun atau bisa dibilang pengusaha yang usahanya belum PKP itu membayar pajak dengan tarif PPh final 1% setiap bulannya dari peredaran bruto usahanya tersebut.

#3 Profesional (Arsitek)

Perhitungan pajak penghasilan untuk pekerjaan sebagai profesional (pekerjaan bebas) dilakukan berdasarkan norma yang sudah ditetapkan. Sebagai contoh adalah arsitek yang memakai norma dengan tarif 47%.

Penghasilan Bruto = Rp240.000.000
Tarif norma = 47%
Penghasilan Netto = Rp240.000.000 X 47% = Rp112.800.000
PTKP (K/2) = Rp67.500.000
Penghasilan Kena Pajak (PKP) = Rp112.800.000 – Rp67.500.000 = Rp45.300.000
PPh Terutang = Rp45.300.000 X 5% = Rp2.265.000

Jika ada angsuran PPh 25 tiap bulannya (dari masa pajak sebelumnya) menjadi pengurang untuk PPh terutang. Pajak yang harus dibayar oleh arsitek ini adalah sebesar Rp2.265.000 di bulan Maret, pada saat mau pelaporan SPT Tahunan. Untuk angsuran PPh 25 per bulannya adalah sebesar Rp188.750 (didapat dari Rp2.265.000 dibagi 12 bulan), dibayarkan sejak masa SPT Tahunan.

#4 Investor

Mari sedikit kita membahas mengenai besarnya pajak penghasilan bagi investor. Kita ambil contoh Investor Saham. Keuntungan dari investasi saham itu tidak dikenakan pajak, dikarenakan penghasilan dari investasi saham itu bukan merupakan penghasilan melainkan hasil investasi.

Jika awal mula seorang investor menyetorkan jumlah uang Rp200 juta untuk investasi dan diakhir tahun nilai akhir investasinya sebesar Rp225 juta maka keuntungannya sebesar Rp25 juta itu bukan merupakan penghasilan, namun kita masukan saja saham akhir tahun yang kita miliki sebagai aset kita di SPT Tahunan yang kita laporkan.

Sebagai seorang investor saham (pada perusahaan) kita dianggap sebagai pemilik dari perusahaan (yang kita beli sahamnya), sehingga ketika mendapatkan penghasilan atas kenaikan sahamnya itu kita sudah mendapatkannya secara bersih (nett) dan sudah dipotong pajak oleh perusahaan sehingga kita sudah tidak perlu membayar pajak lagi.

Namun dari itu, sebagai investor saham kita dikenakan 2 pajak tambahan sekaligus diluar PPh (yang sudah dibayarkan perusahaan) yaitu pajak penjualan dan pajak atas dividen.

Kenali Data PTKP (Penghasilan Tidak Kena Pajak) dan Tarif Pajak Penghasilan Perorangan

Setelah Anda mengetahui formulir yang tepat, kenali juga besaran PTKP dan iuran pajak PPH21. Berikut ini penjelasannya :

PTKP ( Penghasilan Tidak Kena Pajak)
Besarnya tanggungan = Rp 4.500.000 per bulan.

PTKP Pria / Wanita Lajang

TK/O 54.000.000
TK/1 58.500.000
TK/2 63.000.000
TK/3 67.500.000

Keterangan :

TK = tidak kawin
TK/0 = tidak kawin dan tidak ada tanggungan.
TK/1 = tidak kawin dan punya satu tanggungan.

PTKP Pria Menikah

K/O 58.500.000
K/1 63.000.000
K/2 67.500.000
K/3 72.000.000

Keterangan :

K = kawin
K/0 = kawin dan belum punya anak.
K/1 = kawin dan punya satu anak.

PTKP Suami Istri Digabung

K/I/O   112.500.000
K/I/1    117.000.000
K/I/2    121.500.000
K/I/3    126.000.000

Keterangan :

K/I/0 = kawin, suami dan istri berpenghasilan dan belum punya anak.
K/I/1 = kawin, suami dan istri berpenghasilan dan belum punya satu anak.

Jika seseorang memiliki penghasilan per tahun lebih kecil atau sama dengan PTKP maka orang tersebut tidak dikenakan pajak (PPh 21) namun harus memperhatikan gaji ke 13 (THR) yang memungkinkan karyawan tersebut membayar pajak (PPh 21).

Setiap orang yang memiliki NPWP Wajib membuat laporan SPT Tahunan. Dan Wajib membayar pajak sesuai dengan perhitungan.

Pelaporan SPT PPh Pribadi Form 1770, 1770S dan 1770SS

Apakah Anda sudah benar dalam menyusun pelaporan SPT PPh Pribadi Form 1770, 1770S dan 1770SS? Kali ini kita akan bahas mengenai form-form berikut ini.

Sebagai warga negara Indonesia baik, kita harus taat akan pajak. Jika Anda sudah mempunyai penghasilan harusnya segera buat NPWP (Nomor Pokok wajib Pajak). Dengan memiliki NPWP maka Anda sebagai wajib pajak harus melaporkan SPT (Surat Pemberitahuan Tahunan). SPT digunakan untuk : melaporkan perhitungan, pembayaran pajak, objek pajak, bukan objek pajak,  harta dan kewajiban dsesuai dengan ketentuan peraturan perundang – undangan perpajakan.

Untuk kali mari kita fokus membahas pelaporan SPT Tahunan bagi wajib pajak orang pribadi. Ada 3 jenis SPT Tahunan untuk pelaporan wajib pajak pribadi :

1770 SS
Formulir ini memiliki struktur dan bentuk yang paling sederhana karena hanya 1 lembar. Formulir ini biasanya digunakan oleh:

  1. Karyawan yang memperoleh penghasilan dalam negeri dari satu pemberi kerja dan
  2. Jumlah penghasilan bruto dalam satu tahun tidak lebih dari 60 juta.


1770 S
Formulir ini memiliki struktur lebih kompleks dibandingkan formulir 1770 SS karena memiliki lampiran yang harus diisi. Formulir ini diperuntukan bagi:
  1. Wajib pajak orang pribadi yang memperoleh penghasilan lebih dari 1 pemberi kerja atau, 
  2. Memperoleh penghasilan dalam negeri lainnya atau, 
  3. Memiliki penghasilan yang dikenakan PPh final.


1770
Formulir ini diperuntukkan bagi :
  1. Wajib pajak orang pribadi yang memperoleh penghasilan dari usaha sendiri (misalnya : usaha pertokoan, salon, warung dan lain-lain) atau, 
  2. Dari pekerjaan bebas (misalnya : dokter, notaris, petugas dinas asuransi dan lain-lain) atau, 
  3. Wajib pajak yang bekerja dan memperoleh penghasilan di luar negeri.


Mengenal Form SPT 1770SS, 1770S dan 1770

Mari membahas lebih dalam mengenai formulir SPT Tahunan 1770 SS, 1770 S dan 1770 :

Formulir 1770 SS
Formulir ini digunakan untuk karyawan swasta maupun negeri yang memiliki penghasilan bruto tidak lebih dari 60 juta per tahun. Di akhir tahun karyawan harus meminta bukti potong 1721-A1 untuk karyawan swasta dan bukti potong 1721-A2 untuk pegawai negeri sehingga memudahkan untuk mengisi formulir 1770 SS dikarenakan di dalam bukti potong 1721-A1 maupun 1721-A2 sudah tertera penghasilan bruto karyawan tersebut selama 1 tahun.

Formulir 1770 SS juga hanya boleh digunakan oleh karyawan yang hanya menerima kerja dari 1 pemberi kerja saja ( bekerja di 1 perusahaan ). Jika seorang karyawan bekerja di 2 perusahaan namun setelah digabung penghasilan brutonya tidak lebih dari 60 juta setahun, karyawan tersebut tidak dapat memakai formulir 1770 SS namun harus memakai formulir 1770 S dalam pelaporan SPT Tahunannya.

Dalam pengisiannya formulir ini merupakan yang paling sederhana dikarenakan hanya memindahkan data yang sudah ada dalam bukti potong 1721-A1 maupun 1721-A2 ke dalam formulir 1770 SS. Serta mengisikan daftar harta maupun kewajiban sampai akhir tahun tanpa memerlukan perinciannya.

Formulir 1770 S
Formulir ini digunakan untuk karyawan yang penghasilan brutonya sama dengan atau lebih besar dari 60 juta per tahun. Karyawan yang mengisi formulir 1770 S juga diwajibkan untuk meminta bukti potong 1721-A1 maupun 1721-A2.

Formulir ini juga digunakan bagi karyawan yang memperoleh penghasilan lebih dari 1 pemberi kerja, walaupun jika penghasilan brutonya digabungkan besarnya tidak lebih dari 60 juta. 

Memperoleh penghasilan dalam negeri lainnya (seperti: bunga, royalty, sewa ataupun keuntungan dari penjualan dan/atau pengalihan harta lainnya) 

Memperoleh penghasilan yang dikenakan pajak penghasilan final dan/atau bersifat final seperti bunga deposito, SBI dan lainnya. 

Memperoleh penghasilan yang bukan termasuk objek pajak seperti : Hibah/Warisan, Bantuan/Sumbangan, Klaim asuransi kesehatan, Beasiswa, dan lain-lain.

Bagi wajib pajak yang menggunakan formulir 1770 S dalam penyampaian SPT Tahunannya, mereka diwajibkan untuk mengisi lampiran – lampirannya seperti : Data penghasilan, Daftar harta dan/atau kewajiban, Bukti potong, Daftar anggota keluarga

Formulir 1770
Formulir ini digunakan oleh wajib pajak yang memperoleh penghasilan dari Usaha atau Pekerjaan Bebas (seseorang yang memiliki keahlian khusus untuk memperoleh penghasilan tanpa adanya ikatan kerja. Contoh : Dokter, Notaris, Konsultan, dan lain-lain) yang menyelenggarakan pembukuan maupun norma penghitungan penghasilan netto.

Penghasilan yang dikenakan PPh final atau bersifat final.

Memperoleh penghasilan dalam negeri lainnya (seperti : bunga, royalty, sewa ataupun keuntungan dari penjualan dan/atau pengalihan harta lainnya).

Memiliki penghasilan dari luar negeri.

Formulir ini juga dapat digunakan oleh wajib pajak yang tidak memiliki penghasilan sama sekali atau nihil. Cukup dengan mengisi identitas wajib pajak (nama, npwp, dan lain-lain) namun dalam pengisian penghasilan cukup diisi dengan angka 0 (nol) saja serta harus melampirkan surat pernyataan diatas materai yang isinya menyatakan bahwa wajib pajak yang bersangkutan memang benar – benar tidak memiliki penghasilan sama sekali di tahun pajak yang dilaporkan.

Dalam formulir 1770 ini juga wajib pajak diwajibkan untuk mengisi lampiran – lampirannya seperti :Data penghasilan, Daftar harta dan/atau kewajiban, Bukti potong, Daftar anggota keluarga.

Strategi Menjadi Wirausahawan Sukses Meski dengan Modal Kecil

Untuk memulai sebuah bisnis sebenarnya bukanlah hal yang sulit untuk dilakukan. Namun seringkali orang merasa minder untuk memulai bisnis yang ingin dijalaninya karena hanya memiliki modal kecil. Tahukah Anda? Jika modal kecil bukan menjadi masalah bagi Anda untuk bisa menjadi seorang wirausahawan sukses.

Jika Anda bisa mengelola modal tersebut untuk bisnis yang akan dijalankan, tentu tidak menutup kemungkinan bagi diri Anda sendiri untuk bisa meraup banyak keuntungan. Akan tetapi, agar bisa mencapai hal tersebut ada beberapa strategi yang harus dilakukan.


Langkah pertama yang harus Anda lakukan untuk bisa sukses meski dengan menggunakan modal yang kecil ialah dengan menentukan jenis usaha yang akan digeluti.

Berikut ini beberapa tips jenis usaha yang menarik dan punya potensi penghasilan tinggi

Jenis usaha yang lagi booming (klik disini)


Langkah selanjutnya untuk bisa menjadi seorang wirausahawan sukses ialah dengan melakukan riset pasar. Ada banyak kelebihan yang bisa Anda dapatkan dengan riset pasar seperti, peluang usaha yang bisa Anda kembangkan di masyarakat serta dapat menentukan pesaing yang mempunyai usaha sama.

Berikut tehnik sederhana dalam melakukan riset pasar dengan modal yang kecil

Melakukan teknis pasar sederhana tetapi hasil maksimal (klik disini)


Langkah berikutnya ialah dengan menghitung modal yang harus Anda keluarkan. Terlebih, jika Anda para pemilik modal kecil, hal satu ini harus dipertimbangkan dengan baik. Lakukan perhitungan dengan teliti. Perhatikan dengan baik hal-hal apa saja yang harus Anda beli agar modal yang harus dikeluarkan tidak terlalu besar.

Berikut tehnik permodalan yang efisien untuk memulai usaha (klik disini)


Bukan hal mudah untuk bisa menjadi wirausahawan sukses hanya dengan modal kecil. Mengelola keuangan menjadi salah satu kunci bagi Anda untuk bisa mendapatkan keuntungan yang lebih.

Apasaja biaya operasional usaha yang bisa di minimalisasi (klik disini)


Menyewa tempat usaha tentu akan membuat pengeluaran menjadi lebih banyak. Satu-satunya cara yang bisa Anda lakukan ialah dengan menentukan tempat untuk usaha Anda tanpa harus melakukan sewa. Anda bisa memanfaatkan garasi rumah yang kosong untuk tempat usaha Anda.

Tehnik mencari lokasi usaha yang strategis tetapi biaya tidak mahal (Klik Disini)


Dengan modal yang kecil tentu membuat Anda harus memutar otak untuk bisa mengelola keuangan dengan baik. Selain bisa melakukan beberapa hal di atas, Anda juga bisa melakukan poin yang satu ini, yaitu dengan memilih bahan baku dengan harga yang lebih murah.

Berikut referensi bahan baku usaha yang murah (klik disini)


Jika Anda baru memulai usaha, alangkah baiknya untuk tidak merekrut karyawan terlebih dahulu. Namun, jika Anda tetap membutuhkan bantuan dari orang lain untuk usaha yang Anda jalankan tersebut, pastikan bahwa Anda tidak merekrut terlalu banyak karyawan.

8. Lakukan Promosi dengan Menggunakan Media Sosial

Langkah terakhir untuk bisa menjadi wirausahawan sukses meski hanya memiliki modal kecil ialah dengan melakukan promosi di media sosial. Ya, media sosial memiliki pengaruh sangat besar untuk membuat usaha yang sedang Anda geluti menjadi lebih maju.

Cara promosi usaha anda dengan media sosial yang mendatangkan banyak pembeli (klik disini)

Tidak ada hal yang tidak mungkin untuk bisa menjadi seorang wirausahawan sukses meski Anda hanya memiliki modal yang kecil. Asal ada niat dan tekad yang kuat, hal tersebut bisa diatasi dengan mudah. Jangan lupa juga untuk melakukan 8 strategi di atas agar Anda bisa sukses dengan usaha yang dijalankan.
 
Copyright © 2020 INFO AKUNTAN

Powered by Aditya Tarigan