INFO UPDATE

Akuntansi untuk Penyusutan Aset Tetap

Aset tetap seperti: peralatan, gedung dan pengembangan tanah kehilangan kemampuannya untuk memberikan jasa seiring dengan berjalannya waktu. Akibatnya, biaya peralatan, gedung, dan pengembangan tanah perlu di pindahkan ke akun beban secara sistematis selama masa kegunaanya. Pemindahan biaya ke beban secara berkala semacam ini disebut penyusutan atau depresiasi (depreciation).

Ayat jurnal penyesuaian untuk mencatat penyusutan biasanya dibuat setiap akhir bulan atau pada akhir tahun. Ayat jurnal ini akan mendebit beban penyusutan dan mengkredit akun kontra aset tetap bernama akumulasi penyusutan aset tetap atau penyisihan untuk penyusutan aset tetap. Pengunaan akun kontra aset memungkinkan biaya awal dalam aset tetap tidak berubah.

Faktor-faktor penyebab penurunan kemampuan aset tetap untuk menyediakan jasa dapat di indentifikasikan sebagai:
  • Penyusutan fisik terjadi karena pengunaan disebabkan oleh cuaca
  • Penyusutan fungsional terjadi saat aset tetap tidak lagi dapat menyediakan jasa pada tingkat yang diharapkan.

Faktor dalam Menghitung Beban Penyusutan

Ada tiga faktor yang menentukan jumlah beban penyusutan yang diakui di setiap akhir periode yaitu:
1. Biaya awal aset tetap.
2. Masa kegunaan yang diharapkan.
3. Estimasi nilai pada akhir masa kegunaan atau nilai residu.

Nilai residu atau nilai sisa (residual value) aset tetap pada akhir masa kegunaan yang diharapkan harus diperkirakan pada saat aset disiapkan untuk menyediakan jasa. Jika aset tetap diharapkan tidak memiliki atau memiliki sedikit nilai residu saat tidak lagi dapat menyediakan jasa, maka biaya awal harus dibagi selama masa kegunaannya sebagai beban penyusutan. 

Namun apabila memiliki nilai residu yang signifikan maka selisih antara biaya awal dan nilai residunya, disebut biaya aset yang dapat disusutkan menjadi jumlah yang dibagi selama masa kegunaan aset sebagai beban penyusutan.

Masa kegunaan yang di harapkan dari aset tetap juga harus diperkirakan pada saat aset disiapkan untuk menyediakan jasa. Estimasi masa kegunaan yang diharapkan dapat berasal dari berbagai asosiasi perdagangan dan publikasi lainya.

Metode yang digunakan dalam akun-akun dan laporan keuangan juga dapat berbeda dari metode yang digunakan untuk menentukan pajak penghasilan. Tiga metode yang sering digunakan  adalah: 

Metode Garis Lurus

Metode  garis lurus (straight line method) menghasilkan jumlah beban  penyusutan yang sama untuk setiap tahun selama kegunaan aset.

Saat  aset hanya digunakan selama beberapa waktu dalam satu tahun, maka penyusutan tahunan dihitung secara proporsional. 

Untuk memudahkan penerapan metode ini, penyusutan ini juga dapat diubah menjadi persentase terhadap biaya yang dapat disusutkan. Persentase ini ditentukan dengan 100% dengan jumlah tahun masa kegunaan.

Metode  ini menghasilkan perpindahan yang memadai untuk biaya ke beban periodik saat penggunaan aset dan pendapatan yang terkait dengan pengunaan nya kurang lebih sama pada setiap periode.

Metode Unit Produksi

Metode  ini menghasilkan jumlah beban penyusutan yang sama untuk setiap unit yang diproduksi atau setiap unit kapasitasnya yang digunakan oleh aset. 

Masa keguanaan aset dinyatakan dalam unit kapasitas produktif, seperti jam atau mil. Kemudian jumlah beban penyusutan untuk setiap periode akuntansi ditentukan dengan mengalikan unit penyusutan dengan jumlah unit yang diproduksi atau digunakan selama periode tersebut.

Metode Saldo Menurun Ganda

Metode  saldo menurun ganda (double declining balance method) menghasilkan beban periodik yang semakin menurun selama estimasi masa kegunaan aset. 

Dalam penerapannya, tingkat saldo menurun ganda di tentukan dengan menggandakan tingkat garis lurus.   

Untuk  tahun pertama kegunaan biaya  aset dikalikan dengan tingkat penyusutan saldo menurun ganda. 

Setelah tahun pertama nilai buku (book value) yaitu biaya dikurangi akumulasi penyusutan yang menurun dikalikan dengan tingkat ini.

Saat  metode saldo menurun ganda digunakan, estimasi nilai residu tidak dipertimbangkan dalam menentukan tingkat penyusutan dan menghitung penyusutan periodik. Akan tetapi, aset tidak perlu disusutkan di bawah estimasi nilai residunya.

Membandingkan Metode Penyusutan

Seluruh metode membebankan sebagian jumlah biaya aset dalam periode akuntansi, dan tidak pernah menyusutkan aset dibawah nilai residunya.

Metode garis lurus menghasilkan jumlah beban penyusutan periodik yang sama selama masa kegunaan aset.

Metode unit produksi menghasilkan jumlah beban penyusutan periodik yang berbeda-beda tergantung jumlah aset yang digunakan.

Metode saldo menurun ganda menghasilkan jumlah penyusutan yang lebih tinggi pada tahun pertama penggunaan aset, diikuti dengan jumlah yang menurun secara bertahap. Karenanya, saldo menurun ganda disebut metode penyusutan yang dipercepat (accelerated depreciation method).

Penysusutan untuk  Pajak Penghasilan Pemerintah

Direktorat jendral perpajakan menetapkan tingkat penyusutan untuk setiap kelompok aset tetap. 

Tingkat penyusutan paling akhir ditetapkan dalam surat keputusan menteri keuangan No.138/KMK.03/2002, yang membedakan aset tetap bukan property ke dalam tiga kelompok. 

Kelompok pertama menggunakan tingkat penyusutan garis lurus 25% yang berarti masa kegunaan ekonomis nya adalah 4 tahun atau tingkat penyusutan 50% jika perusahaan menggunakan metode saldo menurun ganda.

Aset tetap yang termasuk dalam kelompok pertama adalah peralatan kantor yang terbuat dari kayu dan rotan. Mesin ketik, mesin fotocopy, computer, printer, dan lain-lain.

Mengubah Estimasi Penyusutan

Mengubah estimasi nilai residu dan masa kegunaan adalah hal yang biasa dilakukan.

Perubahan estimasi tidak akan mempengaruhi jumlah beban penyusutan yang dicatat pada tahun-tahun sebelumnya.

Memahami Tentang Aset Tetap

Sobat Akuntansi pasti sudah sering mendengar tentang aset tetap dan melihat akun ini dalam Laporan Keuangan, tapi mungkin banyak sobat akuntansi belum memahami pengerian dan karakterisitik tentang aset tetap. Untuk itu dalam artikel ini saya akan membahas tentang aset tetap dan semoga sobat akuntansi bisa memahami dan menambah pengetahuan nya tentang aset tetap setelah membaca nya.

Definisi Aset Tetap

Dalam SAK-ETAP yang diatur oleh IAI , aset tetap adalah aset berwujud yang dimiliki untuk digunakan dalam produksi atau penyediaan barang atau jasa, untuk disewakan kepihak lain atau untuk tujuan administratif dan diharapkan akan digunakan lebih dari 1 periode. 

SAK menggunakan istilah aset tetap, namun dalam perpajakan tidak menggunakan istilah aset tetap melainkan sesuai dengan pasal 11 UU PPh Nomer 36 tahun 2008, aset tetap adalah harta berwujud yang dapat disusutkan dan terletak atau berada di Indonesia, dimiliki dan dipergunakan yntuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan yang merupakan objek pajak serta mempunyai masa manfaat lebih dari 1 tahun.

Perolehan Aset Tetap
Aset tetap diperoleh dengan pembelian dalam bentuk siap pakai dicatat sejumlah harga beli ditambah dengan biaya-biaya yang terjadi pada saat perolehan. Biaya-biaya tersebut seperti, biaya pengiriman, biaya bongkar muat, biaya pemasangan, biaya profesional, bea masuk, pajak masuk yang tidak boleh dikreditkan, dan lain-lain ditambahkan ke dalam harga perolehan.

Dalam penjelasan Pasal 10 UU PPh Nomor 36 Tahun 2008, harga perolehan atau harga jual penjualan dalam hal terjadi jual beli harta tidak dipengaruhi hubungan istimewa. Yang dimaksud dalam Pasal 18 ayat (4) UU PPh Nomor 36 termasuk dalam harga perolehan adalah harga beli, dan biaya yang yang dikeluarkan dalam rangka memperoleh harta tersebut, seperti bea masuk, biaya pengangkutan dan biaya pemasangan. Sedangkan apabila terdapat hubungan istimewa adalah jumlah yang seharusnya  dikeluarkan / diterima. Adanya hubungan istimewa antara pembeli dan penjual  menyebabkan harga perolehan menjadi lebih besar / lebih kecil dibandingkan dengan jual beli tersebut tidak dipengaruhi hubungan istimewa.

Karakteristik asset tetap
Aset tetap adalah aset yang bersifat jangka panjang atau secara  relative memiliki sifat permanen serta dapat digunakan dalam jangka panjang. Aset ini merupakan aset berwujud karena memiliki bentuk fisik.

Aset ini dimiliki dan digunakan oleh perusahaan dan tidak di jual sebagai bagian dari kegiatan operasi normal.

Penggolongan biaya
Jika biaya bersifat jangka panjang, maka barang tersebut harus dikapitalisasi, artinya harus ditampilkan dalam neraca sebagai asset.

Jika bersifat jangka pendek, maka biaya harus dilaporkan sebagai beban di laporan laba/rugi.

Biaya yang dikapitalisasikan biasanya diharapkan akan habis lebih dari satu tahun.

Jika aset juga digunakan untuk tujuan produktif, yang melibatkan kegunaan atau manfaat berulang-ulang maka aset tersebut digolongkan sebagai aset tetap, seperti tanah, gedung, atau peralatan.

Suatu aset tidak perlu digunakan secara teratur untuk menjadi aset tetap. Sebagai contoh, peralatan yang siap digunakan pada saat terjadi kerusakan pada peralatan yang biasa dipakai atau pada saat periode penuh termasuk dalam aset tetap.

Aset tetap yang telah ditinggalkan atau tidak digunakan lagi tidak dimasukan sebagai aset tetap.

Aset tetap dimiliki dan digunakan oleh perusahaan dan tidak ditawarkan untuk dijual kembali.

Aset yang bersifat jangka panjang dan disimpan untuk dijual kembali tidak digolongkan sebagai aset tetap, tetapi harus di sajikan di Laporan Posisi Keuangan dalam bagian investasi. Sebagai contoh, tanah yang belum dikembangkan dan diperoleh sebagai investasi untuk di sewakan dan dijual kembali akan di golongkan sebagai investasi, bukan tanah (aset tetap).


Biaya aset tetap
Biaya perolehan aset tetap mencakup seluruh jumlah yang dikeluarkan untuk mendapatkan aset hingga siap digunakan. 

Biaya umum untuk memperoleh aset tetap, biaya ini harus dicatat dengan mendebit akun aset tetap terkait seperti tanah, gedung, pengembangan tanah,atau mesin dan peralatan.

Biaya-biaya yang tidak perlu dan tidak meningkatan kegunaan aset dicatat sebagai beban.

Pengeluaran Modal dan Pendapatan
Saat aset telah diperoleh dan siap digunakan, pengeluaran dapat terjadi untuk perawatan pan perbaikan biasa, untuk meningkatkan nilai aset atau untuk perbaikan luar biasa yang dapat memperpanjang masa kegunaan aset. 

Pengeluaran yang berguna untuk periode berjalan disebut pengeluaran pendapatan (reveue expenditure). Pengeluaran yang meningkatkan nilai aset atau memperpanjang masa kegunaan aset disebut pengeluaran modal (capital expenditure).

Perawatan dan perbaikan  biasa
Pengeluaran  yang terkait dengan perawatan dan perbaikan aset tetap yang dicatat sebagai beban periode berjalan,disebut pengeluaran pendapatan dan dicatat sebagai kenaikan pada beban perbaikan dan perawatan.

Peningkatan Nilai Aset 
Setelah  aset tetap disiapkan. Pengeluaran dapat terjadi untuk meningkatkan nilai aset. Pengeluaran semacam ini di sebut pengeluaran modal dan dicatat sebagai kenaikan pada akun aset tetap.

Perbaikan Luar Biasa
Setelah  asset tetap disiapkan, pengeluaran dapat terjadi untuk memperpanjang masa kegunaan aset.

Sewa Aset Tetap
Sewa adalah suatu perjanjian atas pengunaan aset dalam periode waktu tertentu.

Ada dua pihak di dalam sewa yaitu:
1.    Pemberi sewa (lessor)
2.    Penyewa (lessee)

Penyewa berkewajiban untuk melakukan pembayaran sewa secara berkala selama masa sewa.

Sewa akan dicatat oleh penyewa sebagai modal (capital lease) atau sebagai sewa operasi (operating lease)

Sewa modal (capital lease) dicatat ketika penyewa seolah-olah membeli aset yang bersangkutan. Penyewa mendebitkan akun aset sebesar nilai pasar aset dan mengkreditkan akun kewajiban sewa jangka panjang.

Sewa yang tidak digolongkan sebagai sewa modal untuk tujuan akuntansi digolongkan sebagai sewa operasi (operating lease). Penyewa mencatat pembayaran dalam sewa operasi dan mendebit beban sewa dan mengkredit kas. Kewajiban sewa di masa mendatang maupun hak di masa mendatang untuk menggunakan aset yang di sewa tidak diakui dalam akun-akun tersebut. Akan tetapi, penyewa harus mengungkapkan komitmen sewa di masa mendatang di catatan atas laporan keuangan.

Baik sobat akuntansi, agar tidak membosankan membacanya artikel tentang aset tetap saya akhiri sampai disini, namun perlu sobat akuntansi ingat bahwa artikel saya tentang aset tetap ini belum berakhir dan masih banyak hal yang akan saya bahas pada artikel berikut nya. Untuk itu sobat akuntansi tetap terus mengikuti perkembangan blog saya ini. Terima Kasih.

Siklus Akuntansi Biaya Perusahaan Dagang

Akuntansi biaya adalah salah satu jenis akuntansi yang sangat penting bagi perusahaan dagang karena berhubungan dengan penentuan harga pokok barang yang diproduksi oleh suatu perusahaan untuk memenuhi pesanan pelanggan atau mengisi stok persediaan yang akan dijual.

Akuntansi biaya tentu saja identik dengan biaya, yakni pengorbanan sumber ekonomi yang diukur dengan satuan uang atau hal-hal yang mungkin terjadi untuk mencapai tujuan tertentu. Ada 4 unsur biaya yang berhubungan dengan akuntansi biaya, yaitu pengorbanan sumber ekonomi, dihitung dengan satuan uang, telah terjadi atau akan terjadi, dan untuk tujuan tertentu.

Istilah-Istilah Akuntansi Biaya

Hal utama yang harus diketahui untuk dapat lebih memahami siklus akuntansi biaya adalah memahami arti-arti dari istilah-istilah penting dalam akuntansi biaya berikut ini:

Bahan baku: bahan yang akan diolah menjadi produk selesai dan penggunaannya bisa diidentifikasi.

Biaya bahan baku: harga perolehan atau pembelian bahan baku yang dipakai untuk proses pengolahan produk.

Bahan penolong: bahan yang akan diolah menjadi produk selesai, tetapi penggunaannya tidak dapat diidentifikasi.

Biaya penolong: biaya perolehan atau pembelian bahan penolong yang digunakan untuk mengolah produk.

Biaya tenaga kerja: semua balas jasa yang diberikan oleh perusahaan atas usaha atau kegiatan pengolahan produk.

Biaya overhead public: biaya produksi tidak hanya terdiri dari biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja, tetapi juga elemennya bisa digolongkan ke dalam biaya bahan penolong, biaya tenaga kerja tidak langsung, penyusutan aset tetap pabrik, pemeliharaan aset tidak tetap pabrik, biaya listrik, biaya air pabrik, biaya asuransi pabrik, dan biaya overhead lainnya.

Hakikat Siklus Akuntansi Biaya

Sebelum mempelajari tentang siklus akuntansi biaya, sebaiknya mengetahui terlebih dahulu tentang pengertian akuntansi biaya. Akuntansi biaya ialah proses pencatatan, penggolongan, peringkasan, dan pelaporan biaya dengan cara-cara yang sesuai kaidah akuntansi.

Tujuan akuntansi biaya adalah menyediakan informasi biaya yang dibutuhkan oleh perusahaan kepada pihak manajemen untuk mengelola perusahaan atau suatu departemen di dalam perusahaan.

Jika semua unsurnya lengkap maka bisa diperoleh gambaran tentang dasar-dasar penjurnalan pada siklus akuntansi biaya. 

Kegiatan pencatatan dalam akuntansi biaya meliputi beberapa biaya sebagai berikut.

Bahan baku
  • Pemakaian biaya baku dalam produksi
  • Biaya gaji dan upah
  • Gaji dan upah untuk produksi
  • Pemakaian overhead pabrik
  • Biaya overhead pabrik yang dibebankan dalam produksi
  • Pemindahan biaya overhead pabrik yang dibebankan ke biaya overhead pabrik yang sebenarnya
  • Produk selesai
  • Produk dalam proses akhir

Penggolongan biaya-biaya meliputi fungsi pokok perusahaan, perilaku biaya, perilaku hubungannya dengan produk, pertanggungjawaban, dan hubungannya dengan masa manfaat. Penggolongan biaya sesuai fungsi pokok perusahaan terdiri dari unsur fungsi produksi dan fungsi nonproduksi.

Fungsi produksi bagi perusahaan adalah mengolah bahan baku menjadi produk siap pakai dan siap dijual. Sedangkan fungsi nonproduksi bagi perusahaan adalah mengolah bahan baku menjadi produk selesai yang terdiri dari fungsi pemasaran, fungsi administrasi, dan fungsi umum.

Di sebuah perusahaan dalam suatu industri, misalnya perusahaan melakukan kegiatan usaha pokok dengan mengolah bahan baku menjadi produk siap pakai yang selanjutnya dijual kepada konsumen. Siklus akuntansi biaya di perusahaan industri tersebut terdiri dari urutan sebagai berikut:
  • Menentukan harga pokok bahan baku yang dibeli dan harga pokok bahan baku yang digunakan dalam proses produksi.
  • Menghitung biaya tenaga kerja langsung.
  • Menghitung biaya overhead public.
  • Biaya-biaya tersebut berguna untuk menentukan biaya produksi sehingga bisa digunakan selanjutnya untuk menentukan harga pokok produk selesai atau produk jadi.

Itulah siklus akuntansi biaya perusahaan dagang yang harus diketahui sebelum mempelajari lebih lanjut tentang akuntansi biaya dan jenis-jenis akuntansi lainnya yang berhubungan dengan perusahaan dagang.

Semoga artikel ini bermanfaat bagi sobat akuntansi semua. Terima Kasih.

Pengertian Akuntansi Biaya, Tujuan, dan Klasifikasinya Secara Umum

Yang namanya biaya proses produksi tentunya selalu berhubungan dengan uang yang dimiliki oleh perusahaan, maka tidak heran jika akuntansi biaya selalu menjadi hal terpenting bagi banyak perusahan dalam mengelola biaya-biaya dalam menjalankan operasionalnya. Oleh sebab itu pada tulisan kali ini saya akan memberikan penjelasan tentang arti akuntansi biaya, simak baik-baik di bawah ini ya sobat akuntansi.

A. Apa yang dimaksud akuntansi biaya?

Pengertian akuntansi biaya adalah suatu bidang akuntansi yang kegiatannya bertujuan melakukan perhitungan maupun pencatatan mengenai biaya-biaya yang harus dikeluarkan oleh organisasi atau perusahaan, biaya tersebut seperti biaya umum, biaya produksi, dan lain-lain. Atau akuntansi biaya dapat diartikan juga sebagai kegiatan proses penghitungan dan pencatatan mengenai biaya-biaya yang berhubungan dengan aktivitas perusahaan atau organisasi untuk memproduksi barang ataupun jasa.

Catatan akuntansi biaya berguna juga untuk kebutuhan eksternal perusahaan jika di butuhkan, seperti pihak pemegang saham dan kreditur, dan berguna juga untuk pihak internal perusahaan itu sendiri. Informasi biaya untuk pihak eksternal, umumnya disajikan dalam bentuk laporan laba-rugi dan penghasilan komprehensif dan laporan posisi keuangan, dimana laporan yang disajikan acuannya pada SAK (Standar Akuntansi Keuangan). Sedangkan bagi pihak internal perusahaan seperti manajemen, laporannya berguna untuk mengambil suatu keputusan yang berhubungan dengan anggaran biaya. 

B. Tujuan Akuntansi Biaya

Berikut ini beberapa tujuan dari akuntansi biaya, diantaranya:

1. Untuk mengendalikan biaya produksi
Dalam memproduksi suatu barang atau jasa, biasanya terlebih dahulu selalu menentukan biaya yang harus dikeluarkan. Lalu dilakukan analisis terhadap kesalahan apa saja yang dapat terjadi dari biaya yang sudah di rencanakan untuk memproduksi barang/jasa tersebut.

2. Memberikan informasi bagi manajemen untuk mengambil keputusan
Akuntansi biaya dapat berguna sebagai alat yang bisa membantu manajemen untuk menjalankan oprerasional perusahaan terutama dalam mengambil berbagai macam keputusan yang berhubungan dengan penggunaann biaya, dll.

3. Memberikan informasi bagi proses penyusunan anggaran biaya
Akuntansi biaya juga berperan untuk memberikan data yang memang di perlukan untuk melakukan penyusunan anggaran biaya untuk produksi selanjutnya.

4. Menentukan harga pokok barang atau jasa
Selain berperan menentukan biaya proses produksi, akuntansi biaya juga berperan dalam untuk menentukan harga pokok suatu barang atau jasa hasil produksi, tentunya setelah melalui mekanisme perhitungan biaya.

5. Berguna untuk mengukur nilai masukan
Dengan akuntansi biaya maka dapat mengukur apakah kegiatan usaha yang dilakukan dapat menghasilkan laba atau tidak. Selain itu dapat juga menghasilkan sebuah informasi bagi manajemen mengenai biaya yang dipakai untuk merencanakan alokasi sumber ekonomi.

Dari uraian di atas maka betapa pentingnya fungsi dari akuntansi biaya, tentu harus dikuasai oleh manajemen suatu organisasi atau perusahaan. Karena tugas manajemen salah satunya mengawasi transaksi biaya, dan transaksi biaya tersebut selalu di sajikan dalam bentuk laporan kepada manajemen.

C. Manfaat Akuntansi Biaya

Dari tujuan akuntansi biaya di atas maka dapat di ambil kesimpulan manfaat akuntansi biaya yaitu berguna untuk perencanaan dalam menggunakan anggaran biaya yang akan dikeluarkan oleh perusahaan untuk melakukan produksi barang atau jasa, serta informasi yang di hasilkan dari akuntansi biaya bermanfaat juga dalam hal-hal yang berhubungan dengan pengendalian laba, mentukan harga pokok produk, dan bagi pihak manajemen berguna untuk mengambil keputusan. 

D. Klasifikasi Akutansi Biaya

a. Berdasarkan Fungsi Pokok aktivitas perusahaan

1. Biaya produksi / Production Cost
Yaitu biaya yang perlukan untuk memperoduksi batang atau jasa. Diantaranya biaya: bahan baku, operasional, dan tenaga kerja.

2. Biaya pemasaran / Marketing Expenses
Yaitu biaya yang diperlukan untuk memasarkan produk atau jasa yang sudah di produksi supaya konsumen tertarik untuk membelinya, Diantaranya biaya promosi dan iklan.

3. Biaya administrasi umum / General Administration Expenses
Yaitu biaya yang di perlukan untuk kelancaran proses produksi dan pemasaran, misalnya biaya gaji karyawan, dan lain-lain.

b. Berdasarkan Kegiatannya

1. Biaya Variabel / Variable Cost
Yaitu biaya yang jumlahnya selalu berubah-ubah sesuai dengan volume produksi barang atau jasa. Misalnya seperti pengeluaran biaya bahan baku.

2. Biaya Tetap / Fixed Cost
Yaitu biaya yang jumlahnya tetap sehingga tidak terpengaruh oleh volume produksi. misalnya biaya tenaga kerja langsung.

c. Berdasarkan objek yang dibiayainya

1. Biaya Langsung / Direct Cost
Yaitu biaya yang dikeluarkan berhubungan langsung dengan produksi barang atau jasa, misalnya seperti biaya untuk bahan baku dan tenaga kerja langsung.

2. Biaya Tidak Lansung / Indirect Cost
Yaitu biaya yang dikeluarkan tidak berhubungan secara langsung dengan produksi barang atau jasa, misalnya biaya administrasi perusahaan, Overhead Pabrik, dll.

d. Berdasarkan pembebanan periode akuntansi

1. Biaya Investasi / Capital Expenditure
Yaitu biaya yang pengeluarannya memberikan manfaat pada beberapa periode akutansi. Misalnya biaya untuk mesin produksi.

2. Biaya Pengeluaran Penghasilan / Revenue Expenditure
Yaitu biaya yang pengeluaranya dapat memberikan manfaat terhadap satu periode akutansi. Misalnya biaya Overhead Pabrik.

E. Kesimpulan

Dari uraian di atas maka dapat di ambil kesimpulan bahwa pengertian akutansi biaya yaitu kegiatan proses penghitungan dan pencatatan mengenai biaya-biaya yang berhubungan dengan aktivitas perusahaan atau organisasi untuk memproduksi barang ataupun jasa.

Tujuan akutansi biaya yaitu untuk 1). Untuk mengendalikan biaya produksi; 2). Memberikan informasi bagi manajemen untuk memengambil keputusan; 3). Memberikan informasi bagi penyusunan anggaran biaya; 4). Menentukan harga pokok produk atau jasa; 5). Berguna untuk mengukur nilai masukan, dll.

Itu lah tulisan yang memberikan penjeasan tentang arti akutansi biaya, semoga tulisan singkat ini dapat memberikan manfaat dalam menambah wawasan sobat akuntansi. Jika ada kesalahan mohon di maafkan, Terima kasih.

Sistem Dan Metode Persediaan Dalam Akuntansi

Sobat akuntansi pasti sudah sering mendengar tentang Persediaan atau stock yang selalu muncul di Laporan Posisi Keuangan atau Laporan Neraca, tapi mungkin sobat akuntansi belum memahami sistim pencatatan persediaan dan metode persediaan. Dalam artikel ini saya akan membahas garis besar tentang sistim pencatatan dan metode persediaan yang lazim digunakan oleh Entitas.

Dalam sistem pencatatan persedian terdapat dua teknis pencatatan yang terkait dengan sistem pencatatan persediaan, yaitu sistem periodik dan perpetual. Kedua sistem pencatatan ini pada setiap perusahaan mungkin berbeda-beda. Karena sistem pencatatan ini digunakan sesuai dengan jenis usaha yang dilakukan. Saat pencatatan persediaan perusahaan juga menentukan biaya dari persediaan tersebut menggunakan dua metode yaitu FIFO dan Average.

Sistem Persediaan Dalam Akuntansi

Sistem Persediaan Perpetual
Dalam sistem persediaan perpetual, setiap pembelian dan penjualan barang dagangan dicatat pada akun persediaan. Sehingga jumlah barang dagangan yang tersedia untuk dijual dan jumlah yang telah dijual secara terus-menerus tercantum dalam catatan persediaan. Dan Perusahaan bisa melihat secara update berapa nilai Persediaan yang tercantum pada buku besar persediaan dengan jumlah kuantiti persediaan yang ada di gudang.

Sistem Persediaan Periodik
Dalam sistem persediaan periodik (berkala), catatan persediaan tidak memperlihatkan jumlah yang tersedia untuk dijual atau yang telah dijual sepanjang tempo itu. Namun perhitungan fisik atas persediaan yang masih bersisa pada akhir periode akuntansi (physical inventory atau stok opname) dipersiapkan pada akhir tempo. Ia berguna untuk menentukan biaya harga pokok dari barang dagangan yang tersedia pada akhir tempo dan harga pokok Penjualan selama periode berkenaan.

Metode Persediaan Dalam Akuntansi

FIFO
Metode masuk pertama keluar pertama (first in first out– FIFO) adalah metode pencatatan persediaan yang mengasumsikan persediaan yang pertama masuk akan dijual atau dikeluarkan terlebih dahulu dan persediaan yang masuk terakhir akan dikeluarkan dikemudian hari. Artinya persediaan yang pertama kali dicatat saat penjualan adalah persediaan yang pertama kali masuk. Nilai persediaan yang disajikan di Laporan Posisi Keuangan yang menggunakan metode FIFO. Sangat relevan karena nilai persediaan yang disajikan adalah nilai berdasarkan harga yang paling terkini.

Average
Metode rata-rata tertimbang adalah metode yang digunakan untuk menghitung biaya perunit persediaan berdasarkan rata-rata tertimbang dari unit yang serupa pada awal periode dan biaya unit yang dibeli selama suatu periode. Cara yang digunakan untuk menghitung biaya persediaan dengan metode ini adalah membagi biaya barang yang tersedia untuk dijual dengan unit yang tersedia untuk dijual maka akan mendapatkan hasil biaya rata-rata perunit. Setelah biaya rata-rata tersebut ditemukan maka persediaan akhir dan beban pokok penjualan dapat dihitung dengan dasar harga rata-rata tersebut.

Demikian tentang persediaan secara garis besar tentang pengakuan dan pengukuran nya dalam akuntansi, semoga sobat akuntansi dapat mengerti setelah membacanya. Sedangkan untuk proses audit subtantif persediaan, sobat akuntansi dalam melihatnya DISINI.

Strategi Mencegah Masalah Perpajakan Dari Segi Akuntansi

Pajak adalah kewajiban warga negara yang harus diurus dan dilunasi pada periode tertentu agar tidak menyebabkan masalah dalam hidup. Pada kenyataannya, tidak ada orang yang suka di audit dan membayar tagihan pajak selama bertahun-tahun.

Konsekuensi-konsekuensi yang mungkin dialami oleh para wajib pajak yang tidak mau di audit dan tidak membayar pajak antara lain penyitaan dan kurungan penjara. Berbagai risiko sebaiknya dihindari dengan banyak cara, salah satunya adalah membangun kebiasaan baik dari sekarang dan mengetahui hal-hal yang berisiko untuk dilakukan.

Beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mencegah masalah perpajakan sebagai berikut.

1. Harus Teliti terhadap Rincian Usaha
Untuk profesi tertentu yang memperoleh pemasukan secara tunai seperti pelayan, bartender, penata rambut atau profesi yang memiliki pembukuan berbeda atau khusus seperti dokter, pengacara, atau akuntan umumnya lebih rentan terhadap audit.

Orang-orang dengan profesi seperti itu harus selalu teliti dengan segala rincian kegiatan usaha sehingga harus mencatat segala sesuatu yang terjadi agar terhindar dari kesalahan. Para wirausahawan juga rentan terhadap audit, khususnya para pemilik perusahaan yang baru berdiri.

Perusahaan yang baru berdiri lebih rentan terkena masalah daripada perusahaan yang sudah lama. Para auditor atau pihak yang menyelenggarakan audit lebih suka menyelidiki perusahaan kecil dan baru sehingga para pebisnis atau pemilik perusahaan harus menjaga kredibilitas dan tidak melakukan kesalahan fatal.

2. Jelaskan Segala Sesuatu Secara Lengkap
Catatan keuangan yang rentan terkena masalah tentu saja harus di antisipasi oleh perusahaan. Bagian keuangan khususnya para akuntan harus mempersiapkan semua hal yang dapat digunakan untuk menjelaskan nya.

Pakailah bukti keuangan seperti nota, catatan pengeluaran, dan bukti apapun yang ada untuk menjelaskan hal-hal tertentu yang mungkin dianggap tidak wajar. Penjelasan yang masuk akal akan mengatasi berbagai kecurigaan yang muncul sehingga terhindar dari masalah.

3. Ketahui Pertanyaan-Pertanyaan yang Mungkin Muncul
Beberapa hal yang mungkin dicari tahu dan dipertanyakan dalam audit perpajakan adalah pengeluaran, pendapatan, aset, keuntungan, dan berbagai pengeluaran seperti perjalanan, konsumsi, dan hiburan. Catatlah semuanya dengan jelas dan tidak mencurigakan agar perusahaan atau bisnis tidak terkena masalah.

4. Ketahui Waktu atau Periode Pelaporan Pajak
Tepat waktu adalah kunci utama agar terhindar dari masalah perpajakan. Kemungkinan mendapatkan masalah semakin kecil jika melapor pajak sebelum tenggat waktu. Ingatlah, kewajiban membayar pajak tepat waktu jauh lebih penting dan baik untuk dilakukan.

5. Hitung Semuanya secara Akurat
Jangan pernah merasa mahir berhitung karena berhitung dengan kalkulator jauh lebih akurat. Setelah itu, periksa ulang semua yang sudah tercatat. Berhati-hatilah karena jumlah uang yang dilaporkan harus sesuai agar tidak timbul keraguan tentang keaslian data.

6. Cantumkan Jumlah atau Nominal Secara Pasti
Untuk hal-hal yang berhubungan dengan keuangan, terutama pajak maka sangat tidak disarankan untuk membulatkan angka. Tulislah jumlah uang apa adanya secara pasti dan jelas agar auditor tidak mencurigai adanya kecurangan.

Pada saat pihak tertentu seperti auditor sedang mencari kesalahan maka hindari celah sekecil apapun yang memiliki kemungkinan menjadi masalah. Agar terhindar dari masalah sebaiknya jawab setiap pertanyaan yang ada dan isi setiap ruang kosong, meskipun hanya dengan tanda strip atau angka nol.

Kemungkinan terjadinya masalah perpajakan bisa terjadi kapan saja tanpa disadari. Perusahaan harus selalu siap menghadapinya karena pajak itu harus selalu dibayar. Simpanlah catatan yang lengkap dan terstruktur sehingga pihak auditor bisa meyakini suatu usaha benar-benar bersih dan tidak ada yang harus disembunyikan.

Mengurus pajak memang terkadang menjadi masalah sendiri dalam kelangsungan bisnis. Perhitungan pajak yang cukup memakan banyak waktu akan membuat operasional bisnis sobat akuntansi tidak efisien jika dilakukan secara manual.
 
Copyright © 2020 INFO AKUNTAN

Powered by Aditya Tarigan